Hasrat memiliki..merupakan hal yang wajar di era globalisasi yang sangat menjunjung tinggi hak-hak individu. Hasrat memiliki yang berujung pada kepemilikian pribadi itu seakan baik-baik saja. Seakan tidak terdapat masalah di dalamnya. Bahkan hal itu merupakan perwujudan dari nilai luhur individualisme.

Namun jika kita coba melihat kembali sejarah, nilai luhur itu telah mengakibatkan bencana kemanusiaan. Invasi Amerika ke Iraq dengan dalih membinasakan sarang terorisme padahal hal itu merupakan strategi penguasaan Amerika terhadap sumber minyak di Iraq, menyebabkan banyak korban berjatuhan. Buruh-buruh dipaksa kerja dengan upah yang sangat kecil. Media massa yang bergantung pada penguasa dan pemodal. Berawal dari kepemilikian pribadi mengakibatkan perang dimana-mana terjadi, hegemoni kekuasaan dilakukan, eksploitasi terjadi, kesadaran dipalsukan, manusia dibendakan, demi untuk memiliki (kepentingan ekonomi terutama). Dari fakta itulah saya mencoba rasa ingin memiliki yang ada dalam diri. Karena dengan rasa memiliki, manusia menjadi buas dalam mewujudkan keinginannya itu. Dan setelah memiliki pun, manusia tidak akan pernah puas seperti yang telah diceritakan sedikit di atas mengenai akibat dampak dari kepemilikan. Saya berusaha mereduksi rasa itu dengan mensugesti diri saya bahwa apa yang saya miliki juga dapat digunakan orang lain, mungkin juga dimiliki orang lain. Caranya, dengan membantu orang lain dengan memberikan materi yang saya punya. Kalau saya tidak punya materi, maka tenaga yang tersisa akan saya berikan. Namun, belakangan saya berpikir ketika saya menjalin hubungan dengan perempuan yang dapat membuat saya jatuh hati. Dapatkah cinta dibagi? Atau lebih ekstrem, dapatkah psangan kita dibagi? Apakah dalam kehidupan masyarakat primitif yang komunal, tidak ada pasangan tetap? Atau, apakah setiap perempuan dalam masyarakat primitif dimiliki oleh komunal, dimiliki secara bersama-sama?

Juli 2008