Penyiaran selalu diidentikkan dengan radio dan televisi. Bahkan karena keidentikkannya dan kemelekatannya antara penyiaran dengan radio dan televisi, maka penyiaran seringkali langsung didefinisikan sebagai radio atau televisi. Maknanya hanya tinggal dipertukarkan antara dua istilah itu. Namun jika melihat fungsi radio secara umum sekarang ini sebagai sarana penghantar siaran hiburan musik, warta berita, atau pendidikan, kegiatan siaran ini sudah hadir sebelum ditemukannya perangkat radio yang menggunakan gelombang elektromagnetik. Briggs dan Burke (2006: 179) mencatat bahwa pada akhir abad 19, fungsi radio yang seperti ini telah diaplikasikan melalui teknologi komunikasi sebelumnya, telepon. Telepon digunakan untuk suatu forum pendengar yang terpisah-pisah dan bukan komunikasi antar individu yang bersifat titik demi titik, antara satu orang dengan satu orang lainnya. Mereka juga mencatat bahwa di Hongaria penggunaan telepon sebagai hiburan sangat berkembang dengan Theodore Puskas sebagai pengembangnya.

 Theodore Puskas Theodore Puskas

Pada 1893 Puskas meresmikan suatu layanan Hirmondo Telefon di Budapest yang menawarkan pada para langganan apa yang akhirnya merupakan sistem siaran radio pertama di dunia. Dengan memberikan kepada para langganannya kawat-kawat panjang yang lentur dan dua buah alat pendengar yang bulat dan licin di rumah mereka, ia menyajikan suatu hal-hal yang dapat didengarkan para pelanggan seperti warta berita dan ringkasan isi surat kabar, laporan pasar bursa, ‘kuliah-kuliah’, berita olahraga, dan acara-acara opera. Terdapat juga acara mingguan untuk anak-anak, dan pendidikan bahasa Inggris, Italia, dan Prancis (Briggs dan Burke, 2006: 180). Dalam mengembangkan Hirmondo Telefon, Puskas yang pernah bekerja untuk perusahaan, dibantu oleh temannya yang cemerlang Nikola Tesla, seorang perintis listrik dan perintis penggunaannya.

Hirmondo Telefon

Pada awal kelahirannya, radio[1] justru tidak berperan seperti Hirmondo Telefon. Marconi yang dikenal sebagai penemu radio[2] justru melakukan percobaan (mencoba-coba) dan uji lapangan terhadap radio untuk kepentingan perkapalan (militer dan transportasi) seperti yang dilakukan Popoff di Rusia. Marconi tidak memiliki visi tentang radio sebagai alat untuk menyebarluaskan berita. Bahkan ia juga tidak pernah menggunakan istilah ‘radio’ (Briggs dan Burke, 2006: 187-8). Oleh karena itu, McQuail (1987: 15) menyebut bahwa penemuan radio ini pada mulanya merupakan teknologi yang mencari kegunaan, bukannya sesuatu yang lahir sebagai respon terhadap suatu kebutuhan pelayanan baru.

Namun dalam perkembangannya, radio yang mengadopsi fungsi-fungsi teknologi komunikasi terdahulu seperti telegraf dan telepon, “menemukan” fungsi-fungsi lainnya. Radio kemudian disebut sebagai telegraf nirkabel karena mengadopsi fungsi telegraf namun tanpa menggunakan kabel. Radio juga mulai masuk ke rumah tangga – rumah tangga di Amerika pada awal 1910-an, lalu kemudian digunakan untuk tujuan-tujuan militer pada awal abad 20. Sejarah radio berikutnya merupakan sejarah persaingan bisnis dan persaingan mendapatkan paten antar pengusaha radio (waktu itu masih dinamakan telegraf atau telepon nirkabel), juga perlawanan para pemilik radio amatir atas monopoli pemerintah serta persinggungan antara spektrum radio pertahanan (militer) dengan radio swasta.[3]

Penemuan teknologi komunikasi tanpa kabel ini, mendorong penemuan teknologi yang lebih mutakhir. John Logie Baird di Inggris dan Vladimir Zworkyn, seorang berkebangsaan Rusia yang pindah ke Amerika, adalah orang-orang berjasa yang menemukan sistem lensa kamera yang menjadi cikal bakal kelahiran televisi. Pada 1926, John Lagie Baird mendemonstrasikan untuk pertama kali gambar televisi di hadapan anggota The Royal Institution di laboratoriumnya di Frith Street.  Tahun 1936 kemudian berdiri stasiun televisi pertama di Alexander Palace, Inggris (Briggs dan Burke, 2006: 213-217).

Mengenai sejarah radio dan televisi ini, Raymond Williams yang dikutip McQuail (1987: 15-7) juga menyatakan hal yang serupa. Ia menyatakan bahwa radio dan televisi berbeda dengan jenis teknologi komunikasi terdahulu, radio dan televisi merupakan sistem yang dirancang terutama untuk kepentingan transmisi dan penerimaan yang merupakan proses abstrak. Radio pada mulanya hanya suatu teknologi biasa, sedangkan televisi dipandang sebagai “barang mainan” daripada suatu penemuan serius atau sesuatu yang memberikan sumbangan terhadap kehidupan sosial. Dalam hal ini, radio dan televisi lahir memanfaatkan media sebelumnya  seperti media cetak, film, dan rekaman musik. Radio dan televisi mulai dirasakan berfungsi efektif untuk pelayanan publik ketika ia mampu menyajikan informasi dan oengamatan kejadian secara langsung dari lokasi peristiwa. Dalam sejarahnya, radio dan televisi diwarnai ketatnya peraturan, pengendalian, dan pemberian izin oleh penguasa negara yang semula didasari pertimbangan kepentingan dari aspek teknis, kemudian berkembang menjadi kepentingan negara, masalah pembiayaan, dan akhirnya sebagai sebuah kebiasaan melembaga dalam negara. Hal ini terjadi karena radio dan televisi semakin memiliki fungsi politis dan ekonomis yang menyebabkan hubungan sangat erat dengan kepentingan penguasa negara dan kapitalis.

Daftar Pustaka

Briggs, Asa dan Peter Burke. 2006. Sejarah Sosial Media: Dari Guttenberg sampai Internet. Jakarta: YOI.

McQuail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Masa: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga


[1] Pengembangan radio merupakan sejarah awal telekomunikasi nirkabel sekaligus puncak dari sejarah komunikasi abad 19. Sains di belakang nirkabel memiliki sejarah yang panjang. Seorang ilmuwan Inggris, James Clerk Maxwell (1831-1874) yang telah memformulasi pada 1864 persamaan matematis mendasar yang berkenaan dengan bidang elektromagnetik.  Maxwell menggunakan matematika untuk meramalkan bahwa terdapat gelombang yang mengarungi angkasa tanpa sarana penghantar  yang kecepatannya sama dengan kecepatan cahaya, meskipun tidak dapat dilihat atau dirasakan. Teori ini baru dibuktikan kebenarannya setelah Maxwell wafat oleh ilmuwan Jerman Heinrich Hertz (1857-1894). Oliver Lodge-lah (1851-1940) yang mendemonstrasikan gelombang-gelombang Hertzian di The Royal Institution pada 1895 yang kemudian gelombang tersebut disebut sebagai gelombang elektromagnetik dan kemudian digunakan Marconi untuk sistem radionya (Briggs dan Burke, 2006: 186).

[2] Guglielmo Marconi merupakan seorang berkebangsaan Italia yang datang ke London pada Pebruari 1896 dengan seperangkat alat tanpa kabel dan kemudian mendirikan perusahaan Wireless Telegraph and Signal Company pada 1897. Terdapat pula para perintis radio di negara-negara lain seperti A.S. Popoff (1859-1906) di Rusia, Edouard Branly (1844-1940) di Prancis, dan Augusto Righi (1850-1920) di Italia, sehingga ketika Marconi (1871-1937) tiba di Inggris pada Juni 1896 untuk mendemonstrasikan  apa yang dinamakannya “perbaikan dalam mentransmisikan impuls dan tanda-tanda listrik”, seorang penulis dalam The Quarterly Review menilai bahwa ‘Mr Marconi hanya memperkenalkan suatu cara lain untuk melakukan apa-apa saja yang telah dilakukannya di masa lalu’ (Briggs dan Burke, 2006: 187).

[3] Terdapat ungkapan menggelitik mengenai perlawanan pihak militer terhadap Perusahaan Marconi yang mendapat ‘Lisensi Umum’ dari kantor Pos melalui Wireless Telegraphy Act pada 1904 di Inggris. Wireless Telegraphy Board yang di dalamnya terdapat perwakilan militer yang kuat, menyatakan bahwa “siaran-siaran yang dilakukan Perusahaan Marconi tidak hanya menganggu pesan-pesan pertahanan, tapi juga mengubah arti nirkabel itu, yang semestinya menjadi ‘abdi umat manusia’ menjadi ‘sebuah mainan untuk menghibur anak-anak’”. Atas nasehat militer ini, izin siaran pun dicabut. Lebih jelas mengenai sejarah radio, lihat Assa Briggs dan Peter Burke. Sejarah Sosial Media: Dari Gutenberg sampai Internet, 2006, hal. 186-200.