Penyunting: Ashadi Siregar dan I Made Suarjana

I. Artikel Opini dalam Pers Indonesia

Artikel Opini yang Menyejarah

Opini pers sangat berpengaruh bagi kelangsungan jalannya pemerintahan di Indonesia sebelum kemerdekaan yang dipegang oleh pemerintah Hindia Belanda. Oleh karenanya opini dalam pers sangat diperhatikan. Opini dalam media massa-media massa pada waktu silam merupakan salah satu sumber sejarah mengenai kondisi masyarakat pada saat itu. Sumber historis yang penting itu dapat dijadikan perbandingan dengan kehidupan sekarang. Juga terdapat perbedaan antara penulis artikel opini pada zaman sebelum kemerdekaan dengan sekarang. Rubrik opini sekarang terjadi kelangkaan penulis. Hal itu dapat dilihat dari hasil riset Kompas pada tahun 1992 yang menunjukkan penurunan jumlah penulis di rubrik opini dari Januari.

Pertanyaan mengenai pengaruh opini dalam media massa terhadap pembaca, hal ini masih belum mendapatkan jawaban yang pasti. Orang pasti tahu bahwa opini bukan merupakan pendapat yang bulat, utuh, sebab opini masyarakat memang beragam. Pers hanya membukakan mata hati pembaca dan dapat mempengaruhi pembaca, dengan catatan, hanya pada tingkat tertentu.

Opini Pers dan Pers Opini

Dampak muatan berita, sensasi, hiburan atau opini sebuah artikel akan diserap berdasarkan kebutuhan masyarakat pembaca. Sebuah tulisan bisa menjadi wakil dari persoalan yang sudah menjadi kepentingan umum. Bila demikian maka tulisan itu akan mencari jalannya sendiri dalam menggabungkan orang agar terlibat dalam kepentingan umum tersebut. Rubrik opini bagian vital dalam kehidupan pers di Indonesia. Rubrik itu penting bukan hanya sebagai berita, namun juga sebagai komoditi. Banyak alasan mengapa orang membeli surat kabar tertentu. Karena ingin membeli opininya dan pembaca mengidentifikasikan dirinya dengan penulis atau surat kabar yang ia beli. Kemudian terjadi kecenderungan memilih surat kabar antara pembaca dengan surat kabar sesuai dengan kepercayaan agama dan kedekatan primordial.

2. Karikatur dalam Pers Indonesia

Bagaimana Mengenali Kartun

Komunikasi disebut efektif bila pesan yang disampaikan dapat diterima oleh komunikan sesuai dengan apa yang dimaksud. Salah satu cara yang paling efektif dalam penyampaian materi pesan adalah dengan pendekatan humor. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang luwes. Humor dapat pula dijadikan alat penyampaian maksud, mungkin persuasive atau bahkan mengkritik.

Kartun akan menghibur pembaca setelah lelah membaca berita-berita yang sifatnya serius dan menyerap banyak pikiran. Fungsi menghibur ini memiliki arti pula sebagai penutup atau overlay function., yaitu membuat pembaca memasuki alam khayal atau hiburan untuk melupakan kenyataan yang tidak menggembirakan karena pembaca ingin lari sejenak dari realita hidup yang kadang-kadang sukar ditanggulangi.

Berikut ini beberapa aturan yang harus diperhatikan oleh kartunis berkaitan berkaitan dengan pembuatan kartun editorial atau karikatur.

1. Tidak boleh bertentangan dengan ideologi negara.

2. Tidak boleh menyinggung SARA.

3. Tidak boleh vulgar, kasar.

4. Tidak boleh menyinggung tokoh-tokoh pemerintah tertentu.

5. Tidak boleh bertentangan dengan kebijaksanaan surat kabar yang bersangkutan.

Teknik Pengungkapan

Karya kartun mengandung sindiran juga disebut graphic satire (GS). GS mempunyai perngertian sebagai karya satir yang dikemas dalam bentuk visual. Seperti halnya satir tulisan, GS juga memiliki beberapa teknik pengungkapan visual seperti:

  1. in konkreti, teknik pengungkapan dengan membuat penyajian yang ganjil, aneh, maupun absurd. Teknik ini mengacaukan dan melecehkan logika, waktu, maupun tempat.
  2. distortion, melebihkan atau hiperbola. Teknik ini membuat deformasi pada satu karakter atau keadaan tertentu.
  3. contrast, menyajikan hal-hal yang berlawanan, paradoks, maupun ironi.
  4. indirection, penyajian dengan menggunakan simbol-simbol, idiom, metafora, atau parodi serta utopia.
  5. surprise, penggunaan logika yang tidak terduga, hal-hal di luar dugaan dan mengejutkan.

Selain itu GS juga dapat dipilah menjadi tiga kategori:

  1. comics satire, karya yang dikemas dalam bentuk lucu dengan maksud menertawakan dan mengajak pembaca untuk tertawa.
  2. tragic satire, karya yang dibuat untuk membuat kesedihan, kegetiran, iba hati atau amarah. Biasanya untuk mengangkat masalah kematian, musibah, korban perang, penderitaan, atau pemderitaan lainnya.
  3. nite, marries satire, karya yang menghadirkan suasana seram, mencekam, dan surrealitis, menggambarkan mimpi buruk. Biasanya dibuat untuk masalah yang berkaitan dengan penyimpangan moral.

Kekuatan utama gambar adalah mampu menyampaikan pesan tanpa banyak rangkaian kata. Gambar mewakili sejumlah kata dan kalimat, interpretasinya diserahkan kepada publik. Bahasa gambar juga lebih disukai. Oleh karena itu, banyak media massa menyampaikan opininya lewat karikatur.

3. Menukik ke Dalam Artikel Opini

Mengenali Sifat Artikel Opini

Secara singkat artikel opini dapat dikatakan sebagai tulisan dalam media cetak yang memasukkan pendapat penulis di dalamnya. Artinya artikel mengandung subjektifitas, bukan hanya fakta. Sebenarnya dalam sejarah jurnalistik, hubungan antara fakta dan opini pernah mengalami pasang surut. Mula-mula fakta dan opini dalam pemberitaan bercampur baur, lalu dipisahkan. Beberapa puluh tahun kemudian, keduanya mulai berbaur lagi. Dulu, opini dalam surat kabar ditempatkan pada halaman khusus, yang disebut dengan halaman opini (editorial page). Terdapat juga halaman di sampaing halaman opini yang disebut sebagai op-ed (opposite editorial), diisi dengan pendapat-pendapat yang bertentangan dengan suara editorial. Namun, kini, antara lain dengan makin kaburnya batasan antara fakta dan opini, konsep halaman opini sering ditinggalkan oleh banyak surat kabar di Indonesia. Ada surat kabar yang menempatkan editorial dalam satu halaman bersama iklan. Padahal menurut konsep lama, halaman opini bukan hanaya harus bebas dari berita, namun juga bebas dari foto, apalagi iklan,

Halaman opini disediakan surat kabar sebagai bagian dari pelaksanaan peran, fungsi, serta tanggung jawabnya pada masyarakat, dalam arti pers ikut menjalakan tugas demokratisasinya dengan menyediakan suatu forum untuk berdialog.

Tiap harinya terdapat peristiwa-peristiwa yang dapat dijadikan berita. Yang dapat dijadikan berita adalah realitas psikologis dan realitas sosiologis. Peristiwa sekilas (tidak terulang kembali) yang memiliki nilai berita dapat dijadikan berita. Namun ada juga peristiwa yang memiliki sifat tersusun (constructed) dan akan terjadi kembali. Terdapat peristiwa yang “mandek” dan ada peristiwa yang menyimpan sesuatu yang sistemik. Yang terakhir mengundang sejumlah pertanyaan. Adakah peristiwa itu terjadi karena kelanjutan historis saja? Atau adakah logika-logika lain yang bersifat menyeluruh dan mendalam? Rentetan pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat dijelaskan oleh hard news. Dari sinilah lalu lahir ragam artikel opini.

Artikel opini sekurang-kurangnya dapat dikelompokkan berdasarkan tiga hal, yaitu menurut unit analisis, bobot argumen, dan posisi penulis.

1. Kategori Menurut Unit Analisis

(1) Mikroanalitis (Microanalytic Approach)

Inilah artikel yang menyoroti hal-hal pada tingkat individual (sebatas objek yang ditulis), misalnya resensi buku dan film.

(2) Makroanalitis (Macroanalytic Approach)

Realitas disorot pada tingkat sistem.

2. Kategori menurut Bobot Argumen

Bobot argumen ini ditentukan oleh kemampuannya menjelaskan sifat tersusun (constructed) dari apa yang disebut realitas. Jadi opini hadir sebagai peta kognitif untuk menerangkan relatias. Berdasarkan peta kognitif, artikel dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu:

(1) Berbobot Impresi

Alat analisis yang digunakan adalah impresi penulis.

(2) Berbobot Evaluasi

Alat analisis yang digunakan adalah judgements, yaitu norma dengan mana intelek mengafirmasikan atau menegasikan sesuatu.

(3) Berbobot Interpretasi

Alat analisis yang digunakan adalah proposisi, yaitu pernyataan tentang sifat dan realita yang dapat diuji kebenarannya.

(4) Berbobot Ekspalanasi

Alat analisis yang digunakan adalah teori, yaitu pernyataan tentang hubungan dua konsep atau lebih yang telah berkali-kali dijui kebenarannya.

3. Kategori Menurut Posisi Penulis

(1) Suara Pribadi (personal voice)

(2) Suara Lembaga (Publisher/Editor Voice)

(3) Suara Autoritatif (Authoritative voice)

Cara Menilai Artikel Opini

(1) Analisis Berita

Analisis berita merupakan artikel opini yang berbobot ekspalanasi pada level makro atas suatu peristiwa atau gejala atau realitas aktual. Analisis berita lahir bertautan dengan news peg. Meski tidak sekuat news itu sendiri.

(2) Kolom

Berbrda dengan artikel opini lain yang panjang dan lebar, kolom biasanya jauh lebih ringkas, lebih menukik, dan ditulis dengan gaya bahasa populer. Isi kolom beraneka ragam, analisis, komentar, atau renungan.

(3) Komentar

Komentar merupakan artikel opini yang berbobot evaluasi, menggunakan technical judgements, menyangkut level mikro atas suatu peristiwa. Komentar bertautan dengan peristiwa, oleh karena itu terikat dengan news peg.

(4) Kritik dan Review

Kritik merupakan artikel opini yang berbobot evaluasi, menggunakan value judgements, dapat menyangkut level mokro maupun makro atas siatu topik tanpa terikat dengan news peg. Kritik dapat ditulis oleh siapa pun tanpa mempersoalkan posisi dan kredensial penulis.

Review merupakan artikel opini yang berbobot evaluasi, menggunakan technical judgements, menyangkut level mikro atas suatu karya atau pertunjukkan seni.

(5) Tajuk Rencana

Tajuk rencana ditulis oleh redaksi untuk menyatakan pendapat media yang bersangkutan mengenai suatu masalah yang terjadi. Tajuk rencana yang baik adalah yang bisa mengomunikasikan suatu ide secara efektif. Karena tajuk biasanya merupakan kelanjutan dari suatu peristiwa atau masalah yang sudah dilaporkan lewat pemberitaan, maka tidak perlu secara detil mengulangi penjelasan mengenai suatu peristiwa karena pembaca sudah mengetahuinya. Tajuk rencana atau editorial adalah artikel opini yang berbobot interpretasi, mengginakan proposisi, serta menyangkut level makro atas suatu peristiwa lepas, maupun gejala realitas tersusun. Setiap media massa mempunyai misi sendiri. Oleh karena itu, masing-masing mempunyai aturan main dan kriteria yang berbeda mengenai artikel opini ini.

4.Kendala dalam Mengelola Rubrik Opini

Tuntutan Bisnis Media dan Kelangkaan Penulis

Berubahnya pers menjadi industri, berubahnya informasi menjadi komoditas, cukup menentukan bentuk media cetak sekarang ini. Perubahan pandangan mengenai porsi dan penempatan antara fakta dan opini dalam media masaa dari zaman pers perjuangan sampai sekarang terus berubah-ubah. Dari mulai terpisah, campur aduk hingga terpisah lagi. Pembedaan fakta pada halaman surat kabar antara fakta dan opini tidak pernah setegas pembedaan warna hitam dan putih. Pembedaan irtu dapat terlihat dari media massa cetak sekarang ini. ada yang menaruh editorial atau rencananya di halaman muka, ada yang menaruh halaman-halaman khususnya juga di halaman muka (Prof. Sutandyo di Jawa Pos, atau Gorbachev, Menoti, atau Beckenbauer di Kompas)

Di Kompas, pada awalnya halaman opini selain dibuka untuk menampung tulisan-tulisan dari pandangan-pandangan yang berbeda terhadap suatu masalah, juga untuk memberi tempat bagi para ahli bidang untuk menuangkan masalah pada tingkat keahliannya. Hal itu dipicu karena pada saat itu belum ada jurnal-jurnal ilmiah yang terbit secara cukup teratur. Dengan berkembangnya perekonomian dan penerbitan-penerbitan khusus, maka tulisan-tulisan seperti itu semakin menghilang. Pada tahapan ini, muncul masalah yaitu semakin berkurangnya penulis artikel opini yang memenuhi syarat pada surat kabar.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kelangkaan penulis artikel yang memenuhi syarat. Salah satunya, kebanyakan penulis artikel yang memenuhi bukan anggota redaksi sebuah penerbitan surat kabar. Mereka berasal dari kalangan lembaga penelitian atau perguruan tinggi. Kesibukan mereka pada pekerjaannya juga menjadi faktor kelangkaan penulis. Masalah kelangkaan penulis ini berdampak pada pencapaan cita-cita media massa (Kompas) yang ingin dikembangkan ke arah percaturan gagasan, pembahasan masalah-masalah aktual.

5. Perencanaan Rubrik Opini

Perlunya Perencanaan dalam Mengelola Rubrik Opini

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pers menarik garis keras antara fakta dan opini; pendapat dan berita; yang benar terjadi atau pendapat redaktur atau pendapat siapapun yang dimuat dalam surat kabar. Pertanyaan muncul di sana: apa benar ada bagaian yang semata-mata opini dan bagian yang lainnya seluruhnya fakta. Dengan kata lain, apakah benar ada yang namanya objective journalism, yang semata hanya menampilkan fakta? Oleh karena itu harus ditarik garis tegas di mana fakta habis dan opini mulai. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana membuat guidelines yang dapat secara tegas membatasi habisnya fakta dan dimulainya opini. Inilah soal besar karena menyangkut desain, cara ,e-manage dan planning manajemen rubrik opini.

Permasalahan objektifitas dalam jurnalsitik selalu menjadi hal yang dipertanyakan, apalagi bagi kaum posmo. Menurut kaum posmo, hampir tidak mungkin ada planning bagi suatu surat kabar karena peristiwa begiu berbeda dan objektifitas sudah tidak ada karena objektivitas yang ada adalah objektifitas menurut persepsi, dari mana melihat suatu permasalahan.

Anti-plan planning suatu plan bereaksi terhadap terhadap tuntutan, yaitu bahwa dalam jurnalistik akan selalu terdapat dua hal, sesuatu yang telah terjadwalkan (dan semua orang tahu) serta sesuatu yang tiba-tiba terjadi dan surat kabar harus memberikan reaksi. Oleh karenanya seorang redaktur opini harus menghidupkan anti-plan planning ini. seorang redaktur opini harus mampu membuat apa yang perlu diangkat menjadi pembahasan dari sebuah peristiwa tiba-tiba dengan persiapan yang baik.

Karena ditarik oleh dua aliran besar jurnalsitik secara teoritis dan secara praktis, lalu apakah penulis yang ada sudah memberikan opini yang objektif? Dalam kondisi ini ia disiksa dengan objective journalism dan pandangan opini harus objektif. Inilah siksaan kedua. Oleh karena itu harus ada siksaan ketiga, yaitu dengan plan yang berupa anti-plan planning, plan yang bersifat fleksibel.

6. Sejumlah Tip dalam Menghadapi Artikel Opini

Prinsip Penyuntingan

Penyuntingan (editng) pada naskah opini pada dasarnya sama dengan pada naskah biasa, kecuali pada naskah opini terdapat hak orang lain. Jangan pernah malu untuk berkonsultasi dengan orang yang lebih tahu, tentang apa saja. Seorang redaktur opini perlu tahu banyak hal, tetapi tidak terlalu rinci. Di dalam diri seorang redaktur bergabung cara kerja intelektual dengan keterampilan kerja seorang “tukang”. Di tangan redaktur opini, teregang keputusan-keputusan yang sangat menentukan bagi orang banyak.

Persoalan lain yang dihadapi redaktur opini adalah kenyataan bahwa para penyumbang tulisan adalah orang yang tidak terlatih menulis. Disinilah redaktur berfungsi membuat tulisan menjadi jernih, teratur dan mudah dipahami.

Selain ada yang ‘sunah’ untuk dikerjakan ada juga yang ‘haram’ untuk dilakukan dalam penyuntingan. Perombakan struktur dan rewrite tidak perlu dilakukan. Penggantian lead harus dinegosiasikan dengan pengarang. Penambahan isu- sebagaimana penambahan kata-kata atau kalimat – dilarang dalam penyuntingan ini, kecuali penambahan yang disebabkan oleh pemindahan lead, maupun oleh pemotongan alinea yang panjang. Hal yang menyangkut data, bila tidak benar, dan bukan masalah opini penulis, redaktur wajib membetulkannya.

Proses Penyuntingan

Pertama, redaktur harus memeriksa gagasan artikel. Apakah gagasan tersebut sudah relevan dengan massanya. Kedua, orisinalitas karya. Ketiga, fakta yang mendukung tulisan perlu dipertanyakan cukup kuat atau tidak. Keempat, akurasi perlu dipertimbangkan. Hal-hal berikut juga perlu diperhatikan oleh seorang redaktur dalam menjalankan tugas penyuntingan:

1. Bahasa

2. Kebertele-telean

3. Ritme

4. Gaya

5. Judul

6. Anak Judul (Judul Paragraf)

7. Lead

8. Struktur Artikel

9. Paragraf

10. Jembatan

11. Topic Sentence

12. Detail

7. Pusat-pusat Pemikiran di Indonesia dan Para Pembentuk Opini Publik

Makna Opini dalam Masyarakat

Salah satu upaya didirikannya surat kabar adalah sebagai wadah aspirasi dan pemikiran masyarakat yang dapat berpengaruh terhadap opini masyarakat. Tapi opini seperti apakah yang ingin dibangun oleh pers, oleh siapa, dan apa tujuannya? Ideologi dan pemerintahan berkuasa pada suatu negara sangat berpengaruh pada lembaga pers yang hidup di dalamnnya. Seperti pada pemerintahan totaliter yang kebebasan sangat dikekang, pers hanya menjadi alat negara untuk menanamkan doktrin-doktrin kaum penguasa kepada rakyatnya. Di sini pers bukan menjadi pembentuk opini publik melainkan sebagai sarana untuk menyebarluaskan opini tunggal milik rezim berkuasa. Berbeda dengan pemerintahan di negara yang menganut sistem libertarian, dimana pers dikontrol penuh oleh kepentingan pasar atau kepentingan pemasaran para pemilik modal, pembentukan opini publik pun tidak akan terproses secara sempurna. Pers libertarian yang dikontrol penuh oleh para pemilik modal dan berfungsi sebagai sarana penyiar gagasan-gagasan para pemodal.

Di Indonesia yang konon menganut paham pers yang bebas dan bertanggung jawab, misi pers -setidaknya menurut teorinya- tentulah tidak akan berpihak pada kepentingan tolitarian atau libertarian saja. Pers yang bebas dan bertanggung jawab harus mampu mejaga keseimbangan yang dinamik, kebebasan demi terpenuhinya rasa sejahtera setiap warga masyarakat.ada sejumlah fungsi yang dapat disenarai sebagai fungsi yang kiranya dapat dilaksanalan oleh pers yang berpaham bebas dan bertanggung jawab. Yang pertama adalah pemberian layanan informasi. Kedua, adalah fungsi untuk menyelenggarakan forum yang membukakan kesempatan pada khalayak untuk bertukar pikiran. Yang ketiga adalah fungsi untuk ikut mengawal tegak dan dihormatinya hak-hak individu setiap warga bangsa, khususnya mereka yang berposisi lemah dalam masyarakat dari setiap bentuk kesewenang-wenangan.

Ada beberapa sumber pemikiran denhgan berbagai tipe pengaju opininya, yaitu adalah pusat-pusat pemikirn berstatus kelembagaan pemerintahan, organisasi-organisasi politik dan kemasyarakatan, dan sejumlah lembaga kajian dan penelitian. Lebih potensial untuk memasok opini guna diperbincangkan di forum diskusi yang terbuka di halaman opini media pers adalah gagasan-gagasan yang disiapkan dan disajikan dalam bentuk tulisan oleh para pekerja lembaga penelitian, khususnya yang berafiliasi di lembaga akademik atau lembaga swadaya yang tidak dikontrol langsung oleh pemerintah. Mereka inilah yang acapkali merasa lebih bebas untuk bersuara secara lebih vokal guna menyuarakan secara proaktif gagasan yang berkembang di sektor-sektor informal-nonpemerintah.

Dari uraian ringkas tersebut dalam upaya menemukan opini-opini bermutu yang layak sebar untuk menggerakkan diskusi umum dalam masyarakat lewat pers (yang bebas bertanggung jawab), sadarlah kita bahwa secara substantif opini-opini itu tidak mengendon di lembaga-lembaga yang sering kita kenal sebagai pusat-pusat pemikiran. Pencarian opini layak sebar yang benar-benar memantulkan wacana-wacana yang tengah riuh di tengah masyarakat –dan pers pun di sini mungkin hanya berfungsi sebagai amplifier apa yang tengah terjadi- tentulah tak cukup kalau hanya dimaksudkan untuk mengidentifikasi pusat-pusat pemikiran yang bersosok institusional itu saja. Lebih lanjut dari itu, pencarian dan pengenalan harus dilakukan dengan lebih rajin untuk menemukan pusat-pusat pemikiran dan pembentukan opini yang lebih bersosok manusia individual.

2. Mempertimbangkan Seorang Redaktur Opini

Ada tiga hal yang dibutuhkan seorang redaktur opini:

  1. Penguasaan terhadap bidang yang mau digarap. Penguasaan itu pertama –paling abstrak- adalah mengetahui isi dalam teori-teori pembahasan yang ada.
  2. Mengetahui isu/peta pemikiran dari isu yang mau dibahas.
  3. Mengidentifikasi sumber dari peta pemikiran itu.

Jadi redaktur opini harus mengetahui –meski tak detil- peta bumi politik secara lebih menyeluruh. Oleh karena itu redaktur opini yang ideal tidak bisa hanya redaktur umum. Karena itu pula, di sini akan disorot masalah-maslah pembangunan. Maka itu seorang redajtor opini harus:

  1. Tahu tentang teori-teori pembangunan
  2. Tahu tentang isu-isu pembangunan
  3. Tahu tentang orang yang bicara dan apa. Supaya bisa dilihat apa yang belum dibicarakan

8. Sumber Ide bagi Penulisan Artikel Opini

Suatu Kerangka Besar

Terdapat tiga isu besar dalam rumusan tentang agenda politik yang disusun dua puluh tiga tahun lalu di Rawamangun oleh para peneliti ilmu sosial, yaitu:

  1. Militer dan Politik
  2. Islam dan Politik
  3. Bisnis dan Politik

Selain masalah-masalah di atas ada hal lain lagi yang dapat dipehatikan yaitu:

  1. Persoalan dikotomi Sipil-Militer
  2. Lemahnya civil sosiety
  3. Masalah HAM
  4. Persoalan ekonomi yang tidak mengenal transparansi maupun accountability di Indonesia ini dapat menjadi bom waktu yang mempunyai implikasi ppolitik dahsyat. Kalau tidak disinggung hal itu, pembicaraan tidak akan memuaskan.
  5. jika pada tahun 1950-an seperti diuraikan di atas, bahwa militer masuk ke dalam sistem politik Indonesia, maka periode 1990-an ini ditandai dengan Islam yang masuk ke dalam politik Indonesia dengan cukup jelas.

9. Pedoman Umum Mengelola Rubrik Opini dari Sejumlah Redaktur

1. Mengategorikan Ragam Artikel Opini

2. Kriteria Layak Muat

  1. Aktualitas news peg
  2. Ide yang orisinal
  3. Penulis kompeten di bidangnya
  4. Logika penulisan rutut
  5. Gaya penulisan populer
  6. Tidak vulgar
  7. Tidak menyerang pribadi seseorang
  8. Tidak mengandung SARA

3. Manajemen Perencanaan

Dalam merancang rubrik opini, redaktur hendaknya melakukan penyusunan artikel opini yang akan dimuat, baik untuk peristiwa teragenda (antisipatif) maupun tak teragenda (yang bersifat (anti-plan planning)

4. Penyuntingan Artikel

  1. mempertimbangkan isi dan aspek teknis penyajian.
  2. Menghubungi penulis untuk hal-hal yang perlu dikonsultasikan.
  3. Membuat prakiraan panjang naskah.
  4. Menyiapkan cadangan naskah untuk mengantisipasi perkembangan/ perubahan isu lebih lanjut.

Advertisements