Kebebasan datang begitu tiba-tiba. Sekonyong-konyong…seketika. Berita kebebasan itu membuat saya terhenyak. Memukul saya telak. Banyak orang mendambakan kebebasan. Kebebasan yang melegakan. Tapi bagi saya kebebasan, merupakan ancaman. Saya diancaman bebas. Bebas dari tuntutan ikatan. Apapun ikatan. Ikatan keduniawian. Ternyata saya masih butuh ikatan. Apapun ikatan. Ikatan keduniawian.

Saya masih lemah. Tidak seperti manusia super yang bebas dari Tuhan. Manusia lemah. Manusia super. Salut untuk manusia super karena keberanian. Salut juga untuk manusia lemah karena telah berusaha hidup sampai akhir dan karena kerendahatian.

Ancaman kebebasan datang membawa awan. Awan mendung mengandung janin hujan. Hujan mulai rintik perlahan. Hingga akhirnya tak bisa ditahan. Hujan. Hujan. Hujan. Hujan reda,pulih duka. meretas luka.

Bebas tinggal kata. Tanpa makna. Saya tidak memilih bebas. Saya butuh keterikatan. Tubuh inipun terikat. Terikat dengan sebuah norma alam. Saya bebas nanti. Setelah raga tak bisa melanjutkan usia.

Bebas hanya di angkasa. Di bumi kita berusaha. Di bumi kita terpenjara. Terpenjara norma. Penjara dunia.

Manusia bebas hanya ada di angkasa, ketika manusia tutup usia. Maka saya memilih penjara, saya memilih dunia, saya memilih norma, saya memilih Dia.

November 2008