“Kebrutalan dunia atau manusia banyak disebabkan tersingkirnya nilai-nilai (value) kebudayaan etnis. Nilai-nilai ini hanya direkam oleh bahasa daerah atau bahasa ibu sehingga bila ingin peradaban berkembang secara baik, kembalilah ke budaya asal dan memakai bahasa ibu”.

Pernyataan di atas dikutip dari berita pada Harian Pikiran Rakyat edisi (17/9) 2003, yang isinya membahas mengenai himbauan UNESCO untuk kembali pada bahasa ibu. Pada berita itu dituliskan bahwa penggunaan bahasa daerah atau bahasa ibu pada suatu bangsa dapat turut memperbaiki moral bangsa itu sendiri. Karena itu juga UNESCO pada November 1999 menetapkan 21 Pebruari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.

Banyak pihak setuju bahwa bahasa ibu merupakan faktor penting dalam proses pembentukan moral bangsa. Mulai dari akademisi, budayawan, hingga UNESCO pun turut menyuarakan pentingnya penggunaan bahasa ibu. Dari anggapan itu kita bertanya-tanya, mengapa bahasa ibu dikatakan sebagai faktor pembentuk moral? Jika memang bahasa ibu berperan sebagai pembentuk moral, berarti telah terjadi degradasi moral karena banyak bahasa ibu yang sudah mulai berkurang penuturnya. Salah satunya bahasa Sunda yang penuturnya tinggal 30 persen seperti dikatakan Gugun Gunadi, dosen yang mengajar di Jurusan Sastra Sunda Universitas Padjadjaran.

Bahasa dan Moral

Kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang menyangkut dengan akal dan budi. Menurut asal katanya, kebudayaan berasal dari buddhayah (bahasa Sansekerta) yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Oleh antropolog C. Kluckhon dalam karyanya yang berjudul Universal Categories of Culture memaparkan tujuh unsur pokok kebudayaan dan bahasa termasuk dalam tujuh unsur pokok tersebut. Selo Soemardjan dan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karsa, rasa, dan cipta masyarakat dan bahasa juga termasuk ke dalam hasil karsa, rasa, dan cipta masyarakat.

Posisi bahasa dengan kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Jika melihat definisi sederhana mengenai kebudayaan yang ditulis di atas, bahasa merupakan merupakan hasil karsa masyarakat (kebudayaan) yang dijadikan alat untuk memenuhi kebutuhannya dalam melangsungkan hidupnya, yaitu kebutuhan untuk berkomunikasi. Karsa masyarakat, mewujudkan norma dan nilai-nilai sosial yang sangat perlu untuk mengadakan tata tertib dalam pergaulan masyarakat. Norma-norma dan nilai-nilai itu yang nantinya membentuk standar moral dalam masyarakat. Karena posisi bahasa dan kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan membuatnya identik dengan moralitas. Namun, tidak ada dalil atau hukum yang menjelaskan bahwa bahasa merupakan faktor pembentuk baik atau buruknya moral.

Penulis jadi teringat akan pernyataan Drs. H.R. Hidayat Suryalaga dari Lembaga Kebudayaan Univesitas Pasundan pada “Ceramah Budaya dan Tata Krama Sunda” yang diadakan tiga tahun lalu di Bandung. Pernyataan itu juga dimuat pada Harian Pikiran Rakyat (16/9) 2003. Saat itu ia mengatakan bahwa kalau mau memperbaiki moral bangsa (Indonesia) harus dimulai dari bahasa ibunya, baik bahasa Cirebon, Indramayu, Banten, Sunda, Jawa, dan Bali. Jika dihilangkan bahasa ibunya jangan harap moral suatu bangsa dapat diperbaiki. Dari pernyataan tersebut saya menginterpretasikan bahwa seolah-olah yang bertanggung jawab atas baik buruknya moral adalah penggunaan bahasa ibu. Saya melihat adanya jumping conclusion pada pernyataan Bapak Hidayat. Asumsinya meloncat. Karena kebudayaan menghasilkan norma, etika, dan moral dalam masyarakat, maka bahasa sebagai salah satu produk kebudayaan turut bertanggung jawab atas pembentukan moral bangsa.

Pengaruh Globalisasi

Menurut penulis, masalah degradasi moral tidak lagi ditentukan oleh faktor yang berkaitan dengan kebudayaan. Memang norma dan moral suatu masyarakat dilahirkan dari kebudayaan suatu masyarakat. Tapi dalam perjalanannya, moral suatu masyarakat tidak lagi ditentukan oleh kebudayaan itu, melainkan penetrasi arus informasi yang semakin terbuka akibat adanya globalisasi. Globalisasi yang lahir akibat mendominasinya rezim kapitalisme terhadap peradaban dunia telah membuat kebudayaan dunia seragam. Proses globalisasi akan menghapus identitas dan kebudayaan lokal akan ditelan oleh kekuatan budaya besar atau kekuatan budaya global. Kebudayaan global yang merambah ke hampir seluruh penjuru dunia merupakan dampak dari overproduksi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional yang kebanyakan berasal dari barat. Overproduksi tersebut telah memaksa masyarakat untuk mengonsumsi produk-produk tersebut hingga akhirnya masyarakat secara tidak sadar telah menjadi konsumtif. Konsumtif, yang berarti mengonsumsi produk karena keinginan bukan karena kebutuhan, telah menjadi budaya global akibat mendominasinya rezim kapitalisme dengan perusahaan-perusahaan multinasionalnya yang berekspansi ke seluruh penjuru dunia demi meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Budaya konsumtif yang terjadi pada masyarakat lantas berdampak pada “produk-produk” lokal yang salah satunya adalah kebudayaan lokal. Masyarakat lebih memilih produk-produk yang berasal dari asing (barat) seperti baju, sepatu, jam tangan dengan merk dari luar negeri, sampai cara berpakaian juga berasal dari budaya barat, bahkan bahasa pun merupakan adaptasi dari bahasa asing (bahasa Inggris). Bahasa asing telah menjadi menggeser posisi bahasa daerah di Indonesia. Bahkan bahasa Indonesia sendiri telah menggeser bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari (bahasa ibu) masyarakat daerah. Bahasa daerah dianggap ketinggalan jaman bagi sebagian masyarakat. Masuknya budaya asing tidak lepas dari peran media massa sebagai sumber informasi masyarakat. Media massa yang di dalamnya terdapat berbagai kepentingan, termasuk kepentingan pengiklan dan pemilik modal korporasi media itu sendiri, telah menjadi agen pembawa kebudayaan global yang seragam itu.

Bahasa sebagai Sejarah dan Identitas Bangsa

Kita harus memandang permasalahan berkurangnya penutur bahasa daerah yang membuat bahasa daerah yang hampir punah bukan sebagai masalah moral tetapi masalah aset bangsa yang harus diselamatkan. Kebudayaan daerah merupakan kekayaan bangsa yang harus diselamatkan dari terpaan globalisasi. Bukan karena menyangkut penurunan moral bangsa jika bahasa daerah berkurang penuturnya, tetapi lebih kepada resistensi terhadap serangan budaya global akibat kapitalisme yang mengglobal. Perkembangan kebudayaan suatu masyarakat dari waktu-waktu merupakan rekaman sejarah yang harus diabadikan karena masyarakat dapat menghadapi lika-liku kehidupan karena belajar dari sejarah. Maka kebudayaan daerah harus dipertahankan.

Selain karena memiliki nilai sejarah, suatu budaya juga merupakan identitas suatu masyarakat. Hal itu yang membedakan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Dengan hadirnya era globalisasi yang berdampak pada lahirnya kebudayaan global yang seragam, yang dapat menghilangkan budaya lokal di seluruh dunia, maka resistensi budaya lokal harus ditingkatkan sebagai counter-culture terhadap budaya global itu. Budaya daerah harus dapat tetap eksis. Walaupun penuturnya sudah berkurang namun bahasa daerah dapat dilestarikan dengan cara pemberian apresiasi terhadap bahasa daerah-bahasa daerah yang ada di Indonesia. Kongres-kongres bahasa atau workshop dapat dilakukan seperti yang akan dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Barat terhadap bahasa Cirebon dan Melayu Betawi pada tahun 2007 ini.

Memang terdapat kekurangan mengenai penggunaan bahasa daerah dalam masyarakat yang telah terpengaruh budaya global. Masyarakat, khususnya generasi muda, jarang yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibunya. Jarang juga dari mereka yang bisa berbahasa daerah. Akibatnya penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa percakapan sehari-hari (bahasa ibu) menjadi kurang efektif. Apalagi digunakan dalam dunia kerja yang di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak hanya berasal dari satu daerah saja. Maka bahasa Indonesia yang menjadi pilihan untuk berkomunikasi agar tidak terjadi hambatan dalam berkomunikasi.

Walau begitu, bahasa daerah harus tetap dilestarikan dan menjaganya dari kepunahan karena bahasa merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang harus tetap dihargai.