Sebagai makhluk bebas yang memiliki kesadaran, manusia memiliki keyakinan sebagai cara untuk mengada atau bereksistensi dalam hidupnya. Kesadaran merupakan kesanggupan untuk menentukan cara bereksistensi. Kesadaran itu timbul dan dipengaruhi oleh kondisi materiil tempat ia mengada. Timbulnya kesadaran juga akan mempengaruhi timbulnya keyakinan dan cita-cita. Namun kadang keyakinan dan cita-cita ideal manusia sebagai individu tidak sejalan dengan kenyataan. Ini merupakan hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan setiap manusia. Pertentangan antara keyakinan dan kenyataan juga terjadi seperti yang dikisahkan dalam kisah hidup Malcolm X. Malcolm X dilahirkan sebagai kulit hitam di Amerika. Sebagai seorang kulit hitam yang hidup di Amerika (afro-Amerika), ia mengalami perlakuan yang diskriminatif dari orang kulit putih di Amerika. Namun Malcolm kecil masih belum sadar terhadap penindasan yang dilakukan terhadap kaumnya. Kesadaran akan perlakuan diskriminatif yang dilakukan terhadap orang kulit hitam dipicu pada pembakaran yang dilakukan Ku Klu Clan terhadap tempat tinggalnya sewaktu Malcolm masih kecil. Benih-benih kesadaran itu ia pupuk hingga ia beranjak remaja. Pada masa remaja ia dijebloskan ke penjara karena kasus pengedaran narkoba yang ia lakukan. Selama dalam penjara ia mengahabiskan waktunya untuk membaca. Dalam penjara ia dikucilkan karena pandangan sinisnya terhadap bibel. Pandangan sinisnya terhadap bibel itu disebabkan oleh kesadarannya bahwa apa yang diajarkan bibel tidak dapat melepaskan belenggu penindasan yang ia dan kaum afro-Amerika alami. Setelah menjalani masa tahanan selama sekitar tujuh tahun, ia bertemu dengan Nation of Islam yang sangat berpengaruh pada hidup selanjutnya yang akan ia jalani. Nation of Islam merupakan pergerakan Islam kaum kulit hitam di Amerika. Ia yakin bahwa Nation of Islam memiliki kesamaan visi dengannya dalam memberantas diskriminasi yang dilakukan oleh kaum kulit putih. Karena itu ia berpindah keyakinan menjadi seorang muslim. Melalui Nation of Islam ia memulai pergerakannya dengan melakukan dakwah-dakwah di berbagai mesjid Amerika. Ia juga mengajak para pemuda jalanan yang hidupnya dekat dengan narkoba dan tindak kriminal untuk bergabung dengan Nation of Islam. Setelah sekian lama ia melakukan dakwah-dakwah, ia pun menunaikan ibadah haji ke tanah Mekah. Di Mekah ia bertemu dengan berbagai macam orang dari suku, ras, dan warna kulit yang berbeda. Dari mulai orang kulit hitam Afrika, orang kulit kuning Cina, sampai orang kulit putih Amerika berbaur dalam pelaksanaan ritual Haji. Dalam pelaksanaan Haji di Mekah tersebut, ia melihat adanya kesamaan derajat di antara berbagai perbedaan. Oleh karena itu pandangannya terhadap orang kulit putih yang diidentikan dengan iblis penindas berubah drastis. Setelah kepulangannya dari Mekah, ia lebih kooperatif dengan kulit putih dan itu pula yang menyebabkan konflik dengan pemimpin Nation of Islam Elijah Muhammad. Sebagai dedengkot pergerakan Islam radikal yang sangat menentang kaum kulit putih, Elijah sangat kecewa dengan perubahan sikap yang terjadi pada diri Malcolm X. Hingga pada akhirnya, Malcolm ditembak saat ia baru saja memulai pidatonya. Ia ditembak oleh anggota dari Nation of Islam. Hakikat Hidup Manusia Hakikat manusia dalam hidup adalah bagaimana ia mencerna apa yang ada di sekelilingnya yang kemudian ia gunakan sebagai modal untuk menjalani hidupnya. Dalam menentukan jalan hidupnya, manusia memiliki kesadaran yang memicu manusia untuk terus berkontemplasi mengenai dunia tempat ia berada dan mengenai keberadaan dirinya sendiri. Dari kontemplasi tersebut dapat ditarik esensi atau hakikat manusia secara umum. Dalam kontemplasinya manusia memiliki peralatan jasmaniah dan rohaniah. Peralatan jasmaniah terdiri dari fisik manusia yang berfungsi menangkap objek penginderaannya. Objek penginderaannya kemudian diolah oleh peralatan rohaniah yang terdiri dari akal budi, kehendak, dan hati. Manusia perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah dan rohaniah. Konsepsi mengenai kerja yang ada sekarang direduksi menjadi sekedar sarana untuk bertahan hidup. Padahal tujuan kerja ialah mengembangkan diri tidak hanya secara intelektual, sebagai kesadaran, tapi juga melalui tindakan nyata yaitu kerja itu sendiri. Namun masalahnya untuk dapat memaksimalkan proses dan hasil kontemplasi itu, manusia harus memiliki kemerdekaan untuk menentukan pilihannya dalam bereksistensi. Seperti yang terjadi pada hidup Malcolm X, ia tidak memiliki kemerdekaan sepenuhnya sebagai kaum Afro-Amerika yang ditindas. Kemerdekaannya sebagai manusia bebas dirampas oleh pihak lain yang bisa dibilang berkuasa. Padahal kebebasan merupakan variabel fundamental yang harus dipenuhi untuk mencapai proses dan hasil kontemplasi yang maksimal. Akhirnya untuk mencapai kondisi ideal dalam berkontemplasi, Malcolm X memperjuangkan hak-hak yang telah dirampas oleh kaum kulit putih. Dari kondisi itu ia telah berkeyakinan dan keyakinannya itu menentukan cara ia bereksistensi. Pada saat itu ia berkeyakinan bahwa kaum kulit putih merupakan penindas kejam yang harus dilawan. Namun pandangannya berubah setelah ia menjadi muslim, khususnya pada saat ia melakukan ritual Haji. Ia menemukan bahwa tidak semua kulit putih bertindak sebagai penindas. Dari fakta yang ia temukan, ia pun merubah pandangannya terhadap kaum kulit putih. Perubahan keyakinan tersebut bisa dikatakan sebagai proses dialektis karena proses dialektis tidak dibatasi oleh waktu, berjalan terus menerus dan menuntut adanya keterbukaan terhadap kebenaran-kebenaran baru yang sesuai dengan posisi di mana kebenaran itu berada dengan maksud untuk mencari kebenaran yang sebenar-benarnya. Dan berarti gerak kebenaran itu relatif sesuai dengan zamannya. Wajar jika manusia memiliki keyakinan yang berubah, karena keyakinan ditentukan oleh kondisi materiil yang melingkupinya. Dan kondisi materiil juga selalu berubah.

November 2006