Rangkuman Buku “Bagaimana Meliput dan Menulis Berita Untuk Media Massa”

Maret 10, 2009 § 2 Komentar

Penulis: Ashadi Siregar dkk

I. Memberitakan Peristiwa, Untuk Apa?

Berita merupakan rekonstruksi tertulis dari peristiwa yang terjadi. Peristiwa perlu diberitakan paling tidak karena dua alasan, yaitu untuk memenuhi tujuan politik keredaksian suatu media massa atau memenuhi kebutuhan pembaca.

Tujuan politik suatu media massa diantaranya tujuan ekonomis, yaitu tercapainya oplah penjualan tinggi, dan tujuan ideologis, yaitu untuk mempengaruhi dan membujuk pembaca agar berbuat serta bersikap sesuai dengan tujuan ideologis yang hendak dicapai.

Dari sisi pembaca, alasan memberitakan suatu peristiwa terletak dalam sikap manusia yang selalu ingin memperbaiki dan meningkatkan harkat kehidupannya. Dalam upaya itu, manusia selalu ingin mencari informasi agar ia dapat mengetahui apa yang harus ia lakukan serta bagaimana melakukannya.

Kedua hal di atas merupakan latar belakang untuk apa berita ditulis, yaitu memenuhi kepentingan pembaca dan kepentingan media massa dalam mencapai tujuan masing-masing. Adanya kepentingan yang melatarbelakangi penulisan berita membuat wartawan selalu memilih peristiwa yang diberitakan. Peristiwa hanya pantas diberitakan apabila mengandung nilai informative bagi pembaca dan sesuai dengan tujuan media massa. Oleh karenanya wartawan juga harus tahu segmentasi dan karakteristik dari pembaca media massa tempat ia bekerja.

Mengenali Karakteristik Pembaca

Surat kabar atau majalah berita diterbitkan berdasarkan kebutuhan informasi pembacanya. Oleh karena itu berita yang dimuat harus cocok dengan pembacanya (penting atau menarik). Dengan demikian, apa yang diberitakan dan bagaimana berita itu ditulis agar bermanfaat sekaligus mudah dipahami pembaca menjadi pertimbangan dasar dalam menulis berita. Konsekuensinya, apa yang diberitakan dan bagaimana berita itu ditulis hanya dapat diketahui setelah mengenali siapa pembaca yang dituju.

Mengenali siapa pembaca berarti mengenali latar belakang pembaca, apa kecenderungan mereka dalam menggunakan informasi yang diperoleh lewat pemberitaan surat kabar. Secara umum, latar belakang pembaca dapat dikenali berdasarkan tiga aspek yaitu aspek geografis, aspek sosiografis, dan aspek psikografis.

  1. Aspek Geografis : Pembaca terbesar surat kabar berada di sekitar lokasi di mana surat kabar itu diterbitkan. Kondisi social-budaya setempat berpengaruh terhadap karakter setiap orang yang beriam dalam jangka waktu di tempat tersebut.
  2. Aspek Sosiografis : Perbedaan status sosial (berkaitan erat dengan tingkat kemampuan ekonomi) berpengaruh terhadap tingkat kebutuhan informasi. Orang yang berada pada lapisan masyarakat dengan tingkat kemampuan ekonomi tinggi, yang otomatis memiliki akses dan kekuasaan di bidang tertentu, maka ia akan membutuhkan informasi yang lebih mengenai hal-hal yang berguna untuk mempertahankan kekuasaan dan kepemilikannya tersebut.
  3. Aspek Psikografis : Latar belakang budaya berpengaruh terhadap minat baca dan minat terhadap informasi. Latar belakang budaya juga berperan dalam pembentukan citarasa pembaca terhadap informasi.

Ketiga faktor di atas berperan serempak dalam pembentukan karakter seseorang. Dari sinilah dapat dikenali siapa sesungguhnya pembaca itu. Kecenderungan pembaca sangat memperngaruhi pilihan mereka pilihan mereka terhadap informasi yang dianggapnya penting atau menarik. Itulah sebabnya wartwan harus mengenali secara tajam siapa pembaca medianya. Pengenalan itu yang akan membantu wartwan dalam memutuskan peristiwa apa yang layak dijadikan berita.

Kriteria Layak Berita

Perbedaan karakteristik pembaca dan perbedaan politik keredaksian menyebabkan tidak semua peristiwa diberitakan oleh suatu media massa. Peristiwa yang diberitakan sangat tergantung pada siapa yang dipilih sebagai pembaca dan apa tujuan penyampaiannya.

Bagi wartawan pemula, pengenalan dan pemahaman tentang karakteristik pembaca bukan saja akan memfokuskan perhatiannya ketika menjalankan profesi kewartawanan, tapi juga mengarahkannya untuk memutuskan apa saja yang layak diberitakan.

Secara umum, kejadian yang memiliki nilai berita atau layak berita adalah yang yang mengandung beberapa unsure di bawah ini:

1. Significance (penting), yaitu kejadian yang berkemungkinan mempengaruhi kehidupan orang banyak.

2. Magnitude (besar), yaitu kejadian yang menyangkut angka-angka yang berarti bagi kehidupan orang banyak.

3. Proximity (kedekatan), yaitu kejadian yang dekat dengan pembaca (geografis atau emosional)

4. Timeliness (waktu), yaitu kejadian yang menyangkut hal-hal baru.

5. Prominence (tenar), yaitu yang menyangkut hal-hal ketenaran.

6. Human Interest (manusiawi), yaitu kejadian yang memberi sentuhan perasaan bagi pembaca.

II. Mengenali Realitas

Peristiwa sebagai suatu realitas sesungguhnya dibangun oleh sejumlah fajta. Fakta dari suatu realitas bisa berserakan tanpa meperlihatkan hubungan satu sama lain, baik hubungan dalam pengertian tempat, waktu, atau hubungan logis. Kondisi semacam ini tentu menyulitkan wartawan ketika terjun ke lapangan untuk mengumpulkan fakta. Dengan demikian, sebelum dapat diuji apakah suatu peristiwa sebagai suatu realitas memiliki unsur-unsur yang memnuhi kriteria layak berita, dibutuhkan pemahaman terhadap apa yang disebut sebagai realitas. Dari situlah baru dapat dilihat fakta apa saja yang terdapat di dalam realitas sebagai unsur yang membangunnya.

Wartawan harus memiliki kepekaan terhadap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Wartawan yang tidak memiliki kepekaan yang tidak memiliki kepekaan dan pengetahuan sosial akan melaporkan suatu kejadian dengan fakta yang sedanya dan berita yang ditulisnya pun seadanya. Wartawan harus memiliki bekal pengetahuan sosial dan berpikir kontekstual agar dapat membaca gejala sosial. Fakta-fakta yang dukumpulkan dari realitas yang terjadi itu, disusun menjadi suatu yang membentuk suatu gejala sosial yang berujung pada permasahan sosial.

III. Mengumpulkan Fakta

Suatu peristiwa terjadi tidak dengan sendirinya. Terdapat faktor-faktor yang menyebabkan peristiwa itu terjadi. Faktor itu dapat menjadi fakta yang dapat membuat suatu peristiwa terjadi. Fakta-fakta yang membangun suatu realitas tidak dengan sendirinya tersedia. Wartawan harus mencari dan mengumpulkannya dengan berbagai cara. Berdasarkan fakta yang dikumpulkan kemudian berita ditulis. Berita yang baik hanya dapat ditulis apabila didukung oleh fakta yang lengkap dan akurat. Pencarian dan pengumpulan fakta dapat dilakukan dengan observasi , wawancara, atau melakukan riset dokumentasi.

1. Observasi : observasi dipakai jika wartawan berada di tempat kejadian. Wartawan berada secara fisik di tempat kejadian dan mencatat kesan tentang kejadian itu. (mendeskripsikan fakta melalui indera).

2. Wawancara : bertanya kepada orang lain untuk memperoleh fakta atau latar belakang suatu masalah. Wawancara digunakan untuk mencari fakta yang tidak dapat dicari dengan observasi.

3. Riset Dokumentasi : dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh fakta/ data yang berasal dari dokumentasi tertulis. Fakta yang dimaksud bisa berupa angka yang dituangkan dalam table, dapat berupa bagan, atau wacana yang tersimpan sebagai dokumen yang diarsip.

IV. Mengidentifikasi Fakta

Banyak fakta yanhg dapat dikumpulkan dari suatu kejadian, namun belum tentu semua fakta tersebut dapat dijadikan materi dasar untuk menulis berita. Nilai penting suatu fakti juga berbeda bagi setiap pembaca. Lalu, bagaimana wartawan secara mudah memilih fakta mana yang diperlukan dan mana yang tidak? Wartawan perlu menentukan lebih dulu, dari fakta yang diperoleh berdasar 5W+H, fakta mana yang paling penting atau paling menarik untuk diketahui pembaca. Ciri berita yang baik:

1. Faktual : peristiwa yang diberitakan memiliki fakta yang sungguh nyata, dapat diperiksa kebenarannya.

2. Aktual : peristiwa yang diberitakan mengandung fakta yang sungguh baru pada saat berita disiarkan, masih menjadi pembicaraan publik.

3. Akurat : peristiwa disajikan persis seperti apa adanya.

4. Unik : di luar kebiasaan.

5. Langka : jarang terjadi atau jarang ditemukan.

6. Dramatis : tindakan luar biasa.

7. Kontroversi : belum ada kesepakatan umum.

8. Konflik : terdapat perbedaan kepentingan.

V. Kritis Terhadap Fakta

Tugas wartawan adalah merekonstruksi suatu peristiwa. Oleh karena diperlukan sikap kritis agar fakta yang digunakan untuk membangun rekonstruksi berhasil menampilkan gambaran yang mendekati realitas sebenarnya. Tanpa sikap kritis ketika mencari atau mengumpulkan fakta, besar kemungkinan fakta yang diperoleh hanya fakta mentah tanpa makna.

Sikap kritis dapat tumbuh dengan terus menerus melatih kemampuan untuk melihat perbedaan atau persamaan lewat klasifikasi, analisis bagian, dan analisis proses.

1. Klasifikasi : suatu proses yang bersifat alamiah untuk menampilkan hasil atau objek penginderaan kita dalam kelompok-kelompok (kelas-kelas) tertentu. Klasifikasi ingin melihat objek-objek dalam suatu konteks logis, untuk melihat hubungan antara satu objek dengan objek lainnya.

2. Analisis Bagian : berusaha menentukan batas-batas unsur-unsur yang membentuk suatu objek.

3. Analisis Proses : disebut juga analisis tahap, sebagai bagian dari seluruh proses. Merupakan analisis yang dilakukan jika bagian-bagian yang dikemukakan dapat berubah, atau menggerakkan keseluruhan itu.

Penalaran Induktif

Salah satu kendala wartawan adalah sukar untuk menangkap secara tepat pola hubungan yang terjalin antara bebagai fakta/ aspek. Kendala itu dapat diatasi dengan penalaran induktif yang dapat ditafsirkan penalaran yang berawal dari yang khusus dan berakhir pada yang umum. Kesimpulan induktif selalu berupa generalisasi. Generalisasi ini harus dihindari wartawan dalam pekerjaan jurnalistik. Seorang wartawan hanya perlu menguraikan fakta. Meskipun menghadapi fakta yang sama, wartawan tidak perlu membuat generalisasi, melainkan merinci fakta tersebut dalam data konkret.

Yang ditegaskan di sini adalah bagaimana wartawan menggunakan penalaran induktifyang diperlukan untuk membuat kesimpulan yang sifatnya sementara. Akan tetapi kesimpulan ini tidak untuk ditulis di surat kabar. Penalaran induktif juga digunakan wartawan untuk menguji kebenaran pernyataan seseorang yang memberi kesaksian tentanhg suatu kejadian. Selain itu, penalaran induktif juga berguna untuk meramalkan fakta yang akan terjadi.

Penalaran Deduktif

Deduktif sering disebut penalaran dari yang umum ke khusus atau penerapan generalisasi pada peristiwa yang khusus untuk kesimpulan. penalaran deduksi namanya silogisme yang terdiri dari tiga bagian yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Penalaran deduktif berguna membantu wartawan yang menganilisis kualitas maupun sifat suatu fakta sebagai premis minor pada premis mayor yang benar.

Salah Nalar

Wartawan sering menghadapi persoalan salah nalar ini ketika mengumpulkan fakta di lapangan atau sewaktu mewawancarai seseorang untuk memperoleh kesaksian atau pendapat tentang suatu peristiwa. Salah nalar (fallacy) ialah gagasan, perkiraan, kepercayaan, atau kesimpulan yang keliru. Berikut ini dipaparkan sejumlah salah nalar:

1. Deduksi yang salah : kesimpulan yang salah dalam silogisme yang salah satu premisnya tidak memenuhi syarat. Kesimpulan yang salahakan mengarahkan wartawan mengumpulkan fakta yang salah. Akibatnya tulisan yang disusun pasti slah pula

2. Generalisasi yang terlalu luas : disebut juga induksi yang salah karena jumlah percontohannya tidak memadai.

3. Pemikiran “Atau ini” dan “Atau itu” : berpangkal pada keinginan untuk melihat masalah yang rumit dari dua sudut pandang saja.

4. Salah nilai atas penyebab : generalisasi induktif disusun berdasarkan pengamatan sebab dan akibat, tapi kita kadang tidak menilai sebab suatu peristiwa atau hasil dengan teliti.

5. Analogi yang salah : analogi adalah usaha perbandingan dan merupakan upaya yang berguna untuk mengembangkan perenggang. Akan tetapi analogi tidak membuktikan apa-apa dan analogi yang salah dapat mnyesatkan logika.

6. Penyampaian masalah : penilaian terhadap suatu masalah bisa mengandung salah nalar apabila dilatorbelakangi oleh suatu sikap penolakan terhadap pendapat lain namun tanpa didukung oleh argumentasi yang logis.

7. Pembenaran masalah lewat pokok sampingan : salah nalar muncul jika argumentasi menggunakan pokok-pokok pikiran yang tidak langsung atau hal yang remeh temeh untuk membenarkan pendiriannya.

8. Argumentasi Ad Hominem : terjadi jika kita dalam argumentasi melawan orangnya buka masalahnya.

9. Imbauan pada keahlian yang patut disangsikan : jika wartawan menemukan narasumber yang mengandalkan pihak lain untuk membenarkan pendapatnya sendiri.

10. Non sequitur : salah nalar ini mengambil kesimpulan berdasar premis yang tidak ada sangkut pautnya.

VI. Meliput Berita

Peristiwa dapat dibedakan atas sejumlah kategori. Kategori ini dibuat berdasarkan waktu terjadinya peristiwa dan juga proses yanhg mengikuti suatu peristiwa :

1. Berita berdasarkan peristiwa momentum : berita ini ditulis berdasarkan terjadinya suatu peristiwa yang timbul begitu saja tanpa diduga sebelumnya.

2. Berita berdasarkan peristiwa teragenda : ditulis berdasar peristiwa yang telah diketahui sebelumnya kapan peristiwa itu akan terjadi.

3. Berita lanjutan (follow up) : ditulis sebagai kelanjutan suatu berita yang telah disiarkan sebelumnya. Biasanya menyiarkan perkembangan terakhir dari suatu peristiwa.

Kendala Peliputan

1. Wartawan pemula sering gagal melihat peluangbahwa suatu peristiwa mungkin tidak cukup diberitakan sekali saja.

2. Adapula wartawan yang tidak dapat mengeksplorasi lebih dalam apa yang layak dan dapat ditulis dari peristiwa teragenda

Cantelan Berita (News peg)

Konsep news peg dapat membantu wartawamn untuk menggali dan mengembangkan ide sebelum ia dapat memastikan apa yang akan diliput. Cantelan berita dapat dirumuskan sebagai suatu kalimat atau alinea yang memperlihatkan kaitan masalah yang diungkapkan dalam tulisan terhadap suatu kejadian yang sedang aktual. Cantelan berita banyak digunakan saat menulis berita khas atau laporan mendalam.

Melokalisasi Berita

Diandaikan bahwa peristiwa yang terjadi di kota lain telah diberitakan oleh sejumlah media massa, sangat mungkin terjadi di kota yang berbeda.

Memutakhirkan Masalah

Cara ini disebut up-dating, yaitu memberitahukan perkembangan terbaru suatu peristiwa yang telah terjadi dan pernah diberitakan.

Perangkap Bidang Cetak

Bayangan bahwa redaktur hanya menyediakan kolom terbatas untuk memuat berita tertentu, tanpa disadari menumbuhkan keengganan wartawan untuk mengumpulkan fakta sebanyak-banyaknya dan menyusun laporan panjang.

VII. Dasar Bahasa Jurnalistik

Dalam perannya sebagai komunikator, penguasaan wartawan atas bahasa yang digunakan untuk menyampaikan suatu informasi sangat menentukan apakah informasi itu dapat dipahami pembaca. Karena itu diperlukan pengetahuan tata bahasa agar dapat menggunakan alat-alat perangkat bahasa lebih efektif. Tujuan utama mempelajari tata bahasa seyogyanya ialah untuk meningkatkan penggunaan alat-alat bahasa serta penguasaan bahasa.

Mahir Menggunakan Kata

Kemampuan memilih kata dan menuliskannya secara benar tergantung pada pemahaman terhadap konsep ejaan, pembentukan kata, dan juga penguasaan atas makna yang tepat.

Mencermati Ejaan

Masalah ejaan bukan merupakan tolak ukur menentukan tingkat kebudayaan, dalam hal ini kebudayaan tulis seseorang.

Menyiasati Pembentukan Kata

Dalam, penulisan, apakah kata dipakai dalam bentuk dasar atau dalam bentuk pengembangan bentuk dasar, sangat tergantung pada makna yang hendak digambarkan lewat kata tersebut. Bagi wartawan atau penulis, yang utama dalam hal penguasaan masalah pembentukan kata bukanlah untuk memahami maknanya seluas-luasnya. Menguasai cara pembentukan kata diperlukan untuk menulis ungkapan dengan makna yang tepat.

Pembentukan kata selalu dikaitkan dengan kata dasar, pengembangan bentuk dasar tersebut, maupun pemberian imbuhan. Baik kata dasar maupun imbuhan adalah morfem. Terdapat sejumlah proses pembentukan kata. Yang terpenting adalah proses morfologi, proses pembubuhan afiks, pengulangan kata, dan pengelompokkan kata.

Proses morfologi ialah ialah proses pembentukan kata dari bentuk lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam bahasa Indonesia terdapt tiga proses morfologi ialah proses pembubuhan afiks, prosaes pengulangan, dan proses pemajemukan.

Proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada sesuatu bentuk, baik bentuk tunggal maupun bentuk kompleks untuk membentuk kata.

Jurnalistik selalu menuntut fakta disajikan secara terukur, meskipun bukan lewat ungkapan matematis. Bahasa memberi alat Bantu untuk mengatasi persoalan ini, yaitu dengan menggunakan kata ulang. Kata ulang dapat digunakan untuk mneggambarkan jumlah atau frekuensi yang berkaitan dengan suatu fakta.

About these ads

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Rangkuman Buku “Bagaimana Meliput dan Menulis Berita Untuk Media Massa”

  • denoan mengatakan:

    Nulis berita buat apa? Mau jadi wartawan maksudnya? Wah, jadi wartawan tu ga enak tau. Apalagi wartawan harian, ga punya waktu luang untuk baca buku dan berdiskusi. Yang ada cuma memenuhi tuntutan perusahaan media untuk menulis berita sebanyak-banyaknya tiap hari dan itu membuat kita tidak punya waktu luang dan mengakibatkan kita berpikir praktis-praktis saja. Maksudnya berpikir untuk memenuhi tuntutan menulis berita yang banyak tadi…Tapi kalu emang mau jadi wartawan, banyak baca aja, ilmu yang berkaitan dengan masyarakat terutama. Nanti juga menemukan jalannya ko

  • ratih sukma dewi mengatakan:

    Q INGIN JADI PENULIS BERITA, SULIT G YA????…. COS SISWA LULUSAN SMK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Apa ini?

Saat ini Anda membaca Rangkuman Buku “Bagaimana Meliput dan Menulis Berita Untuk Media Massa” pada catatan calon wartawan.

meta

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 842 pengikut lainnya.