“Bangsa itu adalah suatu persatuan perangai jang terdjadi dari persatuan hal-ichwal yang telah didjalani oleh rakjat itu. Nasionalisme itu adalah suatu itikad; suatu keinsjafan rakjat, bahwa rakjat itu ada satu golongan, satu bangsa ! “ (Otto Bauer, dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”, Soekarno)

“Tidak adalah halangannja Nasionalis itu dalam geraknja, bekerdja bersama-sama dengan Islamis dan Marxis. Nasionalis jang sedjati, jang tjintanya pada tanah-air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwajat, dan bukan, semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka, – nasionalis jang bukan chauvinis, tak boleh tidak, haruslah menolak segala faham pengtjualian jang sempit budi itu. (Soekarno – “Di Bawah Bendera Revolusi”)

Melihat sejarah perjuangan Indonesia tak pernah lepas dari apa yang disebut sebagai Nasionalisme. Mendengar kata Nasionalisme juga tidak bisa lepas dari tokoh nasionalisme itu sendiri, Bung Karno. Nasionalisme yang ‘diusung’ oleh mantan presiden pertama Indonesia, Presiden Soekarno, yang pada waktu itu berusaha menyatukan Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme (Nasakom) untuk menyatukan kekuatan melawan kapitalisme dan imperialisme penjajah.

Nasionalisme yang semakin hari semakin dimakan zaman, digerogoti oleh perkembangan zaman dan kebudayaan, telah sampai pada titik kronis di mana sudah sangat jarang sekali generasi muda memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap nasionalisme. Itu merupakan salah satu indikasi yang menyebabkan keadaan negara Indonesia yang semakin carut marut.

Globalisasi yang sekarang ini sudah mulai dijalankan di berbagai belahan dunia pernah disebutkan oleh Soekarno sebagai Neo-Imperialisme, Imperialisme yang dibungkus dengan label globalisasi. Penetrasi budaya yang terjadi di era globalisasi ini mempengaruhi pola pikir dan pola hidup hampir seluruh lapisan sosial yang ada di negara ini. Selain itu pengaruh asing juga membuat negara kita semakin kehilangan jati dirinya yaitu Pancasila. Pancasila sebagai falsafah negara telah ditinggalkan oleh negaranya. Pancasila hanya dijadikan wacana di sekolah-sekolah saat upacara bendera tanpa tahu apa arti, makna, dan penerapannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah Pancasila masih relevan, bisa diterapkan di era yang global ini? Mungkin bukan Pancasilanya yang salah, tapi manusia-manusia Indonesianya yang hidup sekarang ini yang terlena dengan tawaran-tawaran dari produk globalisasi.

Maka dari itu kita perlu mempelajari kembali apa itu yang disebut sebagai Pancasila? Dan salah satu caranya adalah mempelajari sejarahnya. Mempelajari sejarah sangat penting untuk koreksi ke depan. Tapi kita jangan juga terlalu percaya pada sejarah karena ada sejarah yang ditulis berdasar atas kekuasaan, kekuasaan yang dapat saja memutarbalikkan fakta sejarah. Maka kita harus memilah-milah mengetahui betul sumber-sumber yang patut dijadikan acuan sejarah.

Untuk mengetahui fakta sejarah sebenarnya maka diadakan wawancara dengan pelaku sejarah perjuangan kemerdekaan di wilayah Sumatera Utara, Muharram Suryanto yang akan membagikan sekelumit pengalaman perjuangan kepada Ahmad Denoan Rinaldi dan untuk membantu menemukan dan membangkitkan kembali makna nasionalisme yang hampir mati ditelan zaman. Lahir di Bojonegoro, 5 Mei 1931 dan dibesarkan di Rantauprapat, tempat ia melakukan perjuangan. Penganut paham Soekarnoisme ini sempat putus sekolah untuk terjun ke medan perang. Tapi dua tahun kemudian ia melanjutkan sekolahnya kembali. Berikut wawancara yang dilakukan di kediamannya yang asri.

Kenapa negara kita jadi kacau balau begini ?

Kalau menurut saya, oleh karena orang mengingkari pancasila. Pancasila itu tidak dijalankan sebagaimana mestinya.karena pancasila itu sendiri puncaknya kan Ketuhanan Yang Maha Esa, nah itu tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadikan masyarakat kita itu rancu dalam pengamalan nasionalisme sendiri.

Bagaimana dengan intervensi budaya asing?

Itu pasti ada. Kalau kita bicara nasionalisme, kita tidak bisa lepas dari ajaran Soekarno. Dia memberikan tiga Trisakti yaitu “Berdikari”, lantas berkebudayaan, dan…….aduh maklum sudah tua jadi mudah lupa. Jadi yang penting pelajari saja Trisakti yang diajarkan Soekarno. Itu mengenai kebudayaan. Tapi dalam Islam itu ada konteksnya. Ada satu filosofi yang mengatakan begini, pada zaman sebelum nabi Sulaiman itu ada pengadilan. Pengadilan yang memanggil seekor harimau yang dituduh membunuh, lalu dia bersumpah bahwa dia tidak melakukan itu dan kalau ia melakukan itu ia besedia dihukum pada abad kelimabelas Islam nanti. Di sana akan ada dengan apa yang disebut penetrasi kebudayaan. Anda sudah pernah membaca ‘Camkan Pancasila?, kalau belum berarti anda belum mengerti apa arti sesungguhnya nasionalisme. Anda tahu nation itu apa? Nation itu bangsa, bukan negara. Sedangkan negara itu state. Definisinya apa? Perkumpulan suatu individu-individu (masyarakat) yang memiliki latar belang dan tujuan yang sama serta diatur oleh Undang-undang. Nah dari situ kita bisa menggali arti nasionalisme yang terkait dengan butir-butir Pancasila, bagaimana caranya bernegara, berkebangsaan.

Kalau menurut anda matinya nilai-nilai Pancasila itu sendiri kenapa, apa dari kesadaran bangsa Indonesianya sendiri, atau penhgaruh dari luar?

Karena kita itu sudah menjadi materialistis. Kita mendewakan materi dan memburu harta. Tidak peduli dari mana harta itu datang. Kita lupa mengenai nilai-nilai luhur kemanusiaan itu sendiri. Semuanya diukur dari materi, orang dihormati karena mobilnya mewah, karena rumahnya banyak, dan sebagainya. Seperti di zaman Soeharto disebutkan bahwa kemajuan sudah sampai ke desa-desa. Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Kemajuan yang seperti disebutkan zaman Soeharto itu membuat orang desa kebanyakan memakai jeans dan jeans itu kan buatan Amerika. Lantas produk jasa kecantikan yang menawarkan perubahan fisik menjadi lebih baik yang membuat orang menjadi konsumtif itu merupakan dari penetrasi kebudayaan.

Jadi itu merupakan suatu kemunduran atau kemajuan?

Kalau dari nasionalisme itu jelas suatu kemunduran yang sangat jauh.

Berarti secara tidak langsung mengesankan bahwa globalisasi berdampak buruk pada nasionalisme itu sendiri!

Kalau mengenai globalisasi itu ada dua kubu sekarang, yang pro dan kontra. Tapi satu saja saya tanya mengenai globalisasi, kalau pom bensin di Indonesia boleh dikelola oleh orang luar bagaimana? Seperti yang sekarang sudah ada di Tangerang, Shell. Coba bagaimana? Anda mau kemana cari makan jika semua sektor kehidupan sudah dikuasai pihak asing? Pengacara luar bebas bekerja di sini. Maka ada pertentangan mengenai globalisasi, seperti di Amerika lain yang tidak setuju diadakannya globalisasi. Jadi globalisasi menurut Bung Karno disebut sebagai neoimperialisme, imperialisme baru. Jadi imperialisme yang dibungkus dengan istilah globalisasi. Itulah globalisasi. Tapi kalau dari segi nasionalisme sudah bertentangan karena nasionalisme mempunyai ciri-ciri khas. Iya kan? Maka tidak bisa disamakan jiwa kita dengan jiwa dengan orang cina, jiwa kita dengan jiwa orang Amerika, dan lainnya karena kita memiliki batasan cultural sendiri.

Kalau menurut anda, masih adakah nasionalisme sekarang?

Oh..masih. hanya generasi muda sekarang itu sudah terkikis nasionalismenya. Tapi tidak semua. Makanya ada pesan ‘jangan sekali sekali meninggalkan sejarah’ karena sejarah itu memberikan gambaran kepada kita apa yang telah kita perbuat sebagai bangsa. Jadi kalau kita meninggalkan, melupakan, tidak peduli pada sejarah itu sama saja seperti kita tidak mengenal siapa orang tua kita, mengapa saya ada. Sudah pernah membaca buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’? jadi kalau anda mau tahu dan paham arti nasionalisme, bacalah rujukan buku yang tepat Seperti buku yang berjudul ‘Camkan Pancasila’?

Hubungan nasionalisme dengan ideologi-ideologi lain yang pernah masuk ke Indonesia?

Nasionalisme itu kan milik suatu bangsa, Cuma untuk memperkaya wawasan ilmu dari luar itu kan tidak semuanya jelek. Bahkan terakhir ada studi yang mengatakan bahwa orang-orang komunis itu sendiri belum tentu ia mengerti marxisme dan marxisme itu bukan komunis. Itu adalah ilmu. Hanya, dimanipulasi oleh orang seperti Lenin contohnya. Marxisme itu menunjukkan bahwa dalam tatanan hidup sosial itu adanya pertentangn kelas antara si kaya dan si miskin oleh karena ketidaksesuaian system. System yang salah sebenarnya. Seperti yang terjadi di negara kita, systemnya yang salah, sehingga timpang antara si miskin dan si kaya. Kenapa? Karena Pancasila tidak dipakai. Pancasila itu kan antara lain membahas kerakyatan dan keadilan sosial, dan itu harus diterapkan. Tapi keadilan sosial itu kan tidak ada sekarang.

Kalau dihubungkan antara Pancasila dan demokrasi, masih relevan tidak?

Oh…Pancasila itu demokrasi kok. Kerakyatan itu kan demokrasi.

Tapi demokrasi itu membuat suatu pemerintahan seperti tidak berwibawa dihadapan rakyatnya!

Oh tidak juga. Itu makanya dalam demokrasi Pancasila ada yang namanya musyawarah mufakat yang diutamakan, bukan lima puluh tambah satu. Kalau limapuluh tambah satu belum tentu benar. Suara bisa dibeli kan? azas demokrasi liberalis kan seperti itu. sedangkan Pancasila tidak menginginkan itu. pancasila mengutamakan musyawarah mufakat. Jadi seperti pepatah dari Padang yaitu ‘bulat kata karena sependapat bulat air karena jatuhnya dari tugu air.

Mengapa orang Filipina lebih menghargai demokrasi dibanding Indonesia ?

Karena orang Filipina terakhir dijajah oleh Amerika. Amerika negara kaya. Amerika punya tambang, perkebunan bagus, dan sebagainya. Orang Indonesia dijajah Belanda. Belanda itu negerinya toidak punya sumber alam. Jadi mereka mengeruk semua sumber daya alam yang ada di bumi Indonesia. Sama halnya dengan Jepang, hanya yang satu itu fasis, pemaksaan, dan sebagainya. Kekerasan-kekerasan diterapkan.

Suasana saat anda berjuang di daerah anda?

Zaman penjajahan umumnya di daerah kami, di Sumatera Utara, perkebunan. Jadi perkebunan itu dihuni oleh orang-orang kontrak yang berasal dari Jawa. Itu memang diperas tenaganya dengan gaji sebesar Rp 7,5,- perbulan ditambah gula, ikan asin, minyak tanah. Itu menggunakan system kontrak yang umumnya per tiga tahun. Makanya Belanda juga supaya orang Jawa yang kontrak di sana betah, dia buka lapangan perjudian supaya orang kontrak ini berjudi. Dengan berjudi uang yang mereka pertaruhkan pasti habis dan mau tidak mau mereka tidak pulang.

Apakah ada perlawanan dari ‘orang kontrak’ tersebut terhadap pemerintahan Belanda?

Tidak. Mengapa? Karena memang ‘orang kontrak’ ini butuh penghidupan sedangkan di Jawa kan sudah sempit lahan untuk mencari sumber penghidupan. Maka dibuat oleh Belanda lapangan pekerjaan dengan membawa ke Sumatera Utara sebagai pekerja perkebunan. Oh iya! Mengenai perlawanan, itu ada satu dua perlawanan yang dikoordinir tapi tidak secara terang-terangan karena dulu ada yang namanya PID (Polici Indichting Diens). PID itu mengawasi organisasi-organisasi masyarakat seperti Muhammadiah. Kalau ada orang Muhammadiah yang memberika pidato atau tabligh yang bernada keras terhadap Belanda, itu pasti ditangkap. Dalam PID itu yang dipakai adalah orang-orang kita juga. Sebenarnya tidak hanya di PID, tapi juga di organisasi tentara Belanda,KNIL.

Mengapa tidak diadakan perlawanan secara terbuka?

Perlawanan secara terbuka itu kalau salah persepsi kita disangka membela PKI. Padahal yang berani memberontak adalah PKI pada saat itu, tahun 1926. PKI memberontak melawan Belanda, akibatnya banyak yang dihukum gantung. Terutama timbulnya di Sawahlunto. Nah, kenapa Bung Karno tidak mau membubarkan PKI dan RIS? Karena Bung Karno berpandangan yang dulu melawan Belanda adalah orang-orang PKI yang digiring, dibuang ke Boven Digul dan sebagainya. Tapi PKI yang dulu itu asalnya dari Syarikat Islam. Oleh karena tidak ada satu wadah yang militant, mereka yaitu Alimin,dan Muso baru datang dari luar negeri termasuk Tan Malaka mereka mendirikan itu.

Kalau mengenai PKI yang melawan Belanda secara terang-terangan, itu mungkin memang karena mereka sudah bertentangan dari ideologinya!

Itu memang. Itu jelas. Tapi semua persoalan itu bertumpu pada keailan. Kalau keadilan itu ada, tidak akan ada pertentangan sosial. Apa sebetulnya definisi keadilan? Keadilan itu segalanya harus diletakkan proporsional. Kalau semua diletakkan proporsional, kata Plato, tidak akan ada pertentangan kelas. Cuma kalau perbedaannya Marhaenisme dengan Marxisme, Marxisme itu menganggap sama rata sama rasa, sedangkan Marhaenisme sama rasa sama bahagia. Artinya, kalau Marxisme itu memang mempertentangkan antara kelas atas dan kelas bawah agar pemimpin mendapatkan tempatnya sebagai pemimpin. Itu yang dimanipulasi oleh Lenin dan kawan-kawan. Jadi kalau sama rata sama rasa kan tidak mungkin, hanya jaga agar sistemnya jangan keadilan itu timpang, jangan sampai proporsional itu melenceng. Kalau Marhaenisme, sama rasa sama bahagia. Maksudnya, kalau kita jadi tukang sapu kita bisa makan pakai teri, tahu, nasi tidak kekurangan, seminggu sekali bisa makan ayam, membelikan pakaian anak walaupun tidak mahal Kalau kita pekerja bisa makan setiap hari itu sudah merasa bahagia. Jadi ikut merasakan dan ikut bahagia.

Tapi kenapa yang matinya malah marhaenisme?

Ya itu karena di lawan oleh imperialisme. Patrisi Mumba anda tahu? Dia itu pejuang Afrika Selatan sebelum Nelson Mandela. Satu angkatan dengan Bung Karno, Bhuto. Mereka semua mati dibunuh. Mereka yang ingin memulangkan harkat martabat sosialisme yang disesuaikan dengan keadaan tanah airnya. Tapi oleh Imperialisme? Ya itulah kerjaannya CIA. Dibuat sedemikian rupa, mereka dibunuh. Bhuto dibunuh, Bung Karno diasingkan dan mati tanpa diadili oleh Soeharto. Nah itu semua kaitannya antara sosialisme dengan imperialisme. Makanya nasionalisme itu tidak semudah menggambarkannya. Harus digali dan betul-betul diajarkan . sebenarnya itu semua kan tertuang dalam Pancasila sendiri. Itu nasionalisme yang benar. Tidak ada lagi permusuhan antar agama, suku. Coba anda bayangkan bagaimana Bung Karno dapat menyatukan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dapat berbahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. India yang sampai sekarang merdeka belum dapat menyatukan bahasanya, sehingga terjadi terus perang suku.

Jadi kesimpulannya?

Kalau kalian mau memantapkan nasionalisme, bacalah dan mengerti baik-baik Pancasila. Camkan Itu! Ini bukan suruhan tapi anjuran karena ini ilmiah dan bukan dogmatis. Sulahkan analisa dan keluarkan atau tanyakan hal-hal yang anda mau diskusikan.