Penulis: Prof. Dr. Sumarsono, M.Ed.

Bab 1

Filsafat berasal dari bahasa Yunani philein “mencintai” dan Sophia “kebijaksanaan’ pengetahuan”. Dalam pengertiannya yang penuh kata tersebut hanyalah pikiran manusia (man thinking) – pikiran tentang penggeneralisasian ketimbang pengkhususan, mencoba melihat waktu dan keberadaan sesuatu sebagai suatu keseluruhan. Para filosof zaman dahulu memelajari kajian-kajian yang sekarang disebut astronomi (ilmu perbintangan), fisika, atau sejarah alami (natural history), juga kajian tentang logika, etika, dan metafisika, yang sekarang disebut filsafat.Metafisika adalah pembahasa tentang berbagai persoalan abstrak seperti hakikat manusia dan sebab musabab adanya benda. Etika membicarakan tentang benar dan salah.

Terdapat dua metode berpikir berdasarkan pendapat para filosof, yaitu metode induksi dan deduksi. Metode induksi berpangkal pada pendapat para filosoh yang menyatakan bahwa pikiran manusia berpangkal pada benda-benda yang kita lihat, dengar, rasakan, sesuai dengan pengalaman (empiri). Sedangkan metode deduksi menekankan pada hukum umum (general law) yang menaungi kenyataan-kenyataan dunia.

Sejumlah filosof berpendapat bahwa dunia ini seluruhnya terbuat dari sesuatu (barang atau benda, dari materi (matter)). Mereka disebut sebagai kaum materialis. Sedangkan golongan filosof lainnya percaya bahwa dunia ini harus dipandang tidak sebagaimana adanya melainkan kita pahami layaknya pikiran: dunia yang ada dalam pikiran. Mereka ini disebut kaum idealis.

Studi tentang berbagai langkah dan berbagai proses yang terlihat dalam penalaran (reasoning) disebut logika. Penalaran itu ada dua macam, yakni deduktif dan induktif. Jika kita memulai dengan prinsip umum lalu menarik simpulan khusus (spesifik) dari prinsip umum itu, kita menggunakan penalaran deduktif. Sebaliknya jika kita memulai dengan sejumlah fakta lalu menarik simpulan dari fakta-fakta tersebut, maka kita melakukan penalaran induktif.

Etika merupakan cabang filsafat yang berhubungan dengan perilaku manusia dari sudut pandang moral- seperti benar atau salah, bauk atau buruk.Istilah etika berasal dari kata Yunani yang berarti ‘cara’, ’adat’, atau ‘kebiasaan’; sedangkan moral berasal dari kata latin (mos/mores) yang maknanya sama dengan etika.

Apa yang dipaparkan sebelumnya merupakan rumusan tentang filsafat barat. Sebenarnya dari segi sejarah yang lebih dulu muncul adalah filsafat timur. Bedanya, filsafat timur (India dan Tiongkok) terutama mencari hakikat uhbungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan Tuhan, sehingga ruang lingkup kajiannya tertuyju pada masalah-masalah yang bersifat kosmos, metafisika, teologi, dan etika. Filsafat barat, di samping mencari jawab atas maslah-masalah mendasar tadi, juga menjawab atas masalah-masalah aktual dalam kehidupan sehari-hari melalui pengembangan ilmu dan teknologi, dan inilah yang menjadi penggerak perkembangan ilmu dan teknologi dunia.

Filsafat atau hasrat kebijaksanaan, menurut C.A. van Peursen, mulai tumbuh ketika manusia mulai bertanya disertai rasa kagum dan rasa heran. Jadi filsafat dimulai dengan bertanya. Faktor lain yang menyebabkan timbulnya filsafat adalah adanya masalah yang dihadapi manusia sepanjang hidupnya. Selain itu adalah akal budi yang merupakan faktor lain kemunculan filsafat.

Kaitan antara filsafat dan ilmu dapat dilihat dari kelahiran keduanya, yaitu sebagai hasil proses kerja akal budi yang mewujud dalam pertanyaan. Menurut C.C. Lewis pada awalnya filsafat mencakupi keseluruhan wilayah belajar segala yang derajatnya lebih tinggi dari membaca, menulis, dan matematika. Tapi pada suatu saat dapat dikatakan bahwa filsafat adalah induknya ilmu. Ilmu yang bernaung di bawah filsafat, kemudian menjadi mandiri dalam zaman modern. Pemisahan ilmu dari filsafat didahului oleh ilmu-ilmu yang tidak langsung mempersoalkan hidup dan kehidupan manusia seperti matematika, astronomi, fisika; kemudian disusul ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Hubungan keduanya juga tampak pada fungsi filsafat. Filsafat memiliki fungsi analitis, yaitu berupaya menjelaskan dan mengkaji metode, hukum, prosedur, kaidah-kaidah teoritis, termasuk penelitian, dan fungsi sintetis (atau spekulatif), yang berupaya membuat dugaan-dugaan rasional dengan melampaui batas-batas fakta-fakta ilmiah untuk menyatukan semua pengalaman manusia ke dalam suatu keseluruhan yang komprehensif dan bermakna.

Bab 2

Filsafat kebahasaan mengadung upaya untuk memecahkan masalah-masalah filosofis dengan cara menganalisis makna kata dan hubungan logis antarkata di dalam bahasa. Filsafat bahasa mengandung upaya untuk unsur-unsur umum dalam bahasa seperti makna, acuan, tindak tutur dan ketidaknalaran. Filsafat bahasa itu merupakan suatu pokok persoalan dalam filsafat; sedangkan filsafat kebahasaan terutama merupakan nama metode filosofis. Bahasan mengenai filsafat bahasa modern dapat kita lihat pada karya pakar filsafat dan matematika terkenal dari Jerman bernama Gottlob Frege. Frege ingin menunjukkan bahwa matematika diturunkan dan ditemukan pada logika. Untuk melihat perkembangan latar belakang dalam perkembangan filsafat bahasa dapat kita lihat dari pandangan Frege.

Temuan tunggal Frege yang paling penting dalam filsafat bahasa adalah pembedaan tentang arti (sense) dan acuan (reference). Dia menjelaskan pembedaan ini berdasarkan persoalan tentang pernyataan keidentikan (identitas). Frege kemudian mengembangkan pembedaan ini ke arah ungkapan predikat dan ke seluruh kalimat. Dia mengatakan di samping mengungkapkan maknanya, ungkapan predikat juga mengacu kepada konsep kalimat (setidaknya kalimat yang memunculkan persoalan kebenaran dan kekeliruan) mengungkapkan pikkran sebagai maknanya dan mempunyai referensi berupa nilai kebenaran (yaitu keadaan bahwa kalimat itu benar atau keadaan kalimat itu salah).

Karya besar setelah Frege dalam filsafat bahasa dilakukan oleh B. Russel pada tahun-tahun sebelum Perang Dunia I dan dilanjutkan oleh muridnya, L. Wittgenstein, dalam Tractatus Logico-Philosophicus. Keduanya menentang pembedaan makna dan referensi. Menurut mereka, pembedaan itu hanya bisa berlaku pada kasus-kasus sederhana tetapi untuk analisis bahasa yang betul-betul cermat ke dalam bentuk-bentuk yang paling elementer, hubungan antara kata dengan dunia luarnya akan menjadi berbeda dari perhitungan Frege. Menurut Searle, penolakan keduanya tehadap teori makna dan referensi itu merupakan kesalahan besar dan alasan-alasan yang mereka ajukan untuk menolaknya kelihatan lemah.

Setelah menolaknya, keduanya mengembangkan teori tentang bagaimana kata berhubungan dengan dunia luarnya. Russel memulai dengan membahas masalah yang dimunculkan oleh kalimat yang mengandung pemerian (deskripsi) tertentu tanpa ada hubungan (korespondensi) dengan objek.

Dengan nada yang sama dengan Wittgenstein, J.L. Austin menaruh perhatian kepada kelompok ujaran yang tidak dimaksudkan untuk menyatakan benar atau salah. Ujaran ini disebutnya ujaran performatif (yang oleh banyak orang disebut ujaran deklaratif) sebagai lawan ujaran konstatif. Ujaran konstatif, yang oleh banyak filosof disebut pernyataan (statement), mempunyai daya untuk menjadi benar atau salah. Sebaliknya ujaran perfomatif tidak bisa benar atau salah, karena ujaran ini memiliki tugas khusus yaitu dipakai untuk membentuk (perform) tindakan. Searle mengkritik teori Austin dengan menyatakan bahwa ujaran konstatif juga terbukti bisa menjadi tindak tutur (speech act), yaitu melakukan tindak (seperti perfomatif); membuat suatu pernyataan atau memerikan sesuatu sama-sama membentuk tindak tutur, seperti halnya membuat janji atau member perintah. Jadi, apa yang semula dikemukakan sebagai ujaran khusus (performatif) sekarang dimasukkan ke dalam ujaran umum (konstatif) sehingga terbentuk suatu kelas tindak tutur. Austin menyebut semua jenis tindakan tutur ini dengan tindak ilokusuoner (illocotinary act), dan mempertentangkan ini dengan tindak yang melibatkan pencapaian efek (hasil) tertentu terhadap lawan tutur.

Bab 3

Masyarakat membutuhkan sarana untuk berkomunikasi, karena dengan berkomunikasi setiap individu dalam masyarakat dapat saling memenuhi kebutuhannya. Perkembangan bahasa sejajar dengan perkembangan kondisi masyarakat itu.

Terdapat pertentangan pendapat antara masing-masing pakar bahasa maupun filosof. Aristoteles menyatakan bahwa bahasa adalah alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan manusia. Pandangan Aristoteles itu bertolak belakang dengan pandangan dua pakar bahasa Edward Sapir dan Benyamin L. Whorf, yang terkenal dengan pandangan hipotesis Sapir-Whorf. Hipotesis ini menyatakan bahwa bahasa ibu kita yang kita kuasai sejak kecil bertindak sebagai kisi-kisi dalam benak kita, yang menghalangi pandangan kita dalam melihat dunia luar ketika menggunakan bahasa.

Selain Sapir dan Whorf, pakar linguistik seperti Leonard Bloomfield tidak sependapat dengan batasan Aristoteles. Bloomfield termasuk pengikut aliran behaviorosme dalam hal psikologi, yang lebih mementingkan struktur daripada makna. Batasan yang diajukan oleh pakar linguistik ini adalah bahasa merupakan sistem lambing bunyi yang bersifat sewenang-wenang, yang dipakai oleh anggota masyarakat untuk berkooperasi dan berinteraksi.

Ferdinand de Saussure membedakan antara bahasa (language) dan tutur (speech), atau antara langue (bahasa) dan parole (tutur). Kalau bahasa itu kita pandang sebagai satuan kaidah maka kita melihatnya sebagai language. Kalau kita memandang bahasa sebagai bunyi-bunyi ujaran maka kita melihatnya sebagai parole. Perbedaan antara bahasa dan tutur menurut Stephen Ullman adalah :

BAHASA TUTUR
Sandi (kode) Penyandian(pengenkodean)
Potensial Diaktualisasikan
Sosial Individu
Pasti (fixed) Bebas
Bergerak lamban Bergerak cepat-singkat
Psikologis Psikofisik

Terdapat dua kepercayaan mengenai kelahiran bahasa, hipotesis monogenesis dan hipotesis polygenesis. Hipotesis monogenesis menyatakan bahwa semua bahasa di dunia berasal dari satu bahasa induk, yaitu anugerah dari Tuhan. Kemudian pandangan ini ditentang oleh J.G. von Herder yang termasuk ke dalam hipotesis poligenesis. Menurut Jerder, kalau betul bahasa berasal daru Tuhan maka tidak mungkin bahasa itu begitu buruk dan tidak selaras dengan logika, karena Tuhan maha sempurna.

Ada tiga teori yang muncul tentang hal ini, yakni teori behaviorisme yang mengatakan bahwa pemerolehan bahasa anak sangat ditentukan oleh faktor eksternal melalui mekanisme stimulus respon, dengan cara meniru ujaran orang dewasa. Teori lain mengatakan anak sejak lahir memiliki perabot pemerolehan bahasa yang mempu mengilah korpus ujaran menjadi kaidah gramatika, sedangkan teori baru melihat pentingnya faktor internal dan eksternal dalam pemerolehan bahasa.

Bab 4

Dibayang-bayangi oleh filosof Yunani, Aesnessidemus, dipelopori pada akhir abad 19 oleh pemikir Amerika C.S. Peirce, teori tentang tanda itu sudah mulai menampakkan dirinya sehingga dalam beberapa dasawarsa terakhir ini sudah mandiri dan menjadi disiplin ilmu yang sangat kompleks. Peirce menyebut ilmu ini dengan semiotik (semiotics), yang dulu disebut semasiologi (ilmu tentang makna) oleh C. Chr. Reisig dan kemudia oleh Saussure disebut semiologi

Dalam perkembangannya, semiotik dibagi menjadi beberpa cabang, yakni:

  1. Semantik, berhubungan dengan makna dan tanda-tanda
  2. Sintaksis, berhubungan dengan gabungan (kombinasi) tanda-tanda,
  3. Pragmatik, berhubungan dengan asal-usul, pemakaian, dan akibat pemakaian tanda-tanda itu dalam perilaku.

Untuk memahami bahasa sebagai tanda, kita perlu mempelajari teori segitiga dasar yang memandang kata sebagai tanda (lambing) yang berhubungan langsung dengan makna (konsep) dan hubungan tidak langsung dengan acuan (referen). Saussure memandang tanda bahasa itu dari dua acuan saja, yaitu: significant (penanda; citra akustis) dan signifie (konsep; petanda).

Hubungan antara tanda dan yang ditandai itu tidak selamanya jelas dan sebabnya bisa bermacam-macam, bisa pada makna bisa pula pada konteksnya. Ullman mengemukakan empat penyebab kekaburan batas makna, yaitu sifat generik kata, berbagai wajah kata, keurang jelasan acuan, dan kekurangakraban kita pada acuan.

Bab 5

Bahasa merupakan hasil dari kebudayaan suatu masyarakat yang berfungsi untuk berkomunikasi. Dari fungsi uatma dan dasar tersebut berkembanglah fungsi-fungsi sosial yang lain seperti sebagai alat pemersatu, sebagai bahasa resmi, dan lainnya. Dari fungsi utama itu muncul banyak fungsi komunikatif yang hakikatnya merupakan fungsi. Tutur dan dalam beberapa hal serupa dengan tindak tutur. Fungsi komunikasi sosial pada manusia bukan hanya dilakulkan oleh bahasa, melainkan dengan berbagai tanda yang lain seperti bunyi-bunyian, lampu dan sebagainya. Bahasa yang hakikatnya lisan itu kemudian dibuatkan tulisan, dari tulisan kemudian diturunkan lagi menjadi morse dan Braille, yang khusus untuk tujuan tertentu.

Beberapa sarjana bahasa dan psikologi mengemukakan perincian fungsi komunikaif bahasa, jika diringkas terdapat sekitar 15 fungsi. Beberapa diantaranya fungsi emosi personal, fungsi ritual, fungsi interaksi dan lainnya.

Bab 6

Bahasa merupakan buah pikiran manusia. Pikiran mengahasilkan bahasa karena tuntutan pemenuhan kebutuhan untuk berkomunikasi. Secara tidak langsung, pikiran manusia timbul akibat tuntutan kondisi hidup manusia itu sendiri. Kemampuan manusia untuk berpikir ditunjang dengan kondisi fisiologis manusia yang memungkinkan untuk menggunakan otaknya secara maksimal. Dalam berpikir manusia memilki kaidah berpikir, kaidah bernalar. Salah satu kaidah penalaran ialah kaidah asosiasi, yaitu mengatur hubungan makna yang mewujud dalam sinonimi, antonimi, hiponimi, polisemi, dan seterusnya. Dari asosiasi itu pula kita bisa menciptakan kaidah bandingan yang mewujud, misalnya, dalam metafora atau kias.

Kaidah penalaran lain adalah induksi dan deduksi, yang merupakan wujud dari kemampuan nalar kita untuk menarik simpulan-simpulan umum atau mengurai teori, prinsip, rumus, hukum, dan sebagainya menjadi hal-hal yang spesifik. Kemampuan itu harus diasah terus menerus karena jika tidak maka akan terjadi salah nalar.

Bab 7

Penalaran hakikatnya ialah proses menafsirkan atau menghubungkan fakta-fakta sevagai dasar untuk menyimpulkan atau mengklasifikasikan. Fakta di luar diri kita jumlahnya tidak terbatas, tapi nalar kita mampu mengorganisasi melalui berbgai cara misalnya dengan mengklasifikasi. Klasifikasi hanyalah memasukkan fakta-fakta ke dalam suatu hubungan logis berdasarkan sistem tertentu. Klasifikasi mempunyai kriteria tertentu yang memunculkan kelas bawahan. Jumlah kelas bawahan ini menentukan jenis klasifikasi: dikotomis memiliki dua kelas bawahan saja dan kompleks.

Klasifikasi mempunyai hubungan yang erat dengan definisi, karena definisi (batasan) memang membatasi makna sebuah makna atau konsep dan membatasi berarti memasukkan sesuatu ke dalam suatu golongan atau kelas. Hubungan erat tadi dapat dilihat pada kriteria yang digunakan oleh klasifikasi dan definisi. Definisi memiloiki beberapa syarat yaitu logis, sesuai dengan fitur-fitur makna yang dasar, mampu membedakan kata yang didefinisikan dengan kata lain, dan diawali dengan kriteria umum. Di dalam definisi terkandung makna atau konsep sebagaimana juga tampak pada model-model yang digunakan kamus. Ada empat jenis definisi yaitu definisi nominal, formal, operasional, dan luas.