Menelisik Lorong Gelap

 

Penulis         : Dadi Sumaatmadja
Penerbit       : LaTofi Enterprise, April 2005
Tebal             : x + 141 halaman

I.Rangkuman

Prolog

Ada pers repot tak ada pers juga repot. Wartawan ketika itu dianggap hanya membesar-besarkan kekurangan pemerintah dan pemberitaannya tidak faktual. Di sisi lain pemerintah sangat membutuhkan media massa untuk mensosialisasikan kepentingannya. Setelah peristiwa kerusuhan Malapetaka 15 Januari (Malari)tahun 1974, situasi keamanan masih belum stabil. Pemberitaan media massa tidak mendukung terciptanya situasi yang lebih baik, pemberitaan pers malah terkesan memanaskan situasi. Terjadi pembekuan penerbitan beberapa media massa, di antaranya Harian Kompas dan Sinar Harapan. Kebijakan ini adalahpendekatan kekuatan sebagai prsuasif, persuasifsebagai kekuatan. Dasar kebijakan pelarangan terbit ini adalah represif untuk preventif. Maksudnya ialah pers memiliki peran menghasut, maka harus ditertibkan tanpa harus melalui pengadilan. Meski demikian, kebijakan pemerintah ketika itu hanya sebatas pelarangan terbit dalam jangka waktu tertentu.

Pada rentang periode 1974-1993, pers tetap melakukan sensor sendiri atas isu-isu yang dinilai sensitif. Hal ini karena komunikasi masih satu arah. Tekanan terhadap media massa lebih terasa pada tahun 1993-1998. Pada saat itu dilakukan pemberangusan terhadap Majalah Tempo, Majalah Editor,, dan Tabloid Detik, oleh Menteri Penerangan Harmoko. Ada dua latar belakang atas pemberedelan itu; kantor Menkopolkam tak berfungsi (seharusnya masalah ini bisa dirapatkan dulu), dan persoalan visi para pengambil keputusan sehingga dihasilkan kebijakan represif. Pembredelan tersebut erat kaitannya dengan konteks kondisi politik saat itu. Harmoko yang Menpen, sekaligus Ketua Umum Partai Golkar terobsesi ingin mendapatkan 75 persen perolehan suara dalam Pemilu. Sementara pers dianggap menghalangi obsesinya tersebut.

***

Masalah-masalah sosial dan susila tidak harus menjadi picisan. Selama cara penyajian dan angle tulisan tepat, kesan murahan dapat dihindari. Sebuah tim investigasi akan tangguh bila satu sama lain saling mendukung dengan kekuatan yang merata. Laporan investigasi itu membuat berita secara lengkap dan rinci, dan dilengkapi dokumen pendukung. Investigasi menyangkut masalah yang belum terungkap. Tim investigasi baiknya terbuka, egaliter, demokratis, serta terbiasa dengan perbedaan pendapat. Masing-masing anggota bisa saling mengkritisi dan bahkan saling memaki. Perbedaan yang dilandasi kesadaran untuk saling memperkaya, bukan saling meniadakan. Keterbukaan menerima perbedaan ini juga menyangkut kesediaan menerima keragaman karakter setiap anggota. Keragaman karakter justru menjadi modal guna mengoptimalisasi proses dan hasil kerja tim. Pada tim investigasi, kesadaran berjibaku, menjaga kekritisan, dan militansi, harus timbul dari diri masing-masing. Mereka harus menjadi orang-orang otonom dan peka terhadap persoalan yang dihadapi sehari-harinya.

Tim investigasi yang ideal terdiri dari pekerja keras, drive tinggi, militant, tangguh di lapangan, saling mengisi, menjaga dan terbuka satu sama lain. Menjadi investigator yang baik harus sombong dalam tanda petik, punya kepercayaan diri yang tinggi, serta selalu tenang dalam berbagai kondisi. Ketazaman ingatan sangat berguna bagi para reporter investigasi, terutama ketika melakukan undercover atau penyamaran. Melakukan pemetaan atau maping masalah setiap mengawali penyedilikan sangatlah penting. Maping adalah pemaparan masalah dengan cara yang lebih sederhana.

Ada sejumlah garis yang mesti dipatuhi tim investigasi. Pertama, setiap anggota harus membeberkan secara transparan semua temuan yang diperoleh di lapangan, termasuk informasi of the record. Kedua, menolak segala bentuk iming-iming dari semua narasumber. Karakter reporter fighter dapat diketahui dengan melihat file record dalam setahun terakhir. Indikasinya, berapa banyak rata-rata sumber yang berhasil ditembusnya selama sepekan, siapa saja sumber itu, berapa banyak berita dan sumber ekslusif yang pernah ditembusnya. Tim investigasi umumnya memiliki bakat tertentu dalam hal penyelidikan, yakni gabungan antara jurnalis dan petualang. Tidak mudah putus asa, selalu ingin tahu, dan yang terpenting ia adalah seorang penyidik.

Dalam empat tahun terakhir (1998-2002), berita investigasi menjadi tren baru di kalangan penerbitan pers. Reportase investigasi jadi barang jualan, sekaligus berita dengan nilai prestise tinggi. Tantangan reportase investigasi relatif jauh lebih keras dan hanya memberikan tempat bagi jurnalis tertentu di dalamnya.

Sejarah Reportase investigasi

Istilah Reportase investigasi populer belakangan ini. Sebelum itu ada dikenal istilah muckcracking journalism yang popular 1902-1912. Istilah tersebut kian popular setelah tokoh pers dunia Joseph Pulitzer berseteru dengan presiden AS Theodore Roosevelt. Ketika itu, Pulitzer (pendiri the Columbia University School of Journalism) membongkar kasus suap dalam pembelian tanah untuk Kanal Panama yang diduga berkaitan dengan Roosevelt. Pulitzer wafat 1911, namanya diabadikan sebagai penghargaan karya jurnalistik paling prestisius bagi jurnalis berprestasi di dunia.

Reportase investigasi berkibar lagi tahun 1974 menyusul munculnya karya investigasi dua wartawan harian the Washington Post yang menghebohkan dunia (Carl Bernstein dan Bob Woodward). Mereka berhasil membongkar penyelewengan dana pemilu partai demokrat di Amerika. Demikian monumentalnya karya mereka diterbitkan dalam buku All The President’s Men, yang kemudian diangkat ke layar lebar. Karya mereka mengilhami didirikannya paguyuban reporter dan editor Reportase investigasi terkemuka : Investigative Reporters and Editors Inc. (IRE), di Kolombia, AS, 1975.

Sejarah Reportase investigasi di Indonesia cukup muram nan panjang. Selama dua masa kepemimpinan nasional, baik Orde Baru dan Orde Lama, reportase investigasi lebih banyak dipandang penguasa sebagai buah terlarang. Di masa Orde Lama pemimpin redaksinya harus rela meringkuk di balik terali besi. Di masa pemerintahan presiden Soeharto pers dijadikan alat oleh pemerintah. Media yang melanggar dibredel dan dicabut izin usahanya tanpa ada proses pengadilan.

Salah satu media yang ‘usil’ memasuki investigasi tingkat tinggi dan amat fenomenal adalah kiprah harian Indonesia Raya. Di bawah Mochtar Lubis harian ini tampil berwibawa dengan hasil investigasi terhadap institusi penting di masa Orde Baru. Beberapa media yang berani menampilkan karya-karya investigasi tidak luput dari ‘gebukan’ penguasa. Selain Indonesia Raya, pukulan itu juga pernah menimpa Harian Kompas, Sinar Harapan, Prioritas, Tempo, Editor, Detik. Pakar jurnalistik asal Amerika Al Hester, mengingatkan ‘menulis berita yang baik dan independen amat sulit dilakukan di Negara dunia ketiga karena pers adalah bagian integral dengan pemerintah atau partai yang berkuasa.

Titik cerah dunia pers Indonesia mulai tampak sejak pemerintah membredel tiga media terkemuka tahun 1994 (Majalah Tempo, Editor, dan Tabloid Detik). Perlawanan insan pers mencuat ke permukaan. Aksi perlawanan dimotori Tempo. Goenawan Mohammad mantan Pemred berada ditengah barisan. Dalam situasi itu lahirlah Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang menjadi tandingan PWI. AJI menilai PWI tidak relevan dan lebih mementingkan kepentingan pemerintah ketimbang membela profesi wartawan.

Beberapa tahun sebelum Orde Baru tumbang sejumlah wartawan menerbitkan media ‘bawah tanah’ dengan nama Buletin Independen. Buletin ini selalu menampilkan berita-berita oposisi, kritis, gaya bahasanya langsung dan lugas. Hasil investigasi wartawannya meski ada kekurangan namun cukup menjawab rasa ingin tahu pembaca.

Dunia pers Indonesia baru benar-benar merdeka sejak tumbangnya rezim Orde Baru Mei 1998. Kebebasan pers muncul seiring dengan semakin derasnya tuntutan dan kebebasan masyarakat. Ironisnya, penegakan hukum loyo. Seiring dengan regulasi Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) media pun bermunculan. Era reformasi membuka peluang bagi semua media untuk melakukan eksplorasi jurnalistik. Akhir kekuasaan Soeharto menjadi awal bagi semua media untuk memulai perlombaan : membongkar berbagai kasus besar yang pernah terjadi di masa Soeharto berkuasa. Tidak jarang media kebablasan menurunkan pemberitaan seenaknya tanpa memperdulikan check and recheck. Laporan selidikan sejak itu menjadi familiar. Iklim keterbukaan yang menaungi pers nasional rupanya tidak berbanding lurus dengan nasib pers itu sendiri. Hanya media tertentu yang memiliki modal besar, segmentasi pembaca jelas, tulisan yang dapat dipertanggung jawabkan adalah yang mampu bertahan.

Sesuai kodratnya, laporan investigasi sesungguhnya tidak bisa dibatasi dengan waktu dan dana. Reportase investigasi sejatinya membutuhkan waktu yang panjang, dikerjakan oleh sebuah tim yang berisi orang-orang ulet, sabar, militan, dan berdedikasi tinggi terhadap situasinya. Di Indonesia, reporter penyidik adalah gabungan antara pejuang berani mati, detektif super, dan anjing polisi yang terus menerus mencari jejak kejahatan, koruptor, dan kelemahan moral manusia lainnya. Reporter investigasi adalah wartawan yang ulet, sinis, yang tujuan utamanya membalikkan setiap batu untuk melihat binatang melata yang menjalar keluar dari bawahnya (Al Hester).

Berita di media massa dapat dipilah menjadi tiga jenis:

  1. Reportase investigasi : merupakan metodologi pencarian berita secara mendalam, mendetail, dan tuntas, serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bentuk pencarian berita dengan cara penelusuran, sangat mengandalkan bukti-bukti material (dokumen maupun kesaksian). Ciri-cirinya antara lain jumlah paragraf, struktur dalam penulisan, aktualitas dan gaya bahasa yang disampaikan sangat bebas.
  2. In depth reporting (pelaporan berkedalaman) : Jenis penulisan berita secara mendalam dan biasanya tidak digunakan untuk membongkar suatu masalah. Ciri menonjolnya ialah beritanya tidak basi karena tidak mengikuti trend news. Panjangnya antara 10-25 paragraf, struktur penulisannya seperti piramida.
  3. Straight news (berita langsung) : Jumlah paragraf berita langsung biasanya antara 3-10 paragraf. Struktur penulisan beritanya seperti piramida terbalik.

Kata reportase investigasi berasal dari bahasa Latin : reportare (membawa sesuatu dari suatu tempat) dan vestigium (jejak kaki). Reportase investigasi asalah sebuah metode jurnalistik dengan cara penelisikan atau penyelidikan untuk mengungkap informasi tersembunyi dan ditutup-tutupi. Kekuatan metode ini terletak pada “getting the facts and getting them right.” Ciri utamanya yakni kasusnya masih tersembunyi, misterius, dan tertutup. Dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk sampai pada akhir pengungkapan. Kasus investigasi berada di bawah permukaan atau belum banyak diketahui publik oleh karenanya informasi yang digali bukanlah kisah rutin yang sudah jelas-jelas terbuka di depan publik.

Idealnya, reportase investigasi diterbitkan secara insidental, dan dikerjakan oleh sebuah tim dengan anggota yang memadai. Hal ini untuk dapat saling kroscek informasi yang diperoleh. Keuntungan bekerja dalam tim ialah kita tidakakan gampang jenuh dan putus asa setiap menghadapi rintangan. Reporter investigasi lebih berorientasi pada pencarian informasi yang berkaitab dengan objek yang dikerjakannya.

Waktu peliputan yang terbatas tentunya menjadi tantangan untuk dapat menghasilkan sebuah laporan investigasi yang menarik. Manipulasi data adalah dosa besar dalam menulis sebuah reportase investigasi. Hanya dengan berlaku jujur pada diri sendiri, wartawan bisa mengungkap kejujuran dalam setiap tulisannya. Ketika kita diburu waktu untuk menurunkan sebuah laporan reportase investigasi, sementara data dan fakta yang kita peroleh belum memadai seringkali muncul godaan untuk mendramatisir persoalan. Seringkali para wartawan tak sadar jika tulisannya hanya dipenuhi opini, fitnah, kemunafikan, dan sebagainya.

Detail peristiwa menjadi salah satu keharusan untuk memberikan gambaran secara menyeluruh kepada publik mengenai kasus yang kita tulis. Ini penting untuk menghindari salah tafsir, terutama dari pihak yang terkait dengan tulisan kita. Laporan yang panjang ini dibagi menjadi beberapa bagian. Pertama, menggambarkan suasana makro dari kasus yang diangkat. Pada bagian berikutnya fokus tulisan lebih bersifat mikro.

Reporter investigasi harus dingin dan bijaksana melihat semua masalah. Ciri lain dari reportase investigasi ialah mengungkap persoalan secara total hingga tuntas. Selain itu, harus ada ketegasan dalam menentukan target liputan. Pertimbangan yang subjektif akan mengurangi bobot investigasi. Keputusan harus diambil dengan rasional, sekali pun terlihat kurang manusiawi.

Kriteria reportase investigasi di antaranya ialah ekslusivitas, kontroversial, berdampak luas, unsur ketokohan yang kuat, dan berskala besar. Berita ekslusif bukan hanya mempengaruhi perhatian pubik tetapi juga menunjukkan bobot profesionalisme seorang wartawan. Wartawan pertama sekali diukur dari kemampuannya bekerja di lapangan. Perbedaan satu posisi dengan posisi lainnya hanyalah pada intensitas dan kualitas sumber yang ditemui. Ada beberapa tahapan yang harus dilewatiagar menghasilkan investigasi yang memnuhi standar.

Pertama ialah menangkap informasi awal. Biasanya diperoleh dari jaringan yang memang sudah terbangun dan dibina. Tetapi, tidak jarang dokumen didapat dengan cara pencurian. Dengan dokumen informasi kita menemukan latar belakang masalah. Kedua, mencari data sekunder, yakni data hasil riset tentang isu yang sedang kita garap. Bisa melalui media yang pernah lebih dulu menulisnya, atau dari sumber-sumber tak resmi. Ketiga ialah mengontak sumber pendukung. Semakin banyak sumber pendukung yang kita temui, semakin baik karena informasi awal bisa teruji.

Tahapan selanjutnya ialah riset literatur. Cara paling mudah dan efisien ialah dengan mengakses internet. Riset literature sangat penting terutama untuk mengetahui fenomena kasus serupa. Setelah permasalahan dipahami barulah melakukan maping atau pemetaan persoalan. Hal ini untuk melakukan evaluasi dan slaing melengkapi informasi dari semua orang yang ikut terlibat dalam tim investigasi. Pemetaan itu berisi mengenai pokok persoalan, siapa saja yang terlibat, hubungan mereka satu sama lain, apa yang sudah jelas dan apa yang masih kurang lengkap. Pemetaan harus dilakukan serinci mungkin. Biasanya begitu peta digelar, muncullah hal-hal baru yang saling terkait. Kita tinggal memutuskan bagian mana yang akan diselidiki.

Semakin rindang kita membuat ‘pohon masalah’, semakin lengkap pula pengetahuan akan persoalan yang diselidiki. Beberapa manfaatnya antara lain ialah memudahkan kita memahami persoalan; membantu saat menulis persoalan tersebut; dapat melihat celah kelemahan kita dari hasil investigasi, serta sebagai penuntun dalam proses investigasi. Pohon masalah merupakan faktor paling menentukan kita saat mengambil keputusan. Setelah pemetaan dibuat, biasanya kita membuat asumsi berdasarkan hasil analisi sementara terhadap informasi di lapangan. Asumsi atau hipotesis ini dapat dibangun dengan insting. Dengan mengandalkan insting, maka tingkat kehati-hatian kita lebih tinggi.

Ada dua jenis fakta yang harus dikejar dalam reportase investigasi ialah fakta material dan saksi kunci. Fakta material berupa dokumen tertulis (kuitansi, laporan keuangan, nota pribadi, catatan harian, memo dinas, dsb). Fakta material sering dijadikan pintu untuk memasuki sebuah kasus. Investigasi tidak bisa ditampilkan apa adanya, tanpa dilengkapi data akurat dan bukti material yang otentik. Fakta tersebut ibaratnya senjata bagi kita untuk menangkal setiap kemungkinan pengaduan atau gugatan dai pihak terkait. Saksi kunci adalah fakta berupa kesaksian dari sumber berita. Saksi kunci menempati posisi terpenting dalam reportase investigasi. Saksi kunci yang gampang digelitik umumnya mereka yang kebetulan menjadi korban dari konspirasi dan relati bersih dari pusaran konflik dan intrik.

Untuk memperoleh hasil invetigasi yang maksimal diperlukan adanya observasi. Ini penting halnya untuk menentukan strategi peliputan. Kesabaran dan kejelian adalah prasyarat untuk melakukan observasi yang baik. Setelah observasi, selanjutnya kita lakukan organisasi file. Kita susun file berdasarkan kronologis, spesifikasi masalah dan kasus. Perlu diingat, file adalah bank data yang tak lekang dimakan usia. Setelah semuanya lengkap, kita tulis hasil liputan. Agar tulisan terarah dan terperinci, semua anggota tim bertemu merapatkannya. Fokusnya pada pembagian tulisan, sistematika, angle tulisan, dan deskripsi.

Libel check berarti melihat kembali data dan fakta yang telah diperoleh, termsauk kembali membaca tulisan yang sudah dibuat. Hal ini dilakukan untuk menghindari berita-berita fitnah. Akan lebih bijaksana kita tearlambat terbit daripada menuangkan kesalahan pada media kita. Mengakui kesalahan bukan berarti kelemahan tetapi modal bagi kita untuk lebih dipercaya.

Hasil investigasi yang telah dibuat kemudian dibawa ke tingkat yang lebih tinggi, yakni pemimpin redaksi karena banyak hal yang mungkin dipertaruhkan. Terkadang, hasil jerih payah wartawan dipupuskan oleh kebijakan atasan, alasannya untuk menjaga kepentingan investor. Situasi semacam ini sering membuat reporter investigasi frustasi, jengkel, marah, dan segala kekesalan lainnya. Hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi ini ialah dengan meyakinkan pihak manajemen bahwa tulisan tidak akan berdampak besar. Inilah yang disebut ‘menang sedikit, kalah sedikit.’

Kemampuan yang harus dikuasai oleh reporter investigasi antara lain teknik wawancara, observasi, undercover, dan cara memperoleh dokumen. Investigator harus memiliki kemampuan multi terhadap semua hal itu. Kunci wawancara yang baik adalah ketenangan dalam menguasai diri dan materi.Ada sebuah teknik memperoleh informasi yang popular di kalangan intel, yakni ellicting. Ini merupakan teknik mewawancarai seseorang dengan terlebih dahulu berempati pada orang yang kita wawancara agar mereka merasa aman dan mau member informasi sejujurnya.

Sebelum wawancara dengan sumber berita ada baiknya kita mengenal karakter sumber. Hal ini untuk menyusun strategi pertanyaan. Jadilah orang yang dapat dipercaya. Profesi jurnalistik adalah profesi yang sangat mengandalkan kepercayaan. Dalam mengawali penelisikan, kita jangan terlalu mengobral informasi. Biasakan menjauhi sikap sok tahu, dan tidak menonjolkan diri. Sebagai seorang penyidik kita harus memiliki logika yang bagus dan terbiasa menggunakan indera keenam. Selain itu, wartawan investigasi harus memiliki rasa curiga dan waspada terhadap semua narasumber maupun fakta yang ada di depannya. Persiapan lainnya ialah buku catatan, alat bantu (perekam dan kamera). Perlu diingat sikap dasar investigator yakni tenacious (ngotot bertahan), determined (tekun dan ulet), patient (sabar), zealous (bersemangat), dan fair.

Teknik penyamaran atau undercoverbertujuan untuk memperoleh data faktual, baik fakta material maupun immaterial, secara jujur dan akurat. Dengan teknik ini, reportase investigasi dapat dengan leluasa memasuki sebuah komunitas tertentu yang berperilaku menyimpang. Ada beberapa alasan mengapa kita harus menyamar:

  • Kita tidak mungkin memperoleh informasi bila langsung membuka identitas sebagai wartawan
  • Institusi, individu atau komunitas yang diselidiki memang sengaja menutupi masalah yang melilitnya.
  • Banyak sumber yang tahu suatu ketidakberesan, namuntakut membukanya ke pers.
  • Orang yang mengetahui banyak masalah supersensitif, umumnya punya hubugan dekat dengan ‘orang kuat’ di masalah itu.
  • Kita bisa memperoleh data dan fakta tanpa didramatisir karena kita melihat, mendengar, dan merasakannya sendiri.

Kunci sukses undercover ialah selalu berpenampilan tenang. Ada istilah, menyerang dengan jurus tai chi, yakni menyerang dengan menggunakan kekuatan lawan. Sifatnya bertahan yuntuk menyerang, filosofinya konsentrasi serta ketenangan lahir bathin. Kestabilan emosi sangat penting dalam menghadapi situasi yang tidak terduga, misalnya peliputan GAM di Aceh.

Teknik undercover yang lain ialah teknik kamikaze atau teknik bunuh diriTeknik ini, rada nekat, dilakukan pada situasi tertentu, dengan penuh rencana dan perhitungan yang matang. Namun harus dijalani dengan ekstra ‘dingin’, karena teknik ini dilakukan secara frontal. Langkah pertama adalah dengan menampilkan diri serapih mungkin. Kedua, harus menyiapkan kamera. Ketiga, siap beraksi.

Ada lagi teknik yang lain, yakni serangan fajar. Artinya melakukan aksi disaat yang yang sangat tak terduga. Kuncinya ialah kecepatan dan kemampuan memberi keyakinan pada orang lain. Beberapa teknik diatas membutuhkan ketenangan. Berlaku sewajar mungkin alias tidak canggung. Sikap hati-hati yang terlalu berlebihan bisa mendatangkan kecurigaan. Berusahalah tidak terlalu banyak bicara, easy going dan mengorek informasi secara perlahan. Percaya diri dan mengandalkan insting setinggi-tingginya. Kita harus berjarak dengan masalah mereka.

Hambatan terbesar yang sering membuat kita kekosongan materi investigasi adalah kurang kreatifnya wartawan di lapangan. Informasi penting tidak selalu datang dari pejabat tinggi. Jalinlah hubungan yang baik dengan setiap orang utamanya di tempat yang menjadi sasaran investigasi kita.

Dalam mengungkap kebenaran reporter tidak bisa membatasi diri dalam menerima informasi. Asal-usul informasi tidak perlu diperdulikan, yang penting informasi tersebut akurat. Informasi A1 adalah sebuah istilah bagi informasi yang sangat layak dipercaya. Sedikitnya harus memenuhi dua kriteria yakni sumber berita harus jelas identitasnya, informasi dari tersebut memang faktual. Pola liputan pers kita tidak pernah diam dan sellau mengejar berita besar terkini. Media cenderung meninggalkan kasus-kasus lama, padahal kasus tersebut masih meninggalkan banyak jejak yang pantas digali lebih dalam. Layak diinvestigasi

Reportase investigasi memiliki nilai-nilai dan norma yang harus dipatuhi. Reporter penyidikan dilukiskan sebagai gabungan antara pejuang berani mati, detektif super, dan anjing polisi yang terus menerus mencari jejak kejahatan, penjahat, koruptor, dan kelemahan moral manusia lainnya. Di sisi lain banyak orang beranggapan reporter penyelidikan tak lebih dari seorang yang ulet nan sinis, yang tujuan utama hidupnya semata ‘membalikkan setiap batu untuk melihat binatang melata yang tengah menjalar keluar dari bawah’.

Kejahatan tidak perlu dibasuh dengan kebencian. Pers ditujukan untuk menyiarkan atau menularkan nilai-nilai luhur manusia. Laporan selidikan ditulis dengan cara yang dingin tanpa emosi untuk mengumbar kebencian, tidak menggunakan kata-kata sarkas. Biasakan bersifat objektif sehingga kita bisa memelihara hati nurani untuk menjunjung tinggi kepentingan publik. Reportase investigasi seperti anjing penjaga yang siap menyalak begitu nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres di sekitarnya. Ia menjadi alat social control yang sehat dan konstruktif bagi semua kalangan. Kita sebaiknya memfokuskan diri kepada pertanggungjawaban lembaga atau individu yang merugikan khalayak luas. Hal ini karena target dari pelaporan selidikan adalah terjadinya perubahan.

II.Pembahasan

Setelah saya menyelesaikan buku ini, bingung dan kagum menghampiri benak saya. Bingung karena saya tidak dapat membedakan buku ini novel atau buku teks. Kagum karena penulis berhasil membuat saya terhanyut oleh pokok-pokok materi tentang jurnalisme investigasi melalui kisah-kisah yang disertakan untuk menjelaskan pokok-pokok materi itu. Keterhanyutan saya disebabkan oleh penggunaan yang penulis gunakan seperti bahasa tutur dan berkisah seperti yang terdapat dalam novel-novel. Bahasanya tidak kering, saya menemukan bahasa sejenis ketika saya membaca buku suntingan Andreas Harsono yang berjudul “Jurnalisme Sastrawi”. Namun karena terlalu bertutur terdapat kalimat tutur yang terasa janggal jika dituliskan, seperti kalimat “menjadi investigator yang baik harus sombong dalam tanda petik”. Pada kalimat itu seharusnya kata-kata “dalam tanda petik” tidak perlu disertakan dan membuat tanda petik pada kata “sombong”. Saya berasumsi, mungkin penulis ingin menekankan dan member makana pada kata tersebut. Namun tidak perlu bahasa tutur “dalam tanda petik” disertakan pada tulisan karena penulis bisa langsung memberi tanda petik pada kata yang dimaksud.

Pada beberapa bagian, penulis memberikan penjelasan pokok materi dengan contoh pengalaman penulis dalam melakukan investigasi. Pemaparan pengalaman ini yang menambah fokus dan ketertarikan saya. Deskripsi cukup rinci dan disisipkan kutipan dialog yang membuat ceritanya lebih hidup. Walaupun berupa potongan-potongan cerita sesuai pokok materi yang disampaikan, ceritanya tetap hidup dan menggugah pembaca yang memang tertarik tentang cerita investigatif. Saya malah sempat berpikir bahwa seharusnya penulis juga menulis buku yang isinya murni cerita tentang pengalaman penulis dalam melakukan reportase investigasi karena tak jarang contoh-contoh cerita pengalaman penulis yang tanggung dan menarik untuk dilanjutkan.

Pada awal tulisan (bagian “Awal Langkah”), tulisan masih terasa datar karena hanya memaparkan norma-norma umum dalam peliputan investigasi. Namun memasuki bagian selanjutnya,tulisan mulai memancarkan daya tariknya seiring dengan cerita-cerita yang disajikan. Pemberian subjudul juga sangat membantu pembaca dalam mengingat pokok-pokok yang disampaikan. Terdapat beberapa kata yangmasih asing di telinga saya seperti bromocorah, pangsagoe, zealous, komunitas gali. Walaupun begitu tidak mengurangi daya tarik buku ini yang bersumber dari kisah-kisah investigasi yang disajikan, menurut saya.