J

udul         : Kalimat Jurnalistik: Panduan Mencermati Penulisan Berita
Penulis     : A.M. Dewabrata
Penerbit  : Penerbit Buku Kompas, 2004
Tebal         : xx + 204 halaman

Bahasa ragam jurnalistik yang baik ditengarai dengan kalimat-kalimat yang mengalir lancar dari awal hingga akhir, menggunakan kata-kata yang merakyat akrab di telinga masyarakat sehari-hari, serta tidak menggunakan susunan kaku, formal, dan sulit dicerna.

Hal di atas dinyatakan pada bagian sampul belakang buku yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Penulis buku ini,  A.M. Dewabrata, merupakan wartawan Kompas sejak 1975 setelah sebelumnya membuat laporan berita di Harian Pedoman pimpinan oleh Rosihan Anwar yang dibreidel pada 1974 pada masa Tragedi Malari (15 Januari). Yang menarik dari buku ini ialah penerbitnya yang tergabung ke dalam Kelompok Kompas Gramedia, media massa cetak nomor satu di Indonesia. Nama penulisnya dapat dikatakan bukan tokoh yang mencuat di dunia jurnalistik sehinga yang membuat menarik dari buku ini ialah penerbitnya yang merupakan bagian dari kelompok media massa paling terkemuka di negeri ini.

Penulisnya merupakan wartawan senioryang sudah mengabdikan dirinya pada dunia jurnalistik melalui Kompas selama sekitar 29 tahun. Maka pengalaman yang begitu panjang itulah yang membuatnya dapat memahami mengenai seluk beluk bahasa jurnalistik atau kalimat jurnalistik. Selain itu ia juga memelajari secara otodidak tentang teori-teori bahasa jurnalistik dari literatur-literatur  asing (yang mungkin tersedia atau disediakan di perpustakaan Kompas) mengenai pedoman dalam menulis berita seperti karya Arthur Plotnik yang berjudul ”Elements of Editing — A Modern Guide for Editors and Journalist”, karya Daryl L Frazell yang berjudul “Principles of Editing”, dan karya-karya lainnya.

Dalam menyampaikan materinya, penulis banyak memberikan contoh pelanggaran kalimat jurnalistik yang terjadi pada berita yang sudah dipublikasikan media massa, terutama Kompas. Banyaknya contoh yang diberikan dapat memudahkan pembaca dalam mengerti materi yang disampaikan.

Materi-materi yang disampaikan penulis merupakan hal-hal yang telah dikuasai penulis melalui pengalamannya sebagai wartawan yang sudah sangat matang. Hal tersebut terlihat dari kritik dan koreksi yang disampaikan penulis melalui bukunya ini. Penulis tidak segan mengritik kesalahan penulisan kalimat jurnalistik yang terjadi pada media massa tempat ia mengabdi. hal ini dapat menjadi kelebihan sekaligus kekurangan. Kelebihannya, ia berani mengungkapkan kesalahan yang terjadi di media massa tempat ia bekerja. Kekurangannya, referensinya hanya terbatas pada media Massa tempat ia bekerja saja. Ia luput untuk membandingkan dengan media massa lainnya yang sejenis.

Secara keseluruhan buku ini patut untuk dijadikan rujukan bagi para wartawan dan calon wartawan sebagai upaya koreksi terhadap laporan yang pernah dibuat. Buku ini juga berguna sebagai penambah khasanah literatur mengenai bahasa jurnalistik di Indonesia di mana bahasa jurnalistik sudah menjadi ragam bahasa tersendiri seperti yang dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  Edisi Ketiga bahwa terdapat empat macam ragam bahasa, yaitu ragam bahasa undang-undang, ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa sastra, dan ragam bahasa jurnalistik.

Pengalaman sang wartawan senior sangat berguna bagi perkembangan ragam bahasa jurnalistik di Indonesia.