Search

Catatan Calon Wartawan

Berbagi tentang komunikasi, media, dan juga keseharian

Category

Reportase

Tulisan-tulisan yang berada pada kategori ini merupakan hasil reportase yang dilakukan untuk memenuhi tugas mata kuliah, seperti Reportase, Penulisan Feature Cetak, Penulisan Berita Medalam

Nasionalisme, Dulu dan Sekarang

“Bangsa itu adalah suatu persatuan perangai jang terdjadi dari persatuan hal-ichwal yang telah didjalani oleh rakjat itu. Nasionalisme itu adalah suatu itikad; suatu keinsjafan rakjat, bahwa rakjat itu ada satu golongan, satu bangsa ! “ (Otto Bauer, dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”, Soekarno)

“Tidak adalah halangannja Nasionalis itu dalam geraknja, bekerdja bersama-sama dengan Islamis dan Marxis. Nasionalis jang sedjati, jang tjintanya pada tanah-air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwajat, dan bukan, semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka, – nasionalis jang bukan chauvinis, tak boleh tidak, haruslah menolak segala faham pengtjualian jang sempit budi itu. (Soekarno – “Di Bawah Bendera Revolusi”)

Melihat sejarah perjuangan Indonesia tak pernah lepas dari apa yang disebut sebagai Nasionalisme. Mendengar kata Nasionalisme juga tidak bisa lepas dari tokoh nasionalisme itu sendiri, Bung Karno. Nasionalisme yang ‘diusung’ oleh mantan presiden pertama Indonesia, Presiden Soekarno, yang pada waktu itu berusaha menyatukan Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme (Nasakom) untuk menyatukan kekuatan melawan kapitalisme dan imperialisme penjajah.

Nasionalisme yang semakin hari semakin dimakan zaman, digerogoti oleh perkembangan zaman dan kebudayaan, telah sampai pada titik kronis di mana sudah sangat jarang sekali generasi muda memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap nasionalisme. Itu merupakan salah satu indikasi yang menyebabkan keadaan negara Indonesia yang semakin carut marut.

Globalisasi yang sekarang ini sudah mulai dijalankan di berbagai belahan dunia pernah disebutkan oleh Soekarno sebagai Neo-Imperialisme, Imperialisme yang dibungkus dengan label globalisasi. Penetrasi budaya yang terjadi di era globalisasi ini mempengaruhi pola pikir dan pola hidup hampir seluruh lapisan sosial yang ada di negara ini. Selain itu pengaruh asing juga membuat negara kita semakin kehilangan jati dirinya yaitu Pancasila. Pancasila sebagai falsafah negara telah ditinggalkan oleh negaranya. Pancasila hanya dijadikan wacana di sekolah-sekolah saat upacara bendera tanpa tahu apa arti, makna, dan penerapannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah Pancasila masih relevan, bisa diterapkan di era yang global ini? Mungkin bukan Pancasilanya yang salah, tapi manusia-manusia Indonesianya yang hidup sekarang ini yang terlena dengan tawaran-tawaran dari produk globalisasi.

Maka dari itu kita perlu mempelajari kembali apa itu yang disebut sebagai Pancasila? Dan salah satu caranya adalah mempelajari sejarahnya. Mempelajari sejarah sangat penting untuk koreksi ke depan. Tapi kita jangan juga terlalu percaya pada sejarah karena ada sejarah yang ditulis berdasar atas kekuasaan, kekuasaan yang dapat saja memutarbalikkan fakta sejarah. Maka kita harus memilah-milah mengetahui betul sumber-sumber yang patut dijadikan acuan sejarah.

Untuk mengetahui fakta sejarah sebenarnya maka diadakan wawancara dengan pelaku sejarah perjuangan kemerdekaan di wilayah Sumatera Utara, Muharram Suryanto yang akan membagikan sekelumit pengalaman perjuangan kepada Ahmad Denoan Rinaldi dan untuk membantu menemukan dan membangkitkan kembali makna nasionalisme yang hampir mati ditelan zaman. Lahir di Bojonegoro, 5 Mei 1931 dan dibesarkan di Rantauprapat, tempat ia melakukan perjuangan. Penganut paham Soekarnoisme ini sempat putus sekolah untuk terjun ke medan perang. Tapi dua tahun kemudian ia melanjutkan sekolahnya kembali. Berikut wawancara yang dilakukan di kediamannya yang asri.

Kenapa negara kita jadi kacau balau begini ?

Kalau menurut saya, oleh karena orang mengingkari pancasila. Pancasila itu tidak dijalankan sebagaimana mestinya.karena pancasila itu sendiri puncaknya kan Ketuhanan Yang Maha Esa, nah itu tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadikan masyarakat kita itu rancu dalam pengamalan nasionalisme sendiri.

Bagaimana dengan intervensi budaya asing?

Itu pasti ada. Kalau kita bicara nasionalisme, kita tidak bisa lepas dari ajaran Soekarno. Dia memberikan tiga Trisakti yaitu “Berdikari”, lantas berkebudayaan, dan…….aduh maklum sudah tua jadi mudah lupa. Jadi yang penting pelajari saja Trisakti yang diajarkan Soekarno. Itu mengenai kebudayaan. Tapi dalam Islam itu ada konteksnya. Ada satu filosofi yang mengatakan begini, pada zaman sebelum nabi Sulaiman itu ada pengadilan. Pengadilan yang memanggil seekor harimau yang dituduh membunuh, lalu dia bersumpah bahwa dia tidak melakukan itu dan kalau ia melakukan itu ia besedia dihukum pada abad kelimabelas Islam nanti. Di sana akan ada dengan apa yang disebut penetrasi kebudayaan. Anda sudah pernah membaca ‘Camkan Pancasila?, kalau belum berarti anda belum mengerti apa arti sesungguhnya nasionalisme. Anda tahu nation itu apa? Nation itu bangsa, bukan negara. Sedangkan negara itu state. Definisinya apa? Perkumpulan suatu individu-individu (masyarakat) yang memiliki latar belang dan tujuan yang sama serta diatur oleh Undang-undang. Nah dari situ kita bisa menggali arti nasionalisme yang terkait dengan butir-butir Pancasila, bagaimana caranya bernegara, berkebangsaan.

Kalau menurut anda matinya nilai-nilai Pancasila itu sendiri kenapa, apa dari kesadaran bangsa Indonesianya sendiri, atau penhgaruh dari luar?

Karena kita itu sudah menjadi materialistis. Kita mendewakan materi dan memburu harta. Tidak peduli dari mana harta itu datang. Kita lupa mengenai nilai-nilai luhur kemanusiaan itu sendiri. Semuanya diukur dari materi, orang dihormati karena mobilnya mewah, karena rumahnya banyak, dan sebagainya. Seperti di zaman Soeharto disebutkan bahwa kemajuan sudah sampai ke desa-desa. Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Kemajuan yang seperti disebutkan zaman Soeharto itu membuat orang desa kebanyakan memakai jeans dan jeans itu kan buatan Amerika. Lantas produk jasa kecantikan yang menawarkan perubahan fisik menjadi lebih baik yang membuat orang menjadi konsumtif itu merupakan dari penetrasi kebudayaan.

Jadi itu merupakan suatu kemunduran atau kemajuan?

Kalau dari nasionalisme itu jelas suatu kemunduran yang sangat jauh.

Berarti secara tidak langsung mengesankan bahwa globalisasi berdampak buruk pada nasionalisme itu sendiri!

Kalau mengenai globalisasi itu ada dua kubu sekarang, yang pro dan kontra. Tapi satu saja saya tanya mengenai globalisasi, kalau pom bensin di Indonesia boleh dikelola oleh orang luar bagaimana? Seperti yang sekarang sudah ada di Tangerang, Shell. Coba bagaimana? Anda mau kemana cari makan jika semua sektor kehidupan sudah dikuasai pihak asing? Pengacara luar bebas bekerja di sini. Maka ada pertentangan mengenai globalisasi, seperti di Amerika lain yang tidak setuju diadakannya globalisasi. Jadi globalisasi menurut Bung Karno disebut sebagai neoimperialisme, imperialisme baru. Jadi imperialisme yang dibungkus dengan istilah globalisasi. Itulah globalisasi. Tapi kalau dari segi nasionalisme sudah bertentangan karena nasionalisme mempunyai ciri-ciri khas. Iya kan? Maka tidak bisa disamakan jiwa kita dengan jiwa dengan orang cina, jiwa kita dengan jiwa orang Amerika, dan lainnya karena kita memiliki batasan cultural sendiri.

Kalau menurut anda, masih adakah nasionalisme sekarang?

Oh..masih. hanya generasi muda sekarang itu sudah terkikis nasionalismenya. Tapi tidak semua. Makanya ada pesan ‘jangan sekali sekali meninggalkan sejarah’ karena sejarah itu memberikan gambaran kepada kita apa yang telah kita perbuat sebagai bangsa. Jadi kalau kita meninggalkan, melupakan, tidak peduli pada sejarah itu sama saja seperti kita tidak mengenal siapa orang tua kita, mengapa saya ada. Sudah pernah membaca buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’? jadi kalau anda mau tahu dan paham arti nasionalisme, bacalah rujukan buku yang tepat Seperti buku yang berjudul ‘Camkan Pancasila’?

Hubungan nasionalisme dengan ideologi-ideologi lain yang pernah masuk ke Indonesia?

Nasionalisme itu kan milik suatu bangsa, Cuma untuk memperkaya wawasan ilmu dari luar itu kan tidak semuanya jelek. Bahkan terakhir ada studi yang mengatakan bahwa orang-orang komunis itu sendiri belum tentu ia mengerti marxisme dan marxisme itu bukan komunis. Itu adalah ilmu. Hanya, dimanipulasi oleh orang seperti Lenin contohnya. Marxisme itu menunjukkan bahwa dalam tatanan hidup sosial itu adanya pertentangn kelas antara si kaya dan si miskin oleh karena ketidaksesuaian system. System yang salah sebenarnya. Seperti yang terjadi di negara kita, systemnya yang salah, sehingga timpang antara si miskin dan si kaya. Kenapa? Karena Pancasila tidak dipakai. Pancasila itu kan antara lain membahas kerakyatan dan keadilan sosial, dan itu harus diterapkan. Tapi keadilan sosial itu kan tidak ada sekarang.

Kalau dihubungkan antara Pancasila dan demokrasi, masih relevan tidak?

Oh…Pancasila itu demokrasi kok. Kerakyatan itu kan demokrasi.

Tapi demokrasi itu membuat suatu pemerintahan seperti tidak berwibawa dihadapan rakyatnya!

Oh tidak juga. Itu makanya dalam demokrasi Pancasila ada yang namanya musyawarah mufakat yang diutamakan, bukan lima puluh tambah satu. Kalau limapuluh tambah satu belum tentu benar. Suara bisa dibeli kan? azas demokrasi liberalis kan seperti itu. sedangkan Pancasila tidak menginginkan itu. pancasila mengutamakan musyawarah mufakat. Jadi seperti pepatah dari Padang yaitu ‘bulat kata karena sependapat bulat air karena jatuhnya dari tugu air.

Mengapa orang Filipina lebih menghargai demokrasi dibanding Indonesia ?

Karena orang Filipina terakhir dijajah oleh Amerika. Amerika negara kaya. Amerika punya tambang, perkebunan bagus, dan sebagainya. Orang Indonesia dijajah Belanda. Belanda itu negerinya toidak punya sumber alam. Jadi mereka mengeruk semua sumber daya alam yang ada di bumi Indonesia. Sama halnya dengan Jepang, hanya yang satu itu fasis, pemaksaan, dan sebagainya. Kekerasan-kekerasan diterapkan.

Suasana saat anda berjuang di daerah anda?

Zaman penjajahan umumnya di daerah kami, di Sumatera Utara, perkebunan. Jadi perkebunan itu dihuni oleh orang-orang kontrak yang berasal dari Jawa. Itu memang diperas tenaganya dengan gaji sebesar Rp 7,5,- perbulan ditambah gula, ikan asin, minyak tanah. Itu menggunakan system kontrak yang umumnya per tiga tahun. Makanya Belanda juga supaya orang Jawa yang kontrak di sana betah, dia buka lapangan perjudian supaya orang kontrak ini berjudi. Dengan berjudi uang yang mereka pertaruhkan pasti habis dan mau tidak mau mereka tidak pulang.

Apakah ada perlawanan dari ‘orang kontrak’ tersebut terhadap pemerintahan Belanda?

Tidak. Mengapa? Karena memang ‘orang kontrak’ ini butuh penghidupan sedangkan di Jawa kan sudah sempit lahan untuk mencari sumber penghidupan. Maka dibuat oleh Belanda lapangan pekerjaan dengan membawa ke Sumatera Utara sebagai pekerja perkebunan. Oh iya! Mengenai perlawanan, itu ada satu dua perlawanan yang dikoordinir tapi tidak secara terang-terangan karena dulu ada yang namanya PID (Polici Indichting Diens). PID itu mengawasi organisasi-organisasi masyarakat seperti Muhammadiah. Kalau ada orang Muhammadiah yang memberika pidato atau tabligh yang bernada keras terhadap Belanda, itu pasti ditangkap. Dalam PID itu yang dipakai adalah orang-orang kita juga. Sebenarnya tidak hanya di PID, tapi juga di organisasi tentara Belanda,KNIL.

Mengapa tidak diadakan perlawanan secara terbuka?

Perlawanan secara terbuka itu kalau salah persepsi kita disangka membela PKI. Padahal yang berani memberontak adalah PKI pada saat itu, tahun 1926. PKI memberontak melawan Belanda, akibatnya banyak yang dihukum gantung. Terutama timbulnya di Sawahlunto. Nah, kenapa Bung Karno tidak mau membubarkan PKI dan RIS? Karena Bung Karno berpandangan yang dulu melawan Belanda adalah orang-orang PKI yang digiring, dibuang ke Boven Digul dan sebagainya. Tapi PKI yang dulu itu asalnya dari Syarikat Islam. Oleh karena tidak ada satu wadah yang militant, mereka yaitu Alimin,dan Muso baru datang dari luar negeri termasuk Tan Malaka mereka mendirikan itu.

Kalau mengenai PKI yang melawan Belanda secara terang-terangan, itu mungkin memang karena mereka sudah bertentangan dari ideologinya!

Itu memang. Itu jelas. Tapi semua persoalan itu bertumpu pada keailan. Kalau keadilan itu ada, tidak akan ada pertentangan sosial. Apa sebetulnya definisi keadilan? Keadilan itu segalanya harus diletakkan proporsional. Kalau semua diletakkan proporsional, kata Plato, tidak akan ada pertentangan kelas. Cuma kalau perbedaannya Marhaenisme dengan Marxisme, Marxisme itu menganggap sama rata sama rasa, sedangkan Marhaenisme sama rasa sama bahagia. Artinya, kalau Marxisme itu memang mempertentangkan antara kelas atas dan kelas bawah agar pemimpin mendapatkan tempatnya sebagai pemimpin. Itu yang dimanipulasi oleh Lenin dan kawan-kawan. Jadi kalau sama rata sama rasa kan tidak mungkin, hanya jaga agar sistemnya jangan keadilan itu timpang, jangan sampai proporsional itu melenceng. Kalau Marhaenisme, sama rasa sama bahagia. Maksudnya, kalau kita jadi tukang sapu kita bisa makan pakai teri, tahu, nasi tidak kekurangan, seminggu sekali bisa makan ayam, membelikan pakaian anak walaupun tidak mahal Kalau kita pekerja bisa makan setiap hari itu sudah merasa bahagia. Jadi ikut merasakan dan ikut bahagia.

Tapi kenapa yang matinya malah marhaenisme?

Ya itu karena di lawan oleh imperialisme. Patrisi Mumba anda tahu? Dia itu pejuang Afrika Selatan sebelum Nelson Mandela. Satu angkatan dengan Bung Karno, Bhuto. Mereka semua mati dibunuh. Mereka yang ingin memulangkan harkat martabat sosialisme yang disesuaikan dengan keadaan tanah airnya. Tapi oleh Imperialisme? Ya itulah kerjaannya CIA. Dibuat sedemikian rupa, mereka dibunuh. Bhuto dibunuh, Bung Karno diasingkan dan mati tanpa diadili oleh Soeharto. Nah itu semua kaitannya antara sosialisme dengan imperialisme. Makanya nasionalisme itu tidak semudah menggambarkannya. Harus digali dan betul-betul diajarkan . sebenarnya itu semua kan tertuang dalam Pancasila sendiri. Itu nasionalisme yang benar. Tidak ada lagi permusuhan antar agama, suku. Coba anda bayangkan bagaimana Bung Karno dapat menyatukan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dapat berbahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. India yang sampai sekarang merdeka belum dapat menyatukan bahasanya, sehingga terjadi terus perang suku.

Jadi kesimpulannya?

Kalau kalian mau memantapkan nasionalisme, bacalah dan mengerti baik-baik Pancasila. Camkan Itu! Ini bukan suruhan tapi anjuran karena ini ilmiah dan bukan dogmatis. Sulahkan analisa dan keluarkan atau tanyakan hal-hal yang anda mau diskusikan.

Advertisements

Sastra Itu Bebas, Tapi Tidak Bebas Apresiasi

Sastra Indonesia dalam perkembangannya tidak luput dari masalah yang mengiringinya. Mulai dari masalah fenomena kritik sastra yang ditengarai telah menjadi sebuah krisis dalam perkembangan sastra Indonesia hingga masalah apresiasi sastra sebagai “titik awal” mencintai dan (mencoba) memahami karya sastra.

Persoalan apresiasi menjadi masalah mendasar selama ini. Bentuk-bentuk apresiasi yang dilakukan selama ini, terutama yang berkaitan dengan pengajaran sastra di sekolah, dirasa kurang dan menjadi faktor yang krusial bagi kehidupan sastra di Indonesia yang perlu dibenahi. Kenyataannya sekarang ini apresiasi yang diajarkan di sekolah tidak membuka ruang interpretasi, melainkan lebih menekankan pada pengahapalan nama-nama sastrawan, periodisasi karya sastra, dan sederet judul karya sastra. Siswa jarang, bahkan tidak diberi kesempatan untuk mendiskusikan karya-karya sastra sehingga siswa tidak dapat menghayati nilai sastra dan memberikan penilaian atau pemikiran mereka terhadap karya sastra itu.

Selama ini pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Umum (SMU) terpaku pada paradigma penekanan pada linguistik, yaitu ilmu tentang bahasa, ke penekanan pada pengertian dan apresiasi sastra. Untuk menumbuhkan itu semua, tentulah dituntut penyelenggaraan pelbagai program yang kian terarah dan terfokus bagi tumbuhnya apresiasi siswa (atau masyarakat pada umumnya) terhadap karya sastra Indonesia. Tentu, semua itu mesti diupayakan dengan pelan, tetapi intens dan sinergis, yang melibatkan siswa dan guru untuk lebih terbuka menerima karya sastra sebagai karya yang mengandung banyak kemungkinan. Di sinilah, peran sastrawan sendiri menjadi krusial: bagaimana ia juga mesti menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses belajar-mengajar di sekolah. Menurut Sapardi Djoko Damono, peran guru sangat berpengaruh dalam hal pengajaran apresiasi sastra. Guru sastra harus memiliki kompetensi yang baik dalam mengajarkan ilmunya kepada muridnya.

“Tidak usah itu, tidak usah. Nanti kalau pemerintah turut campur malah repot. Biar saja sastra itu berjalan dengan sendirinya. Kalau pemerintah mulai turut campur nanti malah bikin susah orang. Ada aturan yang begini, begini, begini. Ndak boleh. Jangan. Nanti malah membatasi kebebasan orang berkarya. Toh kalau turut campur, pemerintah tidak kasih duit kan? Mana kasih duit pemerintah. Sastrawan bisa cari duit sendiri kok.”

Menururt Sapardi juga, pemerintah tidak usah turut campur dalam pengembangan dunia sastra di Indonesia. Dengan tidak turut campur berarti pemerintah telah membantu dunia sastra Indonesia menemukan jalannya sendiri. Bagi Sapardi, sastra memiliki fungsi penting dalam kehidupan. Karena itu apresiasi sastra harus dikembangkan agar para sastrawan terus berkarya dan karya sastra kian lestari. Sastra memiliki fungsi sebagai salah satu alat untuk mereproduksi nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.

Sapardi Djoko Damono yang merupakan dosen pascasarjana dan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia, terutama di bidang sastra. Penyair yang pernah di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat, ini telah banyak mengahasilkan karya sastra, diantaranya Duka Mu Abadi (1969), Mata Pisau dan Aquarium (1974), dan masih banyak lagi. Selain menulis karya sastra, dia juga menulis buku ilmiah, satu diantaranya Sosiologi Sastra : Sebuah Pengantar Ringkas (1978). Sebuah karya besar yang pernah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudul Perahu Kertas dan memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan kumpulan sajak Sihir Hujan, yang dibuatnya saat ia sedang sakit, memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia.

Berikut wawancara Ahmad Denoan Rinaldi dengan Sapardi Djoko Damono, setelah acara bedah buku “Malam Memeluk Intan” yang diadakan di aula B Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Wawancara dilakukan pada hari Minggu 18 Desember 2005 di ruang jurusan Sastra Indonesia.

Dalam seminar dan bedah buku”Malam Memeluk Intan”, bapak mengatakan bahwa sastra merupakan tanggapan evaluatif seseorang. Jadi seorang sastrawan dalam mengahasilkan karyanya di pengaruhi oleh latar belakang kehidupan, seperti latar belakang pendidikan, kelas sosial, dan sebagainya. Nah menurut bapak, sastra bapak ini mewakili golongan masyarakat mana?

Ya…golongan masyarakat saya. Saya tidak tahu golongan masyarakat mana. Mungkin tidak hanya di sini, di Philipina itu, yang menjadi sastrawan itu kebanyakan golongan menengah ke atas. Karena mereka dapat dengan mudah mengakses fasilitas untuk belajar seperti membeli buku, ke perpustakaan, dan sebagainya. Kelebihan materi pada masyarakat kelas menengah ke atas memang memberi kemudahan dalam belajar sastra, tapi tidak menutup kemungkinan memberi peluang untuk kelas-kelas yang lebih rendah.

Sekarang karya sastra di Indonesia dipenuhi oleh karya-karya seperti novel-novel chicklit. Menurut bapak, sastra Indonesia sekarang sedang bergerak ke arah mana?

Tidak ada kecenderungan aliran sastra mana yang sedang nge-trend atau maju bahkan mundur. Seperti karya Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, dan lainnya. Jadi masing-masing aliran sastra bergerak sendiri-sendiri. Tidak ada kecenderungan aliran sastra yang sedang boom. Kadang-kadang ada karya sastra yang banyak dibaca oleh berbagai golongan, tapi ada juga karya sastra yang dibaca pada kalangan terbatas.

Sastra yang disukai berawal dari opini umum sedangkan sastra yang baik itu yang bisa keluar dari opini umum. Menurut bapak bagaimana?

Oh…tidak. Bisa saja sastra yang baik, yang keluar dari opini publik, disukai orang banyak Seperti Saman, contoh karya sastra yang baik, sudah cetak ulang beberapa kali. Berarti laku kan? Bahkan lebih banyak daripada chicklit-chicklit yang sedang menjamur belakangan ini. Bukan hanya chicklit yang laku. Chicklit-chicklit juga tidak semuanya laku. Hanya beberapa saja, seperti Cintapuccino. Tidak ada itu aturan bahwa sastra yang disukai, yang sesuai dengan trend pasar, yang laku. Tergantung promosi dan memasarkannya pula. Jika ada buku baru dan pemasarannya baik, maka orang akan tahu….”oooo, ini ada buku baru toh”.

Seperti apa sastra yang baik?

Oh susah kalau mendefinisikan sastra yang baik. Sastra yang baik itu menempatkan ukuran-ukuran. Ukuran-ukuran itu kan pribadi. Jadi, kalau dalam ilmu sastra terdapat nilai-nilai yang dianut. Tapi kalau menurut saya pribadi, itu tergantung selera. Saya suka yang mana. Dan orang juga bisa memilih yang mana yang dia suka. “Saya suka ini, saya suka itu”, itu tidak berarti kita harus mengatakan untuk tidak kepada yang lain. Selera, itu sama sekali selera. Sulit ya, kecuali kalau sudah ada aturan-aturannya.

Apa yang harus dilakukan pemerintah agar sastra Indonesia bisa lebih dihargai oleh bangsanya sendiri?

Tidak usah itu, tidak usah. Nanti kalau pemerintah turut campur malah repot. Biar saja sastra itu berjalan dengan sendirinya. Kalau pemerintah mulai turut campur nanti malah bikin susah orang. Ada aturan yang begini, begini, begini. Ndak boleh. Jangan. Nanti malah membatasi kebebasan orang berkarya. Toh kalau turut campur, pemerintah tidak kasih duit kan? Mana kasih duit pemerintah. Sastrawan bisa cari duit sendiri kok.

Bukan itu pak, misalnya bentuknya dengan mengajarkan apresiasi sastra sejak masa sekolah.

Ooo ya, kalau itu iya. Tapi kan dalam pengertian itu tidak hanya sastra. Semuanya…ada bahasa, ada pengetahuan. Itu kan untuk pengetahuan. Tapi toh juga pemerintah bukan satu-satunya lembaga yang bisa melakukan itu kan? Swasta kan banyak. Banyak sekali pihak swasta yang membantu dalam bidang pendidikan maupun tidak.

Menurut bapak, pengajaran apreasiasi sastra di sekolah sudah sejauh mana?

Sebetulnya dalam hal ini guru yang sangat berpengaruh. Materi bagus tapi kalau gurunya tidak bisa apa-apa, ya mana bisa.

Tergantung kurikulum pengajaran sastra dari pemerintah juga?

Oh tidak. Kurikulum itu kan cuma membantu. Tidak pakai kurikulum kalau gurunya bagus, muridnya bisa berkembang. Tapi kalau gurunya tidak mampu apa-apa, tidak sampai ke mana-mana ilmunya. Karena kalau murid hanya disuruh membaca dan menghapal, buat apa fungsi guru?

Menurut bapak pribadi, fungsi sastra dalam kehidupan itu apa?

Jadi begini, sastra itu punya segala macam fungsi dengan apa yang dibutuhkan manusia. Sastra bisa menyelesaikan masalah, sastra bisa dipakai untuk dakwah, bisa dipakai untuk memrotes pemerintah, bisa dipakai untuk apa saja.

Jadi sastra merupakan alat kepentingan?

Apa saja yang kita inginkan. Misalnya kita mau memrotes pemerintah, maka kita bisa menulis puisi atau yang lain. Kita juga bisa memecahkan masalah keagamaan melalui sastra. Jadi fungsinya itu macam-macam, bisa menjadi media dakwah, media untuk protes, untuk hiburan. Jadi jangan membatasi bahwa sastra harus begini harus begitu.

Jadi bapak tidak setuju dengan kasus zaman dulu ada Manikebu (Manifesto Kebudayaan) dan Lekra (Lembaga Kebudayaan rakyat) yang mengotak-ngotakan sastra?

Saya kira Manikebo dan Lekra tidak mengotak-ngotakan sastra. Dalam pengertian mereka memiliki pengertian masing-masing. Ya boleh saja kan punya pendapat? Kalau kita punya pendapat sendiri kan juga boleh. Tapi jangan sampai melarang-larang, gitu lho. Itu masalah yang saya takutkan jika pemerintah turut campur. Pemerintah bisa saja melarang-larang. Seperti zaman dulu, Mochtar Lubis dilarang pada zaman Soekarno, Pramoedya dilarang pada zaman Soeharto.

Tadi disebutkan bahwa karya sastra terbentuk dari opini umum dan yang keluar dari opini umum, seperti sastrawan yang idealis atau pengamat sastra. Jadi apresiasi sastra juga dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu apresiasi dari publik dan apresiasi dari para pengamat?

Ya kira-kira seperti itu. Memang terdapat perbedaan dari dua kategori itu. Bisa saja publik mengatakan seperti ini sedangkan sarjana sastra atau pengamat mengatakan seperti itu. Itu sah-sah saja. Dalam menulis, terutama penulisan karya sastra, tidak usahlah terpaku pada ini, pada itu. Menulis ya menulis saja. Tinggal tergantung tujuannya mau menulis untuk apa. Sastrawan bisa menulis untuk cari duit, untuk memberikan dakwah, untuk memrotes, untuk memperbaiki bahasa. Tinggal pembaca yang menilai, senang atau tidak senang. Itu kan juga hak pembaca.

Kalau sastra juga dipakai untuk dijadikan alat reproduksi nilai-nilai, menurut bapak bagaimana?

Ooo pasti. Tadi kan sudah disebut. Seperti dalam agama, sastra dapat dijadikan alat dakwah. Contoh dalam pantun, terdapat pantun anak-anak, pantun moral, pantun adat, dan lain-lain. Dalam mereproduksi nilai-nilai tidak hanya sastra. Sastra hanya salah satu media untuk mereproduksi nilai-nilai. Masih ada media lainnya seperti televisi, koran, film, dan lainnya.

Kalau kita lihat dalam konteks di Indonesia, pengaruh sastra dalam perubahan nilai-nilai itu?

Di mana pun bisa.

Seperti novelnya Marquez yang turut menyadarkan masyarakat latin.

Siapa yang tahu? Siapa yang bilang? Dari sekian juta orang Brazil, siapa yang suka Marquez? Siapa yang membaca novelnya Marquez? Paling hanya beberapa orang.

Mungkin karena Marquez diapresiasi oleh masyarakat internasional lewat nobel.

Ya memang dia mendapatkan nobel dan katakanlah terkenal lewat nobel, tapi orang jarang yang membaca bukunya. Ia terkenal lewat nobel. Bagaimana masyarakat tahu. Orang hanya menghargai dia sebagai tokoh nobel. Begitu juga di Indonesia. Banyak buku diterbitkan dan dibeli oleh banyak orang. Seperti Pram yang kaya. Berapa orang yang beli bukunya Pram? Yang membeli banyak, tapi yang membaca? Karena membeli dan membaca itu berbeda. Dengan hanya membeli dan tidak membaca serta memahami isinya, apa itu yang disebut apresiasi? Membeli bukunya itu belum tentu membaca sekaligus paham. Jadi konsep “best seller” itu bohong. Buku yang terjual di pasar belum tentu dibaca dan dipahami.

Jadi perubahan nilai-nilai yang dihasilkan dari membaca tidak begitu saja terjadi. Butuh proses. Ide-ide yang terdapat dalam buku masuk melalui pemuka-pemuka masyarakat, dari situ perubahan atau perkembangan nilai-nilai berproses sehingga membentuk nilai-nilai baru pada masyarakat yang dipimpinnya.

Tadi secara tidak langsung bapak bilang, sarjana sastra yang jadi sastrawan harusnya jadi kritikus sastra.

Mereka kan dididik itu. Sewaktu sekolah tidak ada kan pelajaran membuat novel.

Jadi peran sarjana sastra untuk mengkritisi sastra yang telah ada?

Semua orang kan membutuhkan bahasa. Penguasaan mengenai bahasa merupakan bidang mereka. Tapi bagi saya dalam menulis karya sastra, tidak dituntut itu. Kecuali dalam penulisan disertasi, seperti yang terjadi di Amerika. Jadi ada disertasi yang dilakukan para dokter di sana yang menulis novel. Penulis itu kan profesi dan menulis itu bisa dipelajari, tergantung orang itu mau atau tidak belajar.

Kalau mengkritik lewat sastra, apakah efektif?

Oh iya. Seperti di koran ada anekdot, puisi, jurnalisme sastra. Mengritik tapi tidak secara langsung. Diumpamakan kalau dipukul kan lebih sakit lewat belakang kan daripada lewat depan. Sastra itu biasanya begitu, tidak langsung frontal, tapi lewat belakang.

Seperti Zarathustra – nya Nietzshe, orang tidak bisa membaca kebenaran di dalamnya, hanya bisa menganggap itu sebagai karya sastra.

Sastra juga begitu. Seperti kebenaran itu. Artinya….eee…maksud saudara, orang tidak bisa berpikir secara lain?

Maksudnya, orang tidak bisa membaca karya sastra sebagai hal yang lain.

Ya mungkin. Saya tidak tahu. Begini, kalau kita membaca sesuatu, baca saja seperti apa yang kita tangkap. Kan tidak semua karya sastra harus dibaca secara konteks serius. Kalau kita membaca untuk cari penghiburannya, ya baca saja sebagai hiburan. Misalnya kita baca Siti Nurbaya, kalau anak-anak muda yang baca yang dicari tidak jauh dari kisah percintaaannya antara Siti Nurbaya dengan Samsul Bahri. Tapi bagi pembaca yang serius, yang menarik mungkin bukan kisah cintanya. Bisa saja yang menarik mengenai Bangsa Belanda yang tidak suka pada Datuk Maringgih karena ia seorang yang memberontak terhadap Belanda. Nah, itu semua tergantung dari kita bagaimana dan dari mana sudut pandang kita membacanya. Tapi yang pasti ketika kita membaca apapun, pasti kita mendapatkan sesuatu walaupun kadarnya pada setiap orang berbeda-beda.

Seberapa penting apresiasi sastra dalam bentuk penghargaan bagi penulis dan pembacanya?

Tentu penting. Dalam masyarakat itu harus ada penghargaan terhadap semua profesi, dalam hal ini sastrawan atau penulis. Namun profesi itu tidak hanya diberi penghargaan secara materi, mereka juga butuh penghargaan secara moral. Selain itu mereka juga kebutuhan hidup, selama mereka bisa membiayai sendiri dari profesinya maka ia akan terus. Tapi jika tidak, mereka akan cari pekerjaan lain. Sastrawan untuk memenuhi kebutuhannya berharap agar karyanya bisa dijual. Selain itu yang lebih penting lagi apakah dia dihargai oleh masyarakat. Seperti Pram, jarang orang membaca bukunya, tapi orang hanya menghargai sosoknya. Berbeda dengan chicklit, hampir semua orang yang membaca bukunya, tapi mana ada orang yang mencari tahu siapa yang menulisnya.

Menurut bapak, sudah sejauh mana perkembangan sastra di Indonesia?

Sudah berkembang. Artinya, kalau saudara pergi ke toko buku sekarang, di sana pasti ada banyak buku sastra berjejer. Tidak seperti saya ketika saya seusia anda sekarang, saya tidak pernah melihat buku sebanyak itu. Satu penerbit saja bisa menerbitkan beberapa buku sastra. Dulu tidak tidak ada. Sekarang harga buku sebagian besar dapat dijangkau sehingga pasti ada yang membeli. Tapi apakah buku itu dibaca atau tidak, itu lain hal.

“Panasnya” Suasana di Pengadilan

Siang itu sekitar pukul dua belasan. Panas tuan matahari menghujam bumi dengan tegasnya. Panas mentari sama halnya dengan keadaan di Pengadilan Negeri kelas 1A Bandung yang saya kunjungi waktu itu, Rabu 28 November 2007. Setibanya di Pengadilan Jalan R.E. Martadinata itu saya disambut oleh pria berseragam oranye yang selalu mengalungkan pluit di lehernya. Yah, ia seorang tukang parkir.

“Mau sidang ‘A?” Tanya tukang parkir itu. “Ngga. Cuma mau liat-liat,” balas saya sambil melihat mimik si tukang parkir yang keheranan. Mungkin di benaknya berpikir bahwa saya kurang kerjaan. Kunjungan saya ke Pengadilan Negeri itu saya lakukan bukan untuk menjalani sidang untuk menjadi saksi atau terdakwa, tapi untuk memenuhi tugas mata kuliah Reportase, membuat pelaporan dalam bentuk deskripsi atas hasil kunjungan mahasiswa ke Pengadilan.

Lahan parkir untuk motor di luar areal Pengadilan, tepatnya di pinggir jalan, sudah hampir terisi penuh. Beruntung masih kebagian tempat untuk parkir. Setelah memarkirkan motor saya langsung menuju gedung pengadilan. Awalnya saya sempat bingung memikirkan saya masuk lewat mana. Masuk ke gedung yang besar atau bangunan yang lebih kecil di samping gedung besar itu?

Akhirnya saya memilih bangunan yang lebih kecil itu karena banya orang yang keluar masuk bangunan itu. Setelah saya masuki ternyata itu adalah ruang tunggu persidangan. Ruang tunggu tersebut terdapat akses untuk masuk ke ruang sidang IV di sebelah kanan pintu masuk dan ruang sidang V di sebelah kiri pintu masuk. Ruang tunggu itu memiliki lebar sekitar tiga per empat panjang lapangan bulu tangkis dan panjang satu setengah kali lapangan bulu tangkis. Terdapat beberapa kursi kayu yang memanjang di ruangan itu. Ada juga gantungan bingkai di dinding yang isinya mengenai tata tertib pengunjung di pengadilan. Selain itu juga terdapat bingkai pengumuman yang isinya skema penanganan kasus. Sepertinya, setiap orang yang terlibat dalam persidangan harus berpenampilan rapi karena di ruangan itu juga terdapat cermin seukuran badan yang di pojok kanan atas terdapat kertas tempel yang bertuliskan “Rapihkanlah penampilan anda”.

Setelah mengamati ruangan itu, saya beranjak untuk masuk ke ruang sidang V yang bernama ruang sidang Nakula. Di sana sedang berlangsung sidang. Namun orang yang ada di runag sidang tersebut, selain seorang hakim ketua, dua orang hakim anggota, dan seorang penuntut umum, sangat sedikit. Saya penasaran dengan kasus yang diperkarakan. Maka saya mencoba bertanya pada pengunjung lain. Ketika saya bertanya kepada ibu berjilbab, dia juga tidak mengetahui perkara apa yang sedang disidangkan. Saya berusaha membangun obrolan dengannya, namun nampaknya ia sedang gelisah dan terburu-buru. Setelah ditanya lebih lanjut ternyata ia kebingungan mencari ruang sidang yang memperkarakan kasus saudaranya. Ia harus hadir dalam sidang itu karena ia adalah saksi dalam kasus itu. Obrolan pun terhenti setelah ia beranjak untuk mencari ruangan lain. Saya pun beranjak ke bagian gedung lainnya.

Di ruang Sadewa, yaitu ruang sidang IV, kosong. Tidak ada kegiatan persidangan di sana. Saya pun beranjak masuk lebih dalam. Terdapat pintu lorong di sebelah kanan pintu masuk ruang Sadewa untuk masuk ke dalam. Setelah mengikuti arah lorong itu, saya menemukan terdapat lapangan bulutangkis dalam ruangan yang berada di tengah-tengah gedung. Di sekitarnya terdapat beberapa ruang sidang yang sedang penuh sesak, diisi oleh orang-orang yang sedang berkepentingan menjalani sidang. Ada yang sebagai saksi, keluarga terdakwa, ada juga yang hanya nimbrung menonton jalannya persidangan. Saya tahu bahwa terdapat juga beberapa yang hanya menonton karena ketika saya tanya tentang kasus yang sedang disidangkan ia menjawab tidak tahu. Setelah ditanya ternyata dia hanya menonton saja. Mungkin ia mengantar kerabatnya yang sedang berkepentingan dalam persidangan tapi bukan di ruangan itu persidangannya.

Pada bagian ujung sebelah kanan area pengadilan itu, terdapat dua ruangan yang diteralis berwarna hijau. Di ruangan mirip kerangkeng itu dipenuhi banyak orang. Laki-laki dan perempuan disatukan. Di luar teralis terdapat kerabat yang sedang berbicara dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Entah karena apa mereka di dalam sana. Tadi saya berniat untuk bertanya-tanya dengan petugas berseragam yang ada di pengadilan. Namun nampaknya mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Jalannya cepat seperti diburu sesuatu. Atau jika ada pegawai yang berdiri diam, tapi ia sedang melakukan pembicaraan serius dengan seseorang. Terlihat dari ekspresi wajahnya. Entah dengan siapa. Di sekitaran lapangan bulu tangkis dalam ruanagn itu juga terdapat ruang tunggu bagi wartawan. Namun sayangnya ruangan itu kosong pada saat itu jadi saya tidak bisa melakukan pembicaraan dengan para wartawan yang mencari berita hukum di pengadilan itu. Ada jug ataman yang mirip dengan lapangan golf mini dengan lubang untuk memasukkan bola golf di tengahnya. Entah untuk apa taman mirip lapangan golf itu.

Wah, ramai sekali pengadilan siang itu. Suasananya panas. Panas dalam arti sesungguhnya juga dalam arti kiasan. Suasananya panas mungkin juga karena emosi yang keluar ketika orang-orang itu melakukan persidangan. Suasananya juga mirip seperti pasar yang identik dengan keramaian dan transaksi jual beli. Terdapat tukang koran yang berjualan keliling, pedagang minuman. Mungkin juga terdapat jual beli hukum yang dilakukan oleh aparat hukum di sana dengan kliennya. Kebenaran diukur dengan sejumlah uang. Mungkin saja.

Wajah Baru, Cita-cita Baru Museum KAA

“Konsep tahun 2005 itu memadukan antara ruang pameran museum dengan konsep galeri yang bertumpu pada empat hal, yaitu rekreatif, persuasif, atraktif, dan komunikatif,” jelas Desmond S. Andrian S.s, staf seksi publikasi dan promosi nilai-nilai Konferensi Asia Afrika (KAA) mengenai pembaharuan konsep ruang pameran Museum KAA yang merupakan strategi untuk mempengaruhi dan menarik minat pengunjung, khususnya generasi muda, dengan cara memperbaharui konsep museum agar dapar menarik minat pengunjung.

Siang, sekitar pukul sebelas, itu sang raja cahaya bercokol di langit dengan gagahnya. Sinarnya yang panas menghujam bumi tanpa belas kasihan pada manusia yang tengah lelah bekerja menjalani hidup. Namun panasnya cuaca siang itu sangat bertolak belakang dengan keadaan ruang pameran Museum KAA yang sejuk karena telah dipasang mesin pengondisi udara (baca: air conditioner). Berbeda dengan sebelum tahun 2005, Museum KAA Jalan Asia Afrika nomor 65 Bandung, kini tengah dalam perjalanannya menuju museum bertaraf internasional.

Siang itu juga nampak sibuk Desmond yang mengenakan seragam hitam-hitamnya, mondar-mandir keluar masuk ruang pameran melayani pengunjung museum, baik itu perorangan maupun rombongan. Desmond merupakan staf seksi publikasi dan promosi nilai-nilai Konferensi Asia Afrika (KAA) yang sehari-harinya disibukkan untuk melayani kunjungan tamu museum. Memang ada beberapa staff yang bekerja tiap harinya, namun Desmond-lah yang bertugas dan memang cakap dalam melayani tamu. Keahliannya itu ditunjang dengan wawasannya yang cukup luas mengenai sejarah dan kemahiran berinteraksi dengan pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ruang pameran museum kini telah berubah total dari yang tadinya alakadarnya menjadi syarat teknologi. Alakadarnya dapat dilihat dari penataan ruangan yang seadanya, pencahayaan yang kurang, foto-foto yang ditampilkan hanya dengan ditempel pada sekat-sekat ruangan dalam ruang pameran, dan penampilannya yang bisa dibilang jadul alias jaman dulu. Penampilannya yang jadul itu mungkin yang menyebabkan kurangnya minat orang untuk berkunjung.

Setelah dilakukan perombakan konsep dan penataan ulang, ruang pameran Museum KAA kini berubah seratus delapan puluh derajat, jauh dari kesannya yang jadul. Tidak seperti sebelum renovasi dan penataan ulang, kini pencahayaan museum sangat baik. Selain itu foto-foto mengenai sejarah berukuran besar dipajang dengan dilapisi bahan seperi kaca dan disinari lampu kecil di atas masing-masing foto yang menimbulkan kesan mewah. Ruang pameran dirancang dengan gaya modern yang dapat menarik perhatian pengunjung.

Ruang pameran kini dilengkapi dengan fasilitas pengondisi udara dan fasilitas multimedia interaktif. Ruangan yang sejuk membuat pengunjung betah berlamBola Duniaa-lama di dalam ruangan. Semakin betah pengunjung, berkemungkinan semakin banyak informasi yang akan didapat. Terdapat alat pemutar film mengenai sejarah KAA yang dapat dioperasikan sendiri oleh pengunjung. Juga terdapat wahana multimedia interaktif yang memang dirancang bagi kemudahan pengunjung. Terdapat tiga wahana multimedia. Informasi yang disampaikan oleh masing-masing wahana multimedia itu berbeda-beda. Terdapat wahana multimedia yang berisi tentang sejarah KAA, Gedung Merdeka, dan Museum KAA itu sendiri. Ada juga yang berisi tentang profil dari negara peserta KAA dan biografi delegasi-delegasi KAA. Dan satu lagi berisi tentang peringatan-peringatan setelah KAA 1955.

Keadaan museum yang nyaman, modern, dan syarat teknologi ini berkat perbaikan dan penataan ulang yang dilakukan pada 2005 dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika 2005 dan Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika 1955 pada 22 – 24 April 2005, tata pameran Museum Konperensi Asia Afrika direnovasi atas prakarsa Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Dr. N. Hassan Wirajuda. Penataan kembali Museum tersebut dilaksanakan atas kerja sama Departemen Luar Negeri dengan Sekretariat Negara dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Perencanaan dan pelaksanaan teknisnya dikerjakan oleh Vico Design dan Wika Realty.

Pengunjung yang datang ke Musem KAA ini tidak hanya siswa-siswa, baik sekolah dasar maupun menengah, tapi juga dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, peneliti, wartawan, organisasi atau instansi asing, organisasi lokal, juga wisatawan dalam dan luar negeri. Selain itu, tamu negara juga menyempatkan berkunjung ke museum ini tiap tahunnya.

Tiap tahunnya, Museum KAA mengalami kenaikan jumlah pengunjung. Apalagi setelah mengalami renovasi dan pembaruan konsep. Menurut data pengunjung Museum KAA yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Republik, jika sebelum mengalami pembaruan Museum KAA dikunjungi oleh sekitar 30 ribu pengunjung dari sekolah menengah setiap tahunnya, namun tahun 2007 lalu jumlah pengunjung dari sekolah menengah sudah mencapai jumlah 40 ribu dengan penghitungan dari awal tahun hingga Juni saja. Dapat dibayangkan peningkatan pesat dari segi jumlah pengunjung.

Peningkatan jumlah pengunjung yang begitu pesat dapat diartikan sebagai keberhasilan Museum KAA untuk menarik minat sekolah-sekolah untuk mengunjungi dan mendapatkan pembelajaran di sana. Dari peningkatan tersebut, Museum KAA dengan mudah dapat mewujudkan misinya dalam menumbuhkan nasionalisme pada generasi muda Indonesia, selain mengembangkan kerjasama antar masyarakat negara-negara Asia Afrika.

Sekilas Sejarah Museum KAA

Pendirian dan penetapan Museum KAA merupakan tindak lanjut dari apa yang sudah dicapai melalui Konferensi Asia Afrika 24 April 1955. Konferensi tersebut melahirkan Dasa Sila Bandung yang kemudian menjadi pedoman bangsa-bangsa terjajah di dunia dalam perjuangan memperoleh kemerdekaannya dan yang kemudian menjadi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia. Kesuksesan konferensi ini tidak hanya tampak pada masa itu, tetapi juga terlihat pada masa sesudahnya, sehingga jiwa dan semangat Konferensi Asia Afrika menjadi salah satu faktor penting yang menentukan jalannya sejarah dunia.

Semua itu merupakan prestasi besar yang dicapai oleh bangsa-bangsa Asia Afrika. Jiwa dan semangat Konferensi Bandung telah berhasil memperbesar volume kerja sama antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika, sehingga peranan dan pengaruh mereka dalam hubungan percaturan internasional meningkat dan disegani.

Dalam rangka membina dan melestarikan hal tersebut, adalah penting dan tepat jika Konferensi Asia Afrika beserta peristiwa, masalah, dan pengaruh yang mengitarinya diabadikan dalam sebuah museum di tempat konferensi itu berlangsung, yaitu di Gedung Merdeka di Kota Bandung, kota yang dipandang sebagai ibu kota dan sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa Asia Afrika.

Sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M., sering bertemu muka dan berdialog dengan para pemimpin negara dan bangsa Asia Afrika. Dalam kesempatan-kesempatan tersebut beliau sering mendapat pertanyaan dari mereka tentang Gedung Merdeka dan Kota Bandung tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika. Berulang kali pembicaraan tersebut diakhiri oleh pernyataan keinginan mereka untuk dapat mengunjungi Kota Bandung dan Gedung Merdeka.

Terilhami oleh hal tersebut serta kehendak untuk mengabadikan Konferensi Asia Afrika, maka lahirlah gagasan beliau untuk mendirikan Museum Konperensi Asia Afrika di Gedung Merdeka ini. Gagasan tersebut dilontarkan dalam forum rapat Panitia Peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika (1980) yang dihadiri antara lain Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Haryati Soebadio sebagai wakil dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata gagasan itu mendapat sambutan baik, termasuk dari Presiden Republik Indonesia Soeharto.

Gagasan pendirian Museum Konferensi Asia Afrika diwujudkan oleh Joop Ave sebagai Ketua Harian Panitia Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika dan Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, bekerja sama dengan Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat, dan Universitas Padjadjaran. Perencanaan dan pelaksanaan teknisnya dikerjakan oleh PT. Decenta, Bandung.

Membangun Nasionalisme dan Kerjasama Antar Negara KAA

Awalnya Museum KAA didirikan hanya untuk mengabadikan hasil dari Konferensi Asia Afrika berupa nilai-nilai luhur Konferensi Asia Afrika. “Inisiatif mendirikan Museum KAA ini berasal dari Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M., dengan tujuan awalnya untuk mengabadikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Konferensi Asia Afrika dalam sebuah museum,” ungkap Desmond S. Andrian S.s, staf seksi publikasi dan promosi nilai-nilai KAA. Namun seiring dengan tuntutan zaman dan kepentingan zaman itu, maka terjadi perubahan orientasi dari sekedar mengabadikan nilai-nilai luhur KAA menjadi menyebarkan nilai-nilai KAA untuk membangun nasionalisme generasi muda Indonesia lewat pembelajaran sejarah. Selain itu juga mendukung pada tujuan politik luar negeri Indonesia. “Tujuan museum ini pada akhirnya akan mendukung kegiatan pendidikan terutama pembelajaran sejarah, mendukung berhasilnya kegiatan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, mendukung kegiatan pariwisata, dan menjadi pendukung untuk menumbuhkan bibit nasionalisme di kalangan generasi muda terutama pada saat ini di saat maraknya terjadi disintegrasi,” lanjut Desmond.

Untuk merealisasikan tujuan itu maka harus dilakukan strategi untuk mempengaruhi dan menarik minat pengunjung, khususnya generasi muda, dengan cara memperbaharui konsep museum agar dapar menarik minat pengunjung. Pembaruan dilakukan pihak museum pada 2005 sekaligus dalam rangka memperingati 50 tahun KAA. “Konsep tahun 2005 itu mamadukan antara ruang pameran museum dengan konsep galeri yang bertumpu pada empat hal, yaitu rekreatif, persuasif, atraktif, dan komunikatif,” jelas Desmond.

Selain perubahan konsep ruang pameran yang dilakukan pada 2005, museum KAA nantinya akan dijadikan museum bertaraf internasional. Hal itu telah disampaikan oleh Direktur Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri (Deplu), Umar Hadi, pada acara pengukuhan Sahabat KAA di kantor Deplu awal November lalu. Desmond selaku staf Museum KAA juga menjelaskan mengenai rencana pembangunan yang akan dilakukan pada 2008. “Yang ingin dikembangkan pada tahun 2008 adalah ruang pameran KTT KAA 2005. Hal itu merupakan permintaan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau menginginkan agar KTT KAA 2005 dimonumenkan. Nantinya perpustakaan yang sekarang iniakan dipindahkan ke belakang dan akan dibangun kembali sebuah perpustakaan modern yang dapat dialkses oleh tuna netra, penyandang cacat, ada hotspot, café, dan lainnya yang akan membuat perpustakaan menjadi nyaman untuk dikunjungi. Selain pembangunan perpustakaan, akan dibangun ruangan pameran KTT KAA 2005, dan ruangan identitas nasional,” jelas Desmond antusias.

Usaha Museum KAA dalam mencapai tujuannya memang dalam tahap perealisasian. Usaha yang dilakukan Museum KAA beserta dukungannya dari pemerintah merupakan langkah nyata dalam menjadikan Museum KAA sebagai wisata edukasi. Dapat dilihat dengan renovasi, pembangunan, perubahan konsep yang dilakukan untuk menarik minat pengunjung museum, khususnya generasi muda, agar tertarik untuk mengunjungi museum dan perpustakaan. Dengan meningkatnya minat generasi muda untuk megunjungi museum dan perpustakaan KAA, diharapkan akan meningkatkan nasionalisme mereka lewat pembelajaran sejarah dan bersama memajukan bangsa. Usaha itu patut diacungi jempol. Bukannya tidak mungkin tujuan luhur Nuseum KAA dapat teralisasi. Namun, apa yang dilakukan Museum KAA hanya merupakan salah satu faktor dalam mewujudkan tujuan berbangsa yang mulia. Masih banyak faktor-faktor lain yang harus diperhatikan dan dibenahi agar perwujudan tujuan itu akan menemukan jalannya. Perlu kerjasama dan pembagian kerja antar sektor seperti peninjauan kembali sistem pendidikan yang ada sekarang. Apakah sistem pendidikan yang sudah ada mendukung untuk membangun kesadaran nasionalisme? Apakah sistem perekonomian rakyat mendukung bagi mereka untuk menyekolahkan anaknya dan mendukung kecerdasan nasional? Apakah ekonomi negara mampu membiayai sistem pendidikan demi peningkatan mutu pendidikan? Masih terdapat beberapa hal lain yang harus dibenahi sebelum menuju tujuan mulia tersebut.

Niat Mengadu Nasib di Kota, Malah Diangkut

Malam itu, Kamis (15/11/2007), jalanan depan Gedung Sate, Bandung, belum kering akibat hujan. Hujan baru reda sore harinya. Belakangan ini hujan selalu mengguyur Bandung dari siang hingga menjelang malam. Seperti biasa, sore menjelang malam di trotoar depan Gedung Sate mulai dipenuhi para penjual yang menjajakan berbagai panganan malam dan minuman. Mulai dari nasi goreng, pecel, susu murni, hingga kerak telor betawi pun ada. Keberadaan mereka di pinggir-pinggir jalan menyemarakkan suasana malam depan Gedung Sate. Namun keberadaan mereka juga dianggap menodai kebersihan, keindahan, dan ketertiban (K3) kota Bandung. Karena dianggap mengganggu, maka mereka pun diburu oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang diberi tugas untuk menjaga kebersihan, keindahan, ketertiban kota Bandung.

Oyib (45) adalah salah satu dari sekian banyak pedagang asongan yang berjualan di Jalan Diponegoro, depan Gedung Sate. Pria asal Sindangjaya Garut ini, sudah empat tahun berjualan rokok dan minuman di depan Taman Lanjut Usia. Sebelumnya ia bekerja sebagai penjual buah dan sayuran di Cicadas. Setelah sekitar lima tahun ia berjualan di Cicadas, ia pindah ke Jalan Diponegoro untuk berjualan rokok dan minuman. Ia juga sempat berjualan jaket di Cicadas sebelum pindah, namun penghasilan yang didapatnya tidak cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga di kampung.

“Pertama saya datang ke Bandung, saya jualan buah…sekitar dua tahun. Terus saya jualan sayur…sekitar tiga tahun. Sempat jualan jaket dulu di Cicadas, baru saya pindah ke sini… kalau penghasilan sih tidak tentu. Tapi jualan rokok mending daripada jualan buah atau sayur”.

Penghasilan yang didapat dari berjualan rokok memang lebih baik dari berjualan sayur atau buah. Walaupun tidak menentu, pria yang memiliki lima anak ini, setidaknya mengantongi paling sedikit Rp 600.000 setiap bulannya. Paling besar ia pernah mengantongi tidak lebih dari Rp 800.000 setiap bulannya.

“Wah, nggak tentu de… Ya paling sekitar Rp 700.000 per bulan. Paling sedikit Rp 600.000. Yang paling gede Rp 800.000“.

Oyib mengaku bahwa penghasilannya berjualan rokok masih kurang mencukupi biaya kebutuhan keluarga. Untuk mencukupinya, untungnya ia masih memiliki tanah di kampungnya untuk digarap. Tanahnya di kampung digarap oleh tetangganya dan hasilnya dijual ke tetangga-tetangga dan ke pasar.

Walaupun penghasilannya lebih baik dibandingkan dengan penghasilan berjualan sayur, namun keadaan Oyib berjualan tidak sebaik penghasilannya. Sudah beberapa kali barang dagangannya “diangkut” oleh petugas Satpol. Ia juga sering diusir dari tempatnya berjualan. Keadaan itu merupakan hal yang lumrah dihadapi oleh Oyib.

Setiap barang dagangannya “diangkut” ia harus menebus sebesar Rp 80.000. Selain itu ia juga harus membayar semacam “retribusi” kepada petugas satpol berupa rokok sebungkus seminggu sekali. Namun, “retribusi” itu tidak menjamin barang dagangan Oyib jika dilakukan penertiban oleh petugas Satpol.

“Selama empat tahun di sini sudah empat kali diangkut. Terus, setiap minggu harus ngasih rokok sebungkus ke satpol. Ngasih mah ngasih, tapi kalau ada penertiban dia nggak bisa jamin. Cuek aja dia mah”.

Oyib hanya ingin dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang yang paling tinggi agar tidak seperti bapaknya yang serba susah.

“Mudah-mudahan anak-anak saya bisa sekolah sampai perguruan tinggi biar hidupnya lebih baik. Gak kaya saya”, tuturnya miris.

Kisah miris tidak hanya dialami Oyib tapi juga pedagang kaki lima lainnya, salah satunya adalah Hayat, penjual kerak telor Betawi di depan Gedung Sate. Hayat Sudrajat nama panjangnya. Masih belasan umur Hayat. Tepatnya tujuh belas tahun. Bulan Mei tahun sembilan puluh ia dilahirkan ibunya di dessa Boyongbong, Garut. Remaja dengan perawakan kurus pendek ini sangat menyukai pelajaran matematika dan agama saat ia masih bersekolah di bangku sekolah. Namun selepas lulus dari Sekolah Menengah Pertana (SMP), ia tidak melanjutkan sekolahnya. Malas katanya.

Hoream,,hoream mikir”, begitu tuturnya dengan mimiknya yang terlihat malas ketika mmbicarakan mengenai sekolah.

Hayat lebih memilih untuk ikut kakak iparnya berjualan kerak telor di depan Gedung Sate dibanding melanjutkan sekolah. Kemalasannya itu mungkin disebabkan karena kurangnya biaya sehingga membuatnya memutuskan untuk mencari sumber penghidupan di kota.

Menurut Hayat, terdapat sepuluh pedagang kerak telor di sekitar Gedung Sate dan Gasibu. Kesepuluh pedagang kerak telor itu berasal dari desa yang sama dengannya. Ia tidak tahu pasti sejak kapan para pedagang kerak telor sudah mangkal di sana. Yang jelas ia sudah berjualan di sana sejak umur lima belas tahun. Jadi sudah dua tahun ia berjualan kerak telor dengan kakak iparnya. Kakak iparnya pun tidak bisa memastikan kapan pedagang kerak telor mulai meramaikan trotoar depan Gedung Sate. Kakak ipar Hayat juga berjualan kerak telor karena meneruskan usaha orang tuanya. Sepertinya usaha kerak telor ini menjadi usaha turunan.

Hayat dan kesembilan kawan sekampungnya itu tinggal di “rumah” mereka yang terbuat dari terpal tenda di jalan Cilaki. Setiap pagi mereka membasuh tubuh mereka di WC umum yang ada di dekat lapangan Gasibu. Setelah itu beberapa dari mereka pergi berbelanja kebutuhan dagang di pasar dekat Pusdai. Kemudian ia bisa bersantai setelah mempersiapkan bahan-bahan yang sudah dibeli untuk berjualan nanti malam.

Menjelang sore, sekitar pukul empat, Hayat dan kawan-kawan sekampungnya mulai membawa pikulan dagangannya menyebar ke sekitar trotoar depan Gedung Sate. Setiap malamnya Hayat bisa menjual lima sampai tujuh porsi kerak telor. Namun dengan hasil penjualannya itu, ia tidak mendapatkan untung yang niatnya ia tabung. Hasil jualan yang hanya tujuh porsi itu hanya bisa dipakai untuk biaya hidup sehari-hari dan belanja bahan-bahan untuk membuat kerak telor. Tiap porsinya Hayat menjual dengan harga Rp 7.000,-. Berbeda dari tahun lalu yang hanya dijual seharga Rp 5.000,-.

Memang sulit hidup di kota. Jualan bukan untuk mendapat untung, tapi hanya bisa untuk bertahan hidup. Namun adakalanya ia tertipa rezeki. Pernah ia diundang oleh seseorang untuk berjualan di pusat perbelanjaan Ciwalk. Pada saat itu sedang liburan setelah lebaran dan di Ciwalk tengah diadakan acara selama satu minggu. Dagangannya laris manis, laku hingga mencapai seratus porsi.

Momen yang paling ditunggu-tunggu olehnya dan kawan-kawannya pedagang kerak telor ialah pada saat Pekan Raya Jakarta yang biasanya diadakan selama satu bulan. Ia pergi ke Jakarta untuk berjualan kerak telor selama satu bulan penuh. Tidak hanya dengan sembilan kawannya sesama penjual kerak telor di sekitar trotoar depan Gedung Sate, tapi berbondong-bondong warga kampungnya pergi ke Jakarta untuk berjualan.

Biasana mah nganggo tilu truk jeung tilu bus. Tilu truk jeung pikulan dagang, tilu bus jeung jalmina”, tuturnya dengan antusias.

Namun sedihnya, pendapatannya membaik ketika terdapat acara besar saja. Pada hari-hari biasa Hayat hanya bisa menggunakan pendapatannya hanya untuk biaya hidup saja. Parahnya lagi, keadaan mereka berjualan dihantui oleh perasaan dag dig dug, cemas terkena pembersihan Pedagang Kaki Lima (PKL) oleh Satpol PP. Pernah pikulan dagang Hayat ingin diangkut petugas Satpol. Namun ia berhasil meloloskan diri dengan pikulannya yang mudah sekali dibawa-bawa, juga dibawa lari. Repot bagi mereka yang menggunakan tenda sebagai sarana untuk berdagang jika ada pembersihan. Mereka yang berjualan menggunakan tenda sudah pasti kena angkut. Dan jika sudah kena angkut maka harus membayar pengadilan sebesar Rp 80.000,- dan menebus tendanya sebesar Rp 100.000,-.

Fungsi Perda K3 Tidak Efektif

Fenomena PKL selalu menjadi masalah laten di setiap kota-kota besar. PKL dan gelandangan seakan tidak bisa lepas dari geliat kehidupan kota. PKL dan gelandangan merupakan dampak dari pembangunan yang tersentralisasi. Pembangunan yang tersentralisasi itu membuat warga di desa yang tidak tersentuh pembangunan beranjak untuk mencari peruntungan hidupnya di kota. Berhamburanlah orang-orang desa di kota. Orang-orang desa semakin menambah padatnya penduduk kota. Akibat padatnya penduduk di kota dan terbatasnya lahan pekerjaan, maka timbullah lahan-lahan pekerjaan baru di sektor informal, seperti pedagang kaki lima contohnya.

Semakin bertambahnya sektor informal tersebut membuat tata kota menjadi terganggu, khususnya mengganggu keindahan, kebersihan, dan ketertiban. Pemerintah menganggap bahwa penyebab gangguan terhadap keindahan, kebersihan, dan ketertiban ini adalah para pelaku sektor informal ini. Maka diberlakukanlah Perda No. 11 tahun 2005 tentang keindahan, kebersihan, dan ketertiban pada November 2006. Perda yang disahkan pada akhir 2005 itu sampai sekarang belum terlihat efeknya terhadap keberadaan PKL. Mereka tetap ada. Lalu mengapa fenomena ini tetap terjadi walaupun sudah diberlakukan peraturan yang mengatur tentang K3? Salah PKL atau Perdanya?

Pemerintah daerah seperti enggan introspeksi terhadap masalah ini. Pemerintah daerah memang sengaja menutup mata terhadap akar permasalahannya. Penetapan dan pemberlakuan Perda K3 ini seperti menepuk bayangan sendiri yang tidak menghasilkan apa-apa selain kesia-siaan.

Pembangunan yang diidentikan dengan kemajuan ternyata malah menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kehidupan rakyat. Penekanan pemerintah terhadap pembangunan yang terpusat di wilayah perkotaan menimbulkan kecemburuan yang akhirnya tercipta berbagai masalah sosial. Salah satunya adalah masalah kemiskinan.

Kemiskinan di pedesaan membuat penduduk daerah berbondong-bondong datang ke kota untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Namun pada akhirnya, keberadaan mereka di kota malah mendapatkan perlakuan yang represif dari pemerintah karena dianggap menggangu keamanan, kebersihan, dan kenyamanan kota.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: