Pers merupakan sebuah wadah yang di dalamnya terdapat kegiatan jurnalistik yang berfungsi untuk menyebarkan informasi, mendidik, menghibur, dan mempengaruhi. Kegiatan jurnalistik tersebut teraplikasi dalam suatu lembaga kemasyarakatan yang disebut media massa. Berdasarkan sejarah pers yang dimulai sejak zaman Julius Caesar di Roma, terdapat empat landasan bagi media massa yang juga merupakan teori-teori pers atau sistem pers itu sendiri. Teori-teori pers itu terdiri dari pers otoritarian, libertarian, tanggung jawab sosial, dan soviet-totalitarian. Pers yang berada di bawah naungan negara membuat sistem pers bergantung pada kebijakan negara tersebut mengenai pemberitaan. Seperti yang terjadi di Sovyet pada abad 19, ideologi negara yang cenderung totalitarian membuat pers-nya hanya menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk mewujudkan keberhasilan dan kelanjutan sistem sosialis dan terutama bagi kediktatoran partai.

Media massa adalah wadah bagi masyarakat untuk saling bertukar informasi dan berkomunikasi yang sejatinya merupakan perpanjangan dari kebutuhan manusia yang paling esensial. Berkomunikasi merupakan hak asasi setiap individu, setiap warga masyarakat dalam sebuah negara. Dengan adanya media massa, maka kebutuhan untuk berkomunikasi dapat terpenuhi. Media massa juga berperan dalam membentuk masyarakat yang ideal harmonis. Menurut Astrid Susanto dalam Filsafat Komunikasi (1996:16), masyarakat yang ideal harmonis dan adil dapat tercapai apabila pendapat, norma-norma dalam masyarakat diarahkan kepada harmonisasi, sifat-sifat khas dari materi publisistik (misalnya media massa) dipergunakan sesuai dan demi perwujudan harmoni dalam masyarakat.

Masyarakat harmonis adalah masyarakat yang bahagia. Terdapat keterkaitan antara sistem pers yang dengan konsepsi kebahagiaan dalam masyarakat. Sistem pers yang diharapkan ialah sistem yang dapat membantu terbentuknya masyarakat yang harmonis, seperti yang dituliskan di atas. Namun permasalahannya adalah kita belum memahami betul mengenai konsepsi kebahagiaan itu. Apakah kebahagiaan itu? Lalu, seperti apa masyarakat yang harmonis, masyarakat yang bahagia itu? Sebelum membahas keterkaitan itu, ada baiknya menjabarkan ciri umum masing-masing teori pers dan lalu hubungannya dengan konsepsi kebahagiaan dalam masyarakat.

Teori-teori Pers

Pers Otoritarian berkembang di Inggris pada abad 16 dan 17. Teori ini muncul dari kekuasaan monarki absolut, kekuasaan pemerintah absolut, atau keduanya. Tujuan utama dari teori ini ialah mendukung dan memajuka kebijakan pemerintah yang berkuasa. Media massa pada teori atau sistem pers ini diawasi melalui paten dari kerajaan atau izin lain yang semacam itu. Dan yang berhak menggunakan media ialah siapa saja yang memiliki izin dari kerajaan. Kritik terhadap mekanisme politik dan para penguasa sangat dilarang. Pada sistem pers otoritarian media massa dianggap sebagai alat untuk melaksanakan kebijakan pemerintah walaupun tidak harus dimiliki pemerintah.

Sama dengan sistem pers otoritarian, sistem pers libertarian juga berkembang di Inggris namun setelah 1688. Sistem pers libertarian kemudian berkembang di Amerika Serikat. Sitem pers ini muncul dari tulisan-tulisan Milton, Locke, Mill, dan filsafat umum tentang hak-hak asasi dan bertujuan untuk memberi informasi, menghibur, dan berjualan juga membantu menemukan kebenaran dan mengawasi pemerintahan. Pada sistem pers ini siapa saja dapat menggunakan media asal memiliki kemampuan ekonomi. Media diawasi dengan proses pelurusan sendiri untuk mendapatkan kebenaran dalam pasar ide yang bebas serta melalui pengadilan. Yang dilarang pada sistem pers ini adalah penghinaan, kecabulan, dan kerendahan moral. Lembaga media massa dimiliki oleh perseorangan sehingga bisa saja terjadi monopoli lembaga media massa. Media massa pada sistem ini adalah alat untuk mengawasi pemerintah dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun belakangan yang terjadi pada media massa adalah pencarian keuntungan yang sebesar-besarnya dan masyarakatlah yang menjadi korbannya.

Sistem pers tanggung jawab sosial berkembang di Amerika Serikat pada abad 20. Muncul dari tulisan W.E. Hocking, Kominsi Kebebasan Pers, para pelaksana media, kode etik-kode etik media, sistem pers ini bertujuan untuk memberi informasi, menghibur, dan berjualan. Tujuan sistem pers ini hampir serupa dengan sistem pers libertarian, namun sistem pers ini menekankan pada pengangkatan konflik sampai tingkat diskusi. Siapa saja berhak menggunakan media. Media diwasi melalui pendapat masyarakat, tindakan-tindakan konsumen, etika kaum professional. Penyerangan terhadap hak-hak perorangan yang dilindungi dan terhadap kepentingan vital masyarakat merupakan hal yang dilarang pada sistem pers ini. Mengenai pemilikan lembaga media, pemerintah menekankan pada pemilikan peorangan. Namun pemerintah dapat mengambil alih demi kelangsungan pelayanan terhadap masyarakat. Pada sistem ini media harus menerima tanggung jawabnya terhadap masyarakat dan jika tidak, harus ada pihak yang mengusahakan agar media mau menerimanya.

Sistem pers Soviet Komunis atau Soviet-Totalitarian berkembang di Uni Sovyet walaupun ada beberapa persamaannya dengan yang dilakukan Nazi dan Fasis di Italia. Sistem pers ini muncul dari pemiliran Marxis-Leninis-Stalinis dengan campuran pemikiran Hegel dan pandangan Rusia abad 19. Tujuan utama dari sistem pers ini adalah memberi sumbangan bagi keberhasilan dan kelanjutan sistem sosialis Sovyet dan terutama bagi kediktatoran partai. Penggunaan media hanya boleh diakses oleh anggota-anggota partai yang loyal. Hal-hal yang dilarang adalah kritik terhadap tujuan partai yang dibedakan dari taktik-taktik partai. Pada sistem pers ini, media massa adalah milik negara dan media sangat dikontrol dengan ketat semata-mata dianggap sebagai tangan-tangan negara.

Konsepsi Kebahagiaan dan Sitem Pers

Di dalam bukunya Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Dani Vardiansyah menuliskan bahwa konsepsi kebahagiaan didefinisikan sebagai rancangan dalam diri seseorang dalam upaya memperoleh kebahagiaannya di berbagai bidang kehidupan. Dapat dikatakan juga bahwa konsepsi kebahagiaan adalah konsep diri seseorang menyangkut kriteria kebahagiaan dirinya. Maka dari itu tidak terdapat konsepsi kebahagiaan yang sama pada individu dalam suatu masyarakat. Tidak tolak ukur yang pasti mengenai konsepsi kebahagiaan ini.

Karena manusia sadar akan perbedaan konsepsi kebahagiaan mereka, bahwa ukuran kebahagiaan mereka tidak sama maka pada saat itu terbentuklah motif komunikasi yang salah satunya tertuang melalui media massa sebagai alat komunikasi pemenuh naluri dan kebutuhan kebahagiaan.

Komunikasi dan arus informasi pada media massa dapat berjalan lancar sesuai keinginan rakyatnya jika tidak ada yang menguasai media tersebut. Penguasaan media tersebut hanya akan menjadi tirani dan alat kepentingan bagi penguasanya. Pada tiap-tiap sistem pers terdapat penguasa bagi media massa itu sendiri. Yang disebut sebagai penguasa bisa negara atau perorangan yang memiliki modal. Pada sistem pers otoritarian dan Sovyet-Totalitarian terdapat satu penguasa, yaitu negara. Negara menjadi penentu arah pemberitaan di media massa. Seperti yang telah dituliskan di atas, sistem pers otoritarian dan Sovyet-Totalitarian merupakan kepanjangan tangan dari penguasa negara itu.

Begitu juga yang terjadi pada sistem pers libertarian dan tanggung jawab sosial. Tujuan utamanya adalah menghibur dan berjualan. Dengan dalih membantu menemukan kebenaran dan mengawasi pemerintahan, media massa pada sistem ini hanya mencari keuntungan sebesar-besarnya karena tujuan sebenarnya adalah pengakumulasian modal sehingga keuntungan besar dapat diraih dan ekspansi ke wilayah bisnis lain yang serupa.

Pada sistem-sistem pers di atas terdapat konsepsi kebahagiaan hanya bagi kalangan tertentu, kalangan atas, kalangan borjuis. Namun kebahagiaan rakyatnya tidak masuk hitungan. Masyarakat hanya jadi objek eksploitasi para penguasa dan pemilik modal untuk memenuhi kepentingannya, kebahagiaan para penguasa dan pemilik modal.

Januari 2007