“Memalukan!”, tegas seorang dosen dengan nada setengah berteriak dan nampak kekesalan di wajahnya pada perkuliahan Jurnalisme Kontemporer (Jurtem) Senin lalu (27/10). Pernyataan kekesalan dosen itu dipicu oleh mahasiswa yang tidak bisa menjawab (mungkin juga malas menjawab) pertanyaan sang dosen tentang analisis bingkai model Robert Entmant.

***

Seperti biasa, kuliah Jurtem diisi dengan presentasi oleh kelompok dalam kelas yang membahas tema-tema jurnalisme kontemporer. Namun yang tidak biasa adalah dosen yang memandu perkuliahan itu. Dosen yang biasa memandu perkuliahan itu sepertinya sedang ada kegiatan yang lebih penting dari perkuliahan sehingga ia meninggalkan kewajiban membimbing mahasiswa di kelas. Dosen penggantinya termasuk dalam daftar tim dosen. Ketua jurusan jabatannya. Kalau tidak salah, ketua jurusan itu mengantongi gelar Master di bidang studi pembangunan. Itu juga mungkin yang membuatnya “memegang” mata kuliah Komsosbang (Komunikasi Sosial Pembangunan, kalau tidak salah).

Pada perkuliahan itu, kelompok saya menjadi penyaji materi. Materi yang disampaikan tentang jurnalisme advokasi, suatu genre jurnalisme yang cukup aneh menurut saya karena terjadi pertentangan nilai pada kedua konsep itu, jurnalisme dan advokasi. Yang satu menekankan pada objektifitas, netralitas, sedangkan yang satunya lagi menekankan pada keberpihakan yang sangat subjektif. Cukup aneh memang, tapi dapat mafhum ketika memelajari konteks sejarah lahirnya gerakan baru jurnalisme tersebut.

Beberapa penyaji materi agak kaku, kikuk, tidak luwes. Mungkin karena kurang menguasai materi. Hal tersebut dapat sekali terlihat dari cara beberapa dari kami yang menjelaskan materi dengan hanya membaca makalah tanpa memerhatikan para peserta kuliah.

Terdapat hal menggelikan mengenai ini. Saat itu teman kami, Pangeran Banten julukannya, menjadi penyaji yang menyajikan materi dengan cara membaca makalah. Ia memberi penjelasan materi sama seperti petugas upacara yang membacakan Undang-undang Dasar 45 atau Pancasila. Apa yang keluar dari mulutnya merupakan murni apa yang ditulis pada teks yang dibacanya. Nah, kali ini Pangeran Banten persis berperan seperti pembaca Pancasila pada upacara, apa yang dikatakannya sama seperti yang dituliskan pada teks. Mudah memang, tanpa berpikir lagi materi bisa keluar dari mulutnya. Tapi masalahnya, teks yang dibaca Pangeran Banten ini teks yang terdapat beberapa kesalahan penulisan, seperti serta ditulis dengan serat. Pangeran Banten membacakan apa yang terdapat pada teks tanpa dipikirkan lagi maknanya. Hasilnya, ia melakukan blunder. Celakanya, dosen kebetulan memerhatikan presentasi yang dilakukan dengan gaya Pangeran Banten. Sang dosen mungkin iseng mencocokkan apa yang dikatakan Pangeran Banten dengan teks yang ia baca. Ternyata Pangeran Banten memang pembaca teks yang baik karena ia dapat membaca semua sesuai teks tanpa cela. Tapi masalahnya, teks itu tidak benar semuanya. Terdapat kesalahan penulisan seperti kata “serta” jadi “serat” (mungkin karena yang membuat makalah mengerjakan menjelang adzan subuh setelah ia mengerjakan tugas mata kuliah lainnya. Syatu hal yang lazim terjadi pada mahasiswa jurusan ini.hehe). sontak sang dosen langsung memberikan pembetulan terhadap kesalahan yang Pangeran Banten lakukan. “serta!”, koreksi sang dosen setengah berteriak. Saya dan kawan yang lain cekikikan. Itu merupakan blunder yang sangat luar biasa menurut saya. “hahahahaha”, saya tertawa puas dalam hati.

***

Akhirnya sesi presentasi dan tanya jawab berakhir. Tibalah giliran sang dosen untuk memberikan koreksi, pelurusan terhadap hal-hal yang masih kabur dalam diskusi, dan kadang-kadang pernyataan reflektif. Setelah melakukan pelurusan, pembicaraan dosen mengait kepada teknik analisis bingkai untuk mengetahui kecenderungan pemberitaan mengenai realitas yang diangkatnya. Karena rasa ingin tahunya tentang pengetahuan mahasiswanya, sang dosen menanyakan tentang analisis bingkai model Robert Entmant yang merupakan seorang ahli yang meletakkan dasar-dasar analisis bingkai untuk studi isi media yang awalnya studi pembingkaian merupakan konsep ilmu kognitif (psikologi).

Pertanyaan itu disambut dengan keheningan kelas yang menjadi. Setelah beberapa saat mulailah sang dosen menampakkan kekesalan terhadap mahasiswanya. Rentetan pernyataan kekecewaan dan kekesalan keluar dari indera bicaranya. Ditantang mahasiswa untuk menjawab pertanyaan itu. Jika tidak bisa, tugas siap menghukum. Munculah inisiatif dari kawan seangkatan 2004 untuk menjawab dengan maksud agar kami tidak dibebani tugas lagi. Tapi jawaban kawan kami itu kurang tepat di mata sang dosen. Jadilah tugas hukuman diberikan.

“Memalukan!”. Kurang kebih itu yang dikatakan sang dosen kepada mahasiswanya. Ia mempertanyakan tentang intelektualitas mahasiswanya. Ia juga mengatakan bahwa seharusnya mahasiswa jurnalistik dengan tingkat seperti kami sudah mengetahui materi itu. Isi kelas mayoritas angkatan 2005 yang sedang mengambil mata kuliah yang membahas materi itu. Adapula angkatan 2004, termasuk saya, yang seharusnya sudah paham dengan materi itu. Mungkin karena khilaf, angkatan 2004 tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Termasuk saya. Memang seharusnya kemampuan analisis media menjadi salah satu senjata wajib bagi mahasiswa jurnalistik tingkat atas. Tapi mengapa materi-materi perkuliahan terdapat beberapa, mungkin banyak, yang numpang lewat saja. Setelah perkuliahan berakhir pengetahun itu lama kelamaan seperti hilang ditelan waktu. Hal itu seharusnya menjadi pokok permasalahan yang patut dibahas oleh forum dosen dan mahasiswa.

Pernyataan kekesalan dan penilaian yang menyudutkan mahasiswa (hal itu terjadi karena kemalasan mahasiswa, misalnya) seharusnya juga tidak keluar dari mulut sang dosen. Ini merupakan masalah bersama yang mendesak dicari akar masalahnya dan pemecahannya. Terdapat pendapat dari mahasiswa yang menyatakan bahwa itu terjadi karena mahasiswa terlalu dibebani banyak tugas sehingga tugas yang mereka kerjakan hanya alakadarnya, sekedarnya. Sekedar mengumpulkan. Saya juga berpendapat demikian. Saya merasa bahwa tugas yang terlalu banyak membuat mahasiswa tidak fokus dalam megerjakan tugasnya. Fokusnya terdistribusi dengan tugas-tugas lainnya. Yang terjadi adalah pemahaman pada tingkat permukaan saja. Selain itu tugas yang bejubel membuat mahasiswa tidak dapat mengembangkan diri di luar perkuliahan. Ikut dalam organisasi misalnya. Terdapat kabar dari kawan tentang partisipasi mahasiswa jurnalistik Unpad dalam kegiatan mahasiswa jurnalistik se-Bandung bahwa tingkat partisipasi mahasiswa jurnalistik Unpad rendah dalam kegiatan mahasiswa jurnalistik se-Bandung. Saya juga tidak mengkroscek informasi itu. Tapi pernyataan itu patut direfleksikan.

Mengenai fenomena itu dan pendapat-pendapat tentang tugas yang overload, seharusnya pihak jurusan cepat tanggap dan memberi respon yang juga ilmiah karena ini merupakan institusi akademis. Seharusnya apa yang terjadi diteliti dengan riset yang relevan dengan masalah ini. Asumsi yang menyatakan bahwa tugas yang banyak membuat mahasiswa terbebani dan tidak fokus dalam pengerjaannnya juga dengan apa yang dimengerti, seharusnya diuji bukan malah dimentahkan karena sentimen emosional. Coba dibuat riset yang berkaitan dengan hal itu. Pola hidup mahasiswa diteliti. Gunakan teori-teori yang berbicara dan berkaitan tentang daya serap mahasiswa terhadap materi dan kaitannya dengan pola hidup mahasiswa (jika ada). Atau gunakan teori-teori yang relevan. Apakah dengan diberi banyak tugas, mahasiswa akan menjadi cerdas dengan pengetahuan yang luas? Jika ya, tugas macam apa yang bisa membuat mahasiswa mengerti benar bahkan dapat mengkritik materi yang diberikan? Jika tidak, metode macam apa yang relevan dilakukan untuk mengembangkan sisi intelektualitas mahasiswa? Universitas, fakultas, terutama jurusan dalam hal ini, yang menjadi penyedia atau penjual jasa pendidikan memerhatikan mahasiswa sebagai salah satu konsumennya selain institusi media massa profesional.

Saya harap riset ilmiah mengenai hal ini dapat segera dilakukan agar segera mutu pelayanan dalam pengajaran dapat membaik. Ini merupakan masalah bersama. Tidak sepenuhnya tanggung jawab jurusan, tapi juga mahasiswa. Seharusnya (lagi), terdapat forum antara dosen selaku pihak pengajar dan mahasiswa selaku pihak yang menerima pengajaran untuk membicarakan metode pengajaran yang tepat dengan konteks mereka. Pengajaran yang membebaskan, bukan malah membelenggu. Mungkin kita (dosen dan mahasiswa) harus kembali belajar tentang esensi pendidikan dan pengajaran ilmu pengetahuan bagi perkembangan manusia agar memiliki satu kerangka berpikir yang serupa dan dengan itu perumusan metode dan sistem pengajaran dapat dilakukan dengan mudah.

November 2008