Sastra Indonesia dalam perkembangannya tidak luput dari masalah yang mengiringinya. Mulai dari masalah fenomena kritik sastra yang ditengarai telah menjadi sebuah krisis dalam perkembangan sastra Indonesia hingga masalah apresiasi sastra sebagai “titik awal” mencintai dan (mencoba) memahami karya sastra.

Persoalan apresiasi menjadi masalah mendasar selama ini. Bentuk-bentuk apresiasi yang dilakukan selama ini, terutama yang berkaitan dengan pengajaran sastra di sekolah, dirasa kurang dan menjadi faktor yang krusial bagi kehidupan sastra di Indonesia yang perlu dibenahi. Kenyataannya sekarang ini apresiasi yang diajarkan di sekolah tidak membuka ruang interpretasi, melainkan lebih menekankan pada pengahapalan nama-nama sastrawan, periodisasi karya sastra, dan sederet judul karya sastra. Siswa jarang, bahkan tidak diberi kesempatan untuk mendiskusikan karya-karya sastra sehingga siswa tidak dapat menghayati nilai sastra dan memberikan penilaian atau pemikiran mereka terhadap karya sastra itu.

Selama ini pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Umum (SMU) terpaku pada paradigma penekanan pada linguistik, yaitu ilmu tentang bahasa, ke penekanan pada pengertian dan apresiasi sastra. Untuk menumbuhkan itu semua, tentulah dituntut penyelenggaraan pelbagai program yang kian terarah dan terfokus bagi tumbuhnya apresiasi siswa (atau masyarakat pada umumnya) terhadap karya sastra Indonesia. Tentu, semua itu mesti diupayakan dengan pelan, tetapi intens dan sinergis, yang melibatkan siswa dan guru untuk lebih terbuka menerima karya sastra sebagai karya yang mengandung banyak kemungkinan. Di sinilah, peran sastrawan sendiri menjadi krusial: bagaimana ia juga mesti menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses belajar-mengajar di sekolah. Menurut Sapardi Djoko Damono, peran guru sangat berpengaruh dalam hal pengajaran apresiasi sastra. Guru sastra harus memiliki kompetensi yang baik dalam mengajarkan ilmunya kepada muridnya.

“Tidak usah itu, tidak usah. Nanti kalau pemerintah turut campur malah repot. Biar saja sastra itu berjalan dengan sendirinya. Kalau pemerintah mulai turut campur nanti malah bikin susah orang. Ada aturan yang begini, begini, begini. Ndak boleh. Jangan. Nanti malah membatasi kebebasan orang berkarya. Toh kalau turut campur, pemerintah tidak kasih duit kan? Mana kasih duit pemerintah. Sastrawan bisa cari duit sendiri kok.”

Menururt Sapardi juga, pemerintah tidak usah turut campur dalam pengembangan dunia sastra di Indonesia. Dengan tidak turut campur berarti pemerintah telah membantu dunia sastra Indonesia menemukan jalannya sendiri. Bagi Sapardi, sastra memiliki fungsi penting dalam kehidupan. Karena itu apresiasi sastra harus dikembangkan agar para sastrawan terus berkarya dan karya sastra kian lestari. Sastra memiliki fungsi sebagai salah satu alat untuk mereproduksi nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.

Sapardi Djoko Damono yang merupakan dosen pascasarjana dan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dikenal sebagai salah seorang sastrawan yang memberi sumbangan besar kepada kebudayaan masyarakat modern di Indonesia, terutama di bidang sastra. Penyair yang pernah di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat, ini telah banyak mengahasilkan karya sastra, diantaranya Duka Mu Abadi (1969), Mata Pisau dan Aquarium (1974), dan masih banyak lagi. Selain menulis karya sastra, dia juga menulis buku ilmiah, satu diantaranya Sosiologi Sastra : Sebuah Pengantar Ringkas (1978). Sebuah karya besar yang pernah ia buat adalah kumpulan sajak yang berjudul Perahu Kertas dan memperoleh penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta dan kumpulan sajak Sihir Hujan, yang dibuatnya saat ia sedang sakit, memperoleh Anugerah Puisi Poetra Malaysia.

Berikut wawancara Ahmad Denoan Rinaldi dengan Sapardi Djoko Damono, setelah acara bedah buku “Malam Memeluk Intan” yang diadakan di aula B Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Wawancara dilakukan pada hari Minggu 18 Desember 2005 di ruang jurusan Sastra Indonesia.

Dalam seminar dan bedah buku”Malam Memeluk Intan”, bapak mengatakan bahwa sastra merupakan tanggapan evaluatif seseorang. Jadi seorang sastrawan dalam mengahasilkan karyanya di pengaruhi oleh latar belakang kehidupan, seperti latar belakang pendidikan, kelas sosial, dan sebagainya. Nah menurut bapak, sastra bapak ini mewakili golongan masyarakat mana?

Ya…golongan masyarakat saya. Saya tidak tahu golongan masyarakat mana. Mungkin tidak hanya di sini, di Philipina itu, yang menjadi sastrawan itu kebanyakan golongan menengah ke atas. Karena mereka dapat dengan mudah mengakses fasilitas untuk belajar seperti membeli buku, ke perpustakaan, dan sebagainya. Kelebihan materi pada masyarakat kelas menengah ke atas memang memberi kemudahan dalam belajar sastra, tapi tidak menutup kemungkinan memberi peluang untuk kelas-kelas yang lebih rendah.

Sekarang karya sastra di Indonesia dipenuhi oleh karya-karya seperti novel-novel chicklit. Menurut bapak, sastra Indonesia sekarang sedang bergerak ke arah mana?

Tidak ada kecenderungan aliran sastra mana yang sedang nge-trend atau maju bahkan mundur. Seperti karya Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu, dan lainnya. Jadi masing-masing aliran sastra bergerak sendiri-sendiri. Tidak ada kecenderungan aliran sastra yang sedang boom. Kadang-kadang ada karya sastra yang banyak dibaca oleh berbagai golongan, tapi ada juga karya sastra yang dibaca pada kalangan terbatas.

Sastra yang disukai berawal dari opini umum sedangkan sastra yang baik itu yang bisa keluar dari opini umum. Menurut bapak bagaimana?

Oh…tidak. Bisa saja sastra yang baik, yang keluar dari opini publik, disukai orang banyak Seperti Saman, contoh karya sastra yang baik, sudah cetak ulang beberapa kali. Berarti laku kan? Bahkan lebih banyak daripada chicklit-chicklit yang sedang menjamur belakangan ini. Bukan hanya chicklit yang laku. Chicklit-chicklit juga tidak semuanya laku. Hanya beberapa saja, seperti Cintapuccino. Tidak ada itu aturan bahwa sastra yang disukai, yang sesuai dengan trend pasar, yang laku. Tergantung promosi dan memasarkannya pula. Jika ada buku baru dan pemasarannya baik, maka orang akan tahu….”oooo, ini ada buku baru toh”.

Seperti apa sastra yang baik?

Oh susah kalau mendefinisikan sastra yang baik. Sastra yang baik itu menempatkan ukuran-ukuran. Ukuran-ukuran itu kan pribadi. Jadi, kalau dalam ilmu sastra terdapat nilai-nilai yang dianut. Tapi kalau menurut saya pribadi, itu tergantung selera. Saya suka yang mana. Dan orang juga bisa memilih yang mana yang dia suka. “Saya suka ini, saya suka itu”, itu tidak berarti kita harus mengatakan untuk tidak kepada yang lain. Selera, itu sama sekali selera. Sulit ya, kecuali kalau sudah ada aturan-aturannya.

Apa yang harus dilakukan pemerintah agar sastra Indonesia bisa lebih dihargai oleh bangsanya sendiri?

Tidak usah itu, tidak usah. Nanti kalau pemerintah turut campur malah repot. Biar saja sastra itu berjalan dengan sendirinya. Kalau pemerintah mulai turut campur nanti malah bikin susah orang. Ada aturan yang begini, begini, begini. Ndak boleh. Jangan. Nanti malah membatasi kebebasan orang berkarya. Toh kalau turut campur, pemerintah tidak kasih duit kan? Mana kasih duit pemerintah. Sastrawan bisa cari duit sendiri kok.

Bukan itu pak, misalnya bentuknya dengan mengajarkan apresiasi sastra sejak masa sekolah.

Ooo ya, kalau itu iya. Tapi kan dalam pengertian itu tidak hanya sastra. Semuanya…ada bahasa, ada pengetahuan. Itu kan untuk pengetahuan. Tapi toh juga pemerintah bukan satu-satunya lembaga yang bisa melakukan itu kan? Swasta kan banyak. Banyak sekali pihak swasta yang membantu dalam bidang pendidikan maupun tidak.

Menurut bapak, pengajaran apreasiasi sastra di sekolah sudah sejauh mana?

Sebetulnya dalam hal ini guru yang sangat berpengaruh. Materi bagus tapi kalau gurunya tidak bisa apa-apa, ya mana bisa.

Tergantung kurikulum pengajaran sastra dari pemerintah juga?

Oh tidak. Kurikulum itu kan cuma membantu. Tidak pakai kurikulum kalau gurunya bagus, muridnya bisa berkembang. Tapi kalau gurunya tidak mampu apa-apa, tidak sampai ke mana-mana ilmunya. Karena kalau murid hanya disuruh membaca dan menghapal, buat apa fungsi guru?

Menurut bapak pribadi, fungsi sastra dalam kehidupan itu apa?

Jadi begini, sastra itu punya segala macam fungsi dengan apa yang dibutuhkan manusia. Sastra bisa menyelesaikan masalah, sastra bisa dipakai untuk dakwah, bisa dipakai untuk memrotes pemerintah, bisa dipakai untuk apa saja.

Jadi sastra merupakan alat kepentingan?

Apa saja yang kita inginkan. Misalnya kita mau memrotes pemerintah, maka kita bisa menulis puisi atau yang lain. Kita juga bisa memecahkan masalah keagamaan melalui sastra. Jadi fungsinya itu macam-macam, bisa menjadi media dakwah, media untuk protes, untuk hiburan. Jadi jangan membatasi bahwa sastra harus begini harus begitu.

Jadi bapak tidak setuju dengan kasus zaman dulu ada Manikebu (Manifesto Kebudayaan) dan Lekra (Lembaga Kebudayaan rakyat) yang mengotak-ngotakan sastra?

Saya kira Manikebo dan Lekra tidak mengotak-ngotakan sastra. Dalam pengertian mereka memiliki pengertian masing-masing. Ya boleh saja kan punya pendapat? Kalau kita punya pendapat sendiri kan juga boleh. Tapi jangan sampai melarang-larang, gitu lho. Itu masalah yang saya takutkan jika pemerintah turut campur. Pemerintah bisa saja melarang-larang. Seperti zaman dulu, Mochtar Lubis dilarang pada zaman Soekarno, Pramoedya dilarang pada zaman Soeharto.

Tadi disebutkan bahwa karya sastra terbentuk dari opini umum dan yang keluar dari opini umum, seperti sastrawan yang idealis atau pengamat sastra. Jadi apresiasi sastra juga dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu apresiasi dari publik dan apresiasi dari para pengamat?

Ya kira-kira seperti itu. Memang terdapat perbedaan dari dua kategori itu. Bisa saja publik mengatakan seperti ini sedangkan sarjana sastra atau pengamat mengatakan seperti itu. Itu sah-sah saja. Dalam menulis, terutama penulisan karya sastra, tidak usahlah terpaku pada ini, pada itu. Menulis ya menulis saja. Tinggal tergantung tujuannya mau menulis untuk apa. Sastrawan bisa menulis untuk cari duit, untuk memberikan dakwah, untuk memrotes, untuk memperbaiki bahasa. Tinggal pembaca yang menilai, senang atau tidak senang. Itu kan juga hak pembaca.

Kalau sastra juga dipakai untuk dijadikan alat reproduksi nilai-nilai, menurut bapak bagaimana?

Ooo pasti. Tadi kan sudah disebut. Seperti dalam agama, sastra dapat dijadikan alat dakwah. Contoh dalam pantun, terdapat pantun anak-anak, pantun moral, pantun adat, dan lain-lain. Dalam mereproduksi nilai-nilai tidak hanya sastra. Sastra hanya salah satu media untuk mereproduksi nilai-nilai. Masih ada media lainnya seperti televisi, koran, film, dan lainnya.

Kalau kita lihat dalam konteks di Indonesia, pengaruh sastra dalam perubahan nilai-nilai itu?

Di mana pun bisa.

Seperti novelnya Marquez yang turut menyadarkan masyarakat latin.

Siapa yang tahu? Siapa yang bilang? Dari sekian juta orang Brazil, siapa yang suka Marquez? Siapa yang membaca novelnya Marquez? Paling hanya beberapa orang.

Mungkin karena Marquez diapresiasi oleh masyarakat internasional lewat nobel.

Ya memang dia mendapatkan nobel dan katakanlah terkenal lewat nobel, tapi orang jarang yang membaca bukunya. Ia terkenal lewat nobel. Bagaimana masyarakat tahu. Orang hanya menghargai dia sebagai tokoh nobel. Begitu juga di Indonesia. Banyak buku diterbitkan dan dibeli oleh banyak orang. Seperti Pram yang kaya. Berapa orang yang beli bukunya Pram? Yang membeli banyak, tapi yang membaca? Karena membeli dan membaca itu berbeda. Dengan hanya membeli dan tidak membaca serta memahami isinya, apa itu yang disebut apresiasi? Membeli bukunya itu belum tentu membaca sekaligus paham. Jadi konsep “best seller” itu bohong. Buku yang terjual di pasar belum tentu dibaca dan dipahami.

Jadi perubahan nilai-nilai yang dihasilkan dari membaca tidak begitu saja terjadi. Butuh proses. Ide-ide yang terdapat dalam buku masuk melalui pemuka-pemuka masyarakat, dari situ perubahan atau perkembangan nilai-nilai berproses sehingga membentuk nilai-nilai baru pada masyarakat yang dipimpinnya.

Tadi secara tidak langsung bapak bilang, sarjana sastra yang jadi sastrawan harusnya jadi kritikus sastra.

Mereka kan dididik itu. Sewaktu sekolah tidak ada kan pelajaran membuat novel.

Jadi peran sarjana sastra untuk mengkritisi sastra yang telah ada?

Semua orang kan membutuhkan bahasa. Penguasaan mengenai bahasa merupakan bidang mereka. Tapi bagi saya dalam menulis karya sastra, tidak dituntut itu. Kecuali dalam penulisan disertasi, seperti yang terjadi di Amerika. Jadi ada disertasi yang dilakukan para dokter di sana yang menulis novel. Penulis itu kan profesi dan menulis itu bisa dipelajari, tergantung orang itu mau atau tidak belajar.

Kalau mengkritik lewat sastra, apakah efektif?

Oh iya. Seperti di koran ada anekdot, puisi, jurnalisme sastra. Mengritik tapi tidak secara langsung. Diumpamakan kalau dipukul kan lebih sakit lewat belakang kan daripada lewat depan. Sastra itu biasanya begitu, tidak langsung frontal, tapi lewat belakang.

Seperti Zarathustra – nya Nietzshe, orang tidak bisa membaca kebenaran di dalamnya, hanya bisa menganggap itu sebagai karya sastra.

Sastra juga begitu. Seperti kebenaran itu. Artinya….eee…maksud saudara, orang tidak bisa berpikir secara lain?

Maksudnya, orang tidak bisa membaca karya sastra sebagai hal yang lain.

Ya mungkin. Saya tidak tahu. Begini, kalau kita membaca sesuatu, baca saja seperti apa yang kita tangkap. Kan tidak semua karya sastra harus dibaca secara konteks serius. Kalau kita membaca untuk cari penghiburannya, ya baca saja sebagai hiburan. Misalnya kita baca Siti Nurbaya, kalau anak-anak muda yang baca yang dicari tidak jauh dari kisah percintaaannya antara Siti Nurbaya dengan Samsul Bahri. Tapi bagi pembaca yang serius, yang menarik mungkin bukan kisah cintanya. Bisa saja yang menarik mengenai Bangsa Belanda yang tidak suka pada Datuk Maringgih karena ia seorang yang memberontak terhadap Belanda. Nah, itu semua tergantung dari kita bagaimana dan dari mana sudut pandang kita membacanya. Tapi yang pasti ketika kita membaca apapun, pasti kita mendapatkan sesuatu walaupun kadarnya pada setiap orang berbeda-beda.

Seberapa penting apresiasi sastra dalam bentuk penghargaan bagi penulis dan pembacanya?

Tentu penting. Dalam masyarakat itu harus ada penghargaan terhadap semua profesi, dalam hal ini sastrawan atau penulis. Namun profesi itu tidak hanya diberi penghargaan secara materi, mereka juga butuh penghargaan secara moral. Selain itu mereka juga kebutuhan hidup, selama mereka bisa membiayai sendiri dari profesinya maka ia akan terus. Tapi jika tidak, mereka akan cari pekerjaan lain. Sastrawan untuk memenuhi kebutuhannya berharap agar karyanya bisa dijual. Selain itu yang lebih penting lagi apakah dia dihargai oleh masyarakat. Seperti Pram, jarang orang membaca bukunya, tapi orang hanya menghargai sosoknya. Berbeda dengan chicklit, hampir semua orang yang membaca bukunya, tapi mana ada orang yang mencari tahu siapa yang menulisnya.

Menurut bapak, sudah sejauh mana perkembangan sastra di Indonesia?

Sudah berkembang. Artinya, kalau saudara pergi ke toko buku sekarang, di sana pasti ada banyak buku sastra berjejer. Tidak seperti saya ketika saya seusia anda sekarang, saya tidak pernah melihat buku sebanyak itu. Satu penerbit saja bisa menerbitkan beberapa buku sastra. Dulu tidak tidak ada. Sekarang harga buku sebagian besar dapat dijangkau sehingga pasti ada yang membeli. Tapi apakah buku itu dibaca atau tidak, itu lain hal.