“Konsep tahun 2005 itu memadukan antara ruang pameran museum dengan konsep galeri yang bertumpu pada empat hal, yaitu rekreatif, persuasif, atraktif, dan komunikatif,” jelas Desmond S. Andrian S.s, staf seksi publikasi dan promosi nilai-nilai Konferensi Asia Afrika (KAA) mengenai pembaharuan konsep ruang pameran Museum KAA yang merupakan strategi untuk mempengaruhi dan menarik minat pengunjung, khususnya generasi muda, dengan cara memperbaharui konsep museum agar dapar menarik minat pengunjung.

Siang, sekitar pukul sebelas, itu sang raja cahaya bercokol di langit dengan gagahnya. Sinarnya yang panas menghujam bumi tanpa belas kasihan pada manusia yang tengah lelah bekerja menjalani hidup. Namun panasnya cuaca siang itu sangat bertolak belakang dengan keadaan ruang pameran Museum KAA yang sejuk karena telah dipasang mesin pengondisi udara (baca: air conditioner). Berbeda dengan sebelum tahun 2005, Museum KAA Jalan Asia Afrika nomor 65 Bandung, kini tengah dalam perjalanannya menuju museum bertaraf internasional.

Siang itu juga nampak sibuk Desmond yang mengenakan seragam hitam-hitamnya, mondar-mandir keluar masuk ruang pameran melayani pengunjung museum, baik itu perorangan maupun rombongan. Desmond merupakan staf seksi publikasi dan promosi nilai-nilai Konferensi Asia Afrika (KAA) yang sehari-harinya disibukkan untuk melayani kunjungan tamu museum. Memang ada beberapa staff yang bekerja tiap harinya, namun Desmond-lah yang bertugas dan memang cakap dalam melayani tamu. Keahliannya itu ditunjang dengan wawasannya yang cukup luas mengenai sejarah dan kemahiran berinteraksi dengan pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ruang pameran museum kini telah berubah total dari yang tadinya alakadarnya menjadi syarat teknologi. Alakadarnya dapat dilihat dari penataan ruangan yang seadanya, pencahayaan yang kurang, foto-foto yang ditampilkan hanya dengan ditempel pada sekat-sekat ruangan dalam ruang pameran, dan penampilannya yang bisa dibilang jadul alias jaman dulu. Penampilannya yang jadul itu mungkin yang menyebabkan kurangnya minat orang untuk berkunjung.

Setelah dilakukan perombakan konsep dan penataan ulang, ruang pameran Museum KAA kini berubah seratus delapan puluh derajat, jauh dari kesannya yang jadul. Tidak seperti sebelum renovasi dan penataan ulang, kini pencahayaan museum sangat baik. Selain itu foto-foto mengenai sejarah berukuran besar dipajang dengan dilapisi bahan seperi kaca dan disinari lampu kecil di atas masing-masing foto yang menimbulkan kesan mewah. Ruang pameran dirancang dengan gaya modern yang dapat menarik perhatian pengunjung.

Ruang pameran kini dilengkapi dengan fasilitas pengondisi udara dan fasilitas multimedia interaktif. Ruangan yang sejuk membuat pengunjung betah berlamBola Duniaa-lama di dalam ruangan. Semakin betah pengunjung, berkemungkinan semakin banyak informasi yang akan didapat. Terdapat alat pemutar film mengenai sejarah KAA yang dapat dioperasikan sendiri oleh pengunjung. Juga terdapat wahana multimedia interaktif yang memang dirancang bagi kemudahan pengunjung. Terdapat tiga wahana multimedia. Informasi yang disampaikan oleh masing-masing wahana multimedia itu berbeda-beda. Terdapat wahana multimedia yang berisi tentang sejarah KAA, Gedung Merdeka, dan Museum KAA itu sendiri. Ada juga yang berisi tentang profil dari negara peserta KAA dan biografi delegasi-delegasi KAA. Dan satu lagi berisi tentang peringatan-peringatan setelah KAA 1955.

Keadaan museum yang nyaman, modern, dan syarat teknologi ini berkat perbaikan dan penataan ulang yang dilakukan pada 2005 dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika 2005 dan Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika 1955 pada 22 – 24 April 2005, tata pameran Museum Konperensi Asia Afrika direnovasi atas prakarsa Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Dr. N. Hassan Wirajuda. Penataan kembali Museum tersebut dilaksanakan atas kerja sama Departemen Luar Negeri dengan Sekretariat Negara dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Perencanaan dan pelaksanaan teknisnya dikerjakan oleh Vico Design dan Wika Realty.

Pengunjung yang datang ke Musem KAA ini tidak hanya siswa-siswa, baik sekolah dasar maupun menengah, tapi juga dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, peneliti, wartawan, organisasi atau instansi asing, organisasi lokal, juga wisatawan dalam dan luar negeri. Selain itu, tamu negara juga menyempatkan berkunjung ke museum ini tiap tahunnya.

Tiap tahunnya, Museum KAA mengalami kenaikan jumlah pengunjung. Apalagi setelah mengalami renovasi dan pembaruan konsep. Menurut data pengunjung Museum KAA yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Republik, jika sebelum mengalami pembaruan Museum KAA dikunjungi oleh sekitar 30 ribu pengunjung dari sekolah menengah setiap tahunnya, namun tahun 2007 lalu jumlah pengunjung dari sekolah menengah sudah mencapai jumlah 40 ribu dengan penghitungan dari awal tahun hingga Juni saja. Dapat dibayangkan peningkatan pesat dari segi jumlah pengunjung.

Peningkatan jumlah pengunjung yang begitu pesat dapat diartikan sebagai keberhasilan Museum KAA untuk menarik minat sekolah-sekolah untuk mengunjungi dan mendapatkan pembelajaran di sana. Dari peningkatan tersebut, Museum KAA dengan mudah dapat mewujudkan misinya dalam menumbuhkan nasionalisme pada generasi muda Indonesia, selain mengembangkan kerjasama antar masyarakat negara-negara Asia Afrika.

Sekilas Sejarah Museum KAA

Pendirian dan penetapan Museum KAA merupakan tindak lanjut dari apa yang sudah dicapai melalui Konferensi Asia Afrika 24 April 1955. Konferensi tersebut melahirkan Dasa Sila Bandung yang kemudian menjadi pedoman bangsa-bangsa terjajah di dunia dalam perjuangan memperoleh kemerdekaannya dan yang kemudian menjadi prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia. Kesuksesan konferensi ini tidak hanya tampak pada masa itu, tetapi juga terlihat pada masa sesudahnya, sehingga jiwa dan semangat Konferensi Asia Afrika menjadi salah satu faktor penting yang menentukan jalannya sejarah dunia.

Semua itu merupakan prestasi besar yang dicapai oleh bangsa-bangsa Asia Afrika. Jiwa dan semangat Konferensi Bandung telah berhasil memperbesar volume kerja sama antar bangsa-bangsa Asia dan Afrika, sehingga peranan dan pengaruh mereka dalam hubungan percaturan internasional meningkat dan disegani.

Dalam rangka membina dan melestarikan hal tersebut, adalah penting dan tepat jika Konferensi Asia Afrika beserta peristiwa, masalah, dan pengaruh yang mengitarinya diabadikan dalam sebuah museum di tempat konferensi itu berlangsung, yaitu di Gedung Merdeka di Kota Bandung, kota yang dipandang sebagai ibu kota dan sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa Asia Afrika.

Sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M., sering bertemu muka dan berdialog dengan para pemimpin negara dan bangsa Asia Afrika. Dalam kesempatan-kesempatan tersebut beliau sering mendapat pertanyaan dari mereka tentang Gedung Merdeka dan Kota Bandung tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika. Berulang kali pembicaraan tersebut diakhiri oleh pernyataan keinginan mereka untuk dapat mengunjungi Kota Bandung dan Gedung Merdeka.

Terilhami oleh hal tersebut serta kehendak untuk mengabadikan Konferensi Asia Afrika, maka lahirlah gagasan beliau untuk mendirikan Museum Konperensi Asia Afrika di Gedung Merdeka ini. Gagasan tersebut dilontarkan dalam forum rapat Panitia Peringatan 25 tahun Konferensi Asia Afrika (1980) yang dihadiri antara lain Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Haryati Soebadio sebagai wakil dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata gagasan itu mendapat sambutan baik, termasuk dari Presiden Republik Indonesia Soeharto.

Gagasan pendirian Museum Konferensi Asia Afrika diwujudkan oleh Joop Ave sebagai Ketua Harian Panitia Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika dan Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, bekerja sama dengan Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat, dan Universitas Padjadjaran. Perencanaan dan pelaksanaan teknisnya dikerjakan oleh PT. Decenta, Bandung.

Membangun Nasionalisme dan Kerjasama Antar Negara KAA

Awalnya Museum KAA didirikan hanya untuk mengabadikan hasil dari Konferensi Asia Afrika berupa nilai-nilai luhur Konferensi Asia Afrika. “Inisiatif mendirikan Museum KAA ini berasal dari Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M., dengan tujuan awalnya untuk mengabadikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Konferensi Asia Afrika dalam sebuah museum,” ungkap Desmond S. Andrian S.s, staf seksi publikasi dan promosi nilai-nilai KAA. Namun seiring dengan tuntutan zaman dan kepentingan zaman itu, maka terjadi perubahan orientasi dari sekedar mengabadikan nilai-nilai luhur KAA menjadi menyebarkan nilai-nilai KAA untuk membangun nasionalisme generasi muda Indonesia lewat pembelajaran sejarah. Selain itu juga mendukung pada tujuan politik luar negeri Indonesia. “Tujuan museum ini pada akhirnya akan mendukung kegiatan pendidikan terutama pembelajaran sejarah, mendukung berhasilnya kegiatan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, mendukung kegiatan pariwisata, dan menjadi pendukung untuk menumbuhkan bibit nasionalisme di kalangan generasi muda terutama pada saat ini di saat maraknya terjadi disintegrasi,” lanjut Desmond.

Untuk merealisasikan tujuan itu maka harus dilakukan strategi untuk mempengaruhi dan menarik minat pengunjung, khususnya generasi muda, dengan cara memperbaharui konsep museum agar dapar menarik minat pengunjung. Pembaruan dilakukan pihak museum pada 2005 sekaligus dalam rangka memperingati 50 tahun KAA. “Konsep tahun 2005 itu mamadukan antara ruang pameran museum dengan konsep galeri yang bertumpu pada empat hal, yaitu rekreatif, persuasif, atraktif, dan komunikatif,” jelas Desmond.

Selain perubahan konsep ruang pameran yang dilakukan pada 2005, museum KAA nantinya akan dijadikan museum bertaraf internasional. Hal itu telah disampaikan oleh Direktur Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri (Deplu), Umar Hadi, pada acara pengukuhan Sahabat KAA di kantor Deplu awal November lalu. Desmond selaku staf Museum KAA juga menjelaskan mengenai rencana pembangunan yang akan dilakukan pada 2008. “Yang ingin dikembangkan pada tahun 2008 adalah ruang pameran KTT KAA 2005. Hal itu merupakan permintaan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau menginginkan agar KTT KAA 2005 dimonumenkan. Nantinya perpustakaan yang sekarang iniakan dipindahkan ke belakang dan akan dibangun kembali sebuah perpustakaan modern yang dapat dialkses oleh tuna netra, penyandang cacat, ada hotspot, café, dan lainnya yang akan membuat perpustakaan menjadi nyaman untuk dikunjungi. Selain pembangunan perpustakaan, akan dibangun ruangan pameran KTT KAA 2005, dan ruangan identitas nasional,” jelas Desmond antusias.

Usaha Museum KAA dalam mencapai tujuannya memang dalam tahap perealisasian. Usaha yang dilakukan Museum KAA beserta dukungannya dari pemerintah merupakan langkah nyata dalam menjadikan Museum KAA sebagai wisata edukasi. Dapat dilihat dengan renovasi, pembangunan, perubahan konsep yang dilakukan untuk menarik minat pengunjung museum, khususnya generasi muda, agar tertarik untuk mengunjungi museum dan perpustakaan. Dengan meningkatnya minat generasi muda untuk megunjungi museum dan perpustakaan KAA, diharapkan akan meningkatkan nasionalisme mereka lewat pembelajaran sejarah dan bersama memajukan bangsa. Usaha itu patut diacungi jempol. Bukannya tidak mungkin tujuan luhur Nuseum KAA dapat teralisasi. Namun, apa yang dilakukan Museum KAA hanya merupakan salah satu faktor dalam mewujudkan tujuan berbangsa yang mulia. Masih banyak faktor-faktor lain yang harus diperhatikan dan dibenahi agar perwujudan tujuan itu akan menemukan jalannya. Perlu kerjasama dan pembagian kerja antar sektor seperti peninjauan kembali sistem pendidikan yang ada sekarang. Apakah sistem pendidikan yang sudah ada mendukung untuk membangun kesadaran nasionalisme? Apakah sistem perekonomian rakyat mendukung bagi mereka untuk menyekolahkan anaknya dan mendukung kecerdasan nasional? Apakah ekonomi negara mampu membiayai sistem pendidikan demi peningkatan mutu pendidikan? Masih terdapat beberapa hal lain yang harus dibenahi sebelum menuju tujuan mulia tersebut.