Sebagai calon sarjana Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi jurusan Jurnalistik, aku kadang masih bingung untuk membedakan antara Pers dan Penyiaran. Semasa awal perkuliahan di jurusan yang katanya “jurusan berat” karena sedikit mahasiswa yang bisa lulus tepat waktu (tidak sedikit pula yang gugur di tengah perjalanan), pers secara luas diartikan sebagai lembaga yang menjalankan kegiatan jurnalistik. Sebaliknya, secara sempit, pers langsung saja didefinisikan sebagai persuratkabaran. Hubungan antara dua definisi itu, mungkin karena produk kegiatan jurnalistik; yaitu kegiatan mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan informasi yang memiliki nilai-nilai berita melalui media massa kepada masyarakat;  pada masa-masa awal kelahirannya masih menggunakan teknologi mesin cetak. Sedangkan hari ini, produk jurnalistik disebarkan melalui serat-serat kabel optik yang tertanam di tanah atau menumpang gelombang wi-fi tempat data bisa disalurkan dan diterima oleh perangkat penerima data. Tentang Penyiaran, aku juga tidak banyak tahu, walau tidak jarang berlagak sok tahu. Yang aku tahu penyiaran merupakan teknologi yang di dalamnya ditumpangi oleh materi-materi jurnalistik dan tidak semua isi penyiaran dipadati oleh materi jurnalistik. Hal ini serupa dengan surat kabar sebagai medium produk jurnalistik yang isinya tidak hanya materi-materi jurnalistik, tapi juga iklan, cerita pendek, cerita bersambung, kolom jodoh, iklan berkedok berita (advertorial), dan lainnya.

Pada titik ini terdapat kesamaan antara surat kabar dan penyiaran, yaitu tempat produk jurnalistik disebarluaskan. Perbedaannya adalah jenis teknologi yang digunakan. Sedangkan kaitannya dengan pers adalah bahwa pers sebagai lembaga yang mewadahi kegiatan jurnalistik, menggunakan berbagai medium untuk menyebarkan produknya, baik itu berbentuk barang cetakan, atau materi siaran, atau perpaduan materi itu yang sekarang lazim ditemui di laman web. Untuk sementara, itu simpulan, pengategorian, atu pengotakkan yang kuyakini. Mungkin berubah nanti seiring perkembangan teknologi. Atau bahkan simpulanku itu melenceng karena sebenarnya aku tidak melek dengan perkembangan teknologi teranyar yang terus mencari bentuk terefisiennya.

Kristalisasi pikiran yang nampak sederhana itu, mungkin dapat dilacak kembali pada berbagai tulisan yang berkaitan dengan pers dan penyiaran seperti terpapar dibawah ini.

  1. Penyiaran Kembali Dirampas Negara
  2. Dari Revolusi, Monopoli Ideologi, ke Konglomerasi: Sekilas Sejarah Penyiaran di Indonesia
  3. Siaran Telepon: Sekilas Sejarah Awal Penyiaran
  4. Layu Sebelum Berkembang: Masa Awal Kelahiran Komisi Penyiaran Indonesia
  5. Sistem Pers Apa dan Kebahagiaan Siapa
  6. Schramm yang “Agen Intelijen”, Empat Teori Pers yang Menyublim, dan Sistem Pers yang Relevan 
  7. Propaganda, Kuasa, dan Pengetahuan: Genealogi Ilmu Komunikasi di Indonesia (Suatu Penelusuran Awal) – Ignatius Haryanto
  8. Tentang Wartawan Profesional
  9. Buruh Pabrik Media
  10. Merumuskan Kembali UU Pers No. 40 Tahun 1999
  11. UU Pers, Produk Kepentingan Penguasa