Akhir Juni lalu, banyak yang datang. Bukan teman, kerabat, atau sejawat. Bukan pula berkah atau anugerah. Tamu tak diundang itu adalah masalah yang juga dikenal atau a.k.a (as known as) musibah. Memang tamu tak diundang datangnya tanpa salam pembuka dan pergi tanpa pamit. Tapi tak apalah pergi tanpa pamit, daripada ia tidak pergi-pergi…

Setiap manusia memiliki masalahnya masing-masing. Berat ringannya tergantung manusia yang mengalaminya sesuai dengan latar belakang pengalaman hidupnya. Jadi pandangan antara satu orang dengan yang lainnya terhadap satu masalah, pasti berbeda, walaupun sedikit. Nah, jadi (lagi) kita jangan semena-semena menilai permasalahan yang dialami Dudung atau Dadang atau Dedeng sebagai suatu yang remeh. Misal, si Dudung memiliki suatu permasalahan yang menurutnya cukup pelik dan ia menceritakan permasalahannya pada teman dekatnya, Nitnit. Setelah mendengar semua cerita Dudung tentang masalahnya, Nitnit pun berkomentar, “Ah, gitu doang kok jadi ribet. Itu mah tinggal lu bla blab la…..”. Nitnit memandang bahwa masalah yang dihadapi Dudung adalah masalah yang remeh. Namun di mata Dudung masalah itu cukup menyita perhatian dan perasaannya. Kemudian Nitnit memberikan solusi praktis yang dengan ringan keluar dari mulutnya. Namun bagi Dudung tetap saja, hal itu sulit untuk dilakukan. Itu tadi ilustrasi bahwa penilaian berat ringan masalah yang dihadapi seseorang berbeda dari orang lainnya…

Kembali lagi pada curhatan saya setelah agak jauh melangkah… Jadi di sore akhir Juni lalu saya mencoba menghilangkan penat dengan berkendara roda dua yang masa cicilannya baru memasuki bulan ke tujuh. — Masih cukup panjang memang masa cicilannya. Yah, orang kere seperti saya ini selalu jadi objek eksploitasi dan korban bagi mereka yang kuat yang menetapkan kebijakan ekspansi kredit agar produk-produk mereka laku keras di pasaran — Entah ada Bahorok apa sampai saya niat berkendara untuk menghilangkan badai di kepala. Biasanya saya hanya tidur seharian dan menyusun kartu di layar monitor komputer. Namun sepertinya badai di kepala mengamuk parah sehingga memporakporandakan konstruksi ketenangan dan kebahagiaan hidup saya sehingga saya memerlukan metode lain untuk meredakan badai itu. Biasanya paham Biarinisme saya anut dan praktekkan untuk menghadapi kasus itu. Tinggal tunggu waktu, badai pun pasti berlalu. Kali ini paham itu sudah ketinggalan zaman, basi, out of date¸dan perlu di-update­ dengan update-an yang baru yaitu JJS-isme alias Jalan-jalan Soreisme. Saya engkol tuas starter satu kali dan bbbrrrreeeemmm. Si Jupi (biasa saya memanggil motor cicilan saya) pun langsung menyala. Maklum, karena motor baru maka mesinnya masih tokcer. Sengaja saya tidak menggunakan starter elektrik agar tidak gampang rusak. Entah rusak apanya, tapi hal itu dikatakan oleh Tami Atsuku (Tami Si Bibir Tebal) yang hampir dua tahun menemani gejolak rasa di dada. Sebenarnya argumennya masih belum bisa diterima oleh logika saya. Namun karena faktor who dalam unsur komunikasi yang mendominasi alam pikiran saya, maka kali ini tanpa panjang lebar silat lidah saya menerimanya dengan lapang rasa (bukan lapang dada). Biar dalam tiap engkolan, saya teringat dirinya..halah…

Setelah mesin beroperasi, saya diamkan sejenak dengan maksud memanaskan mesinnya. Setelah beberapa saat saya pun melaju keluar rumah kecil berukuran 90mx90m. Jalanan dekat rumah berdebu dan berpasir karena ada tetangga yang sedang membangun rumah. Dalam keadaan galau seperti itu saya meluncurkan si Jupi dengan kecepatan kurang dari 40km per jam. Berbeda dengan beberapa orang yang senang melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi ketika mereka sedang galau. Perlahan saya menunggangi Jupi agar bisa memperhatikan lingkungan sekitar dan aktifitas orang-orang di dalamnya. Masih dalam area komplek, banyak anak-anak berlarian bermain Tak Jongkok. Ternyata masih ada permainan kecil saya. Saya kira permainan seperti itu sudah punah digantikan dengan permainan memijit-mijit tombol untuk mengendalikan sesuatu pada layar televisi. Permainan dengan tingkat individualitas tinggi yang dinamakan Playstation, Xbox, dan lainnya yang sejenis. Memasuki area gerbang komplek, banyak kali lima yang memulai membuka lapaknya. Dari mulai gorengan, martabak lokal sampai interlokal (martabak Jepang), awug beras, BKI, dan lainnya berjejeran di tepi jalan karena kalau di tengah jalan dapat dipastikan akan menghalangi arus kendaraan yang berlalu lalang dan menimbulkan kemacetan, bahkan kerusuhan…

Sampailah saya pada jalan Soekarno Hatta yang lebar. Di jalan ini saya tidak bisa melaju pelan, bisa dihujam bunyi klakson-klakson kendaraan di belakang seraya menggerutu kebun binatang dari lobang mulutnya. Makro saya lewati, Superindo juga, saya masih belum menentukan tujuan akhir perjalanan ini. Yasudahlah, jalan saja terus sampai badai di kepala reda. Menjelang MTC lalu lintas agak tersendat karena banyak kendaraan yang berpaling ke kiri untuk mengambil ancang-ancang belok. Tepat di belokan pertama MTC, saya melihat gerobak roti yang agak menghalangi laju kendaraan untuk belok ke MTC. Gerobak roti itu dikayuh oleh pak tua yang nampak letih mengayuh gerobak seharian yang belum tentu mengantongi hasil jualannya. Bapak tua itu menjadi sasaran klakson amarah para pengendara yang terhalangi jalannya. Tapi bagaimana lagi, bapak tua itu harus melawan arah agar bisa menjelajah daerah lain dengan tidak memutar jauh. Wajahnya rentanya, kemeja lusuh yang agak basah akibat peluh, membuat saya simpatik. Saya selalu simpatik melihat orang-orang, baik itu orang tua, anak-anak, laki-laki, perempuan, yang berjuang keras untuk mempertahankan hidupnya. Dalam hati saya berkata, “Bapak seharusnya tidak sesulit dan selelah itu kalau sistem Negara tidak korup seperti sekarang”. Agak lama saya memperhatikan pak tua dan gerobaknya. Ketika memperhatikan gerobaknya, saya melihat nama usaha roti itu pada papan di atas kotak kaca bertuliskan “Cari Rasa”. Setelah beberapa detik membaca dan mencerna tulisan itu, sayapun terbahak. Huakakakakak. Entah, menurut saya lucu sekali nama usaha roti itu. Jika dibandingkan namanya dengan nama usaha sejenis, kali ini merk atau nama usaha roti tersebut sangat bertolak belakang. Jika yang lainnya menggunakan istilah-istilah yang menggambarkan produk atau roti yang dijualnya, seperti Cita Rasa, Sari Ras, atau Kartika Sari. Namun pak tua menjual roti dengan nama Cari Rasa. Iba saya berganti tawa dan berkata, “Gimana mau laku pak, rasanya aja baru mau dicari.hahahahaha..jangan-jangan rasanya aneh atau belom ada rasanya.hahahaha….”. Maaf dan terima kasih ada dalam benak saya untuk pak tua. Maaf atas tawa yang menggantikan iba saya pada pak tua dan terima kasih karena pak tua telah membuat saya tertawa yang sangat ampuh untuk meredakan badai di kepala.. Saya pun mencari tikungan untuk balik arah pulang menuju rumah. Untuk pak tua, semoga rasanya ketemu dan bisa ditawarkan kepada calon pembeli. Semangat Pak Tua!

Selasa, 29 Juli 2008