Siang itu sekitar pukul dua belasan. Panas tuan matahari menghujam bumi dengan tegasnya. Panas mentari sama halnya dengan keadaan di Pengadilan Negeri kelas 1A Bandung yang saya kunjungi waktu itu, Rabu 28 November 2007. Setibanya di Pengadilan Jalan R.E. Martadinata itu saya disambut oleh pria berseragam oranye yang selalu mengalungkan pluit di lehernya. Yah, ia seorang tukang parkir.

“Mau sidang ‘A?” Tanya tukang parkir itu. “Ngga. Cuma mau liat-liat,” balas saya sambil melihat mimik si tukang parkir yang keheranan. Mungkin di benaknya berpikir bahwa saya kurang kerjaan. Kunjungan saya ke Pengadilan Negeri itu saya lakukan bukan untuk menjalani sidang untuk menjadi saksi atau terdakwa, tapi untuk memenuhi tugas mata kuliah Reportase, membuat pelaporan dalam bentuk deskripsi atas hasil kunjungan mahasiswa ke Pengadilan.

Lahan parkir untuk motor di luar areal Pengadilan, tepatnya di pinggir jalan, sudah hampir terisi penuh. Beruntung masih kebagian tempat untuk parkir. Setelah memarkirkan motor saya langsung menuju gedung pengadilan. Awalnya saya sempat bingung memikirkan saya masuk lewat mana. Masuk ke gedung yang besar atau bangunan yang lebih kecil di samping gedung besar itu?

Akhirnya saya memilih bangunan yang lebih kecil itu karena banya orang yang keluar masuk bangunan itu. Setelah saya masuki ternyata itu adalah ruang tunggu persidangan. Ruang tunggu tersebut terdapat akses untuk masuk ke ruang sidang IV di sebelah kanan pintu masuk dan ruang sidang V di sebelah kiri pintu masuk. Ruang tunggu itu memiliki lebar sekitar tiga per empat panjang lapangan bulu tangkis dan panjang satu setengah kali lapangan bulu tangkis. Terdapat beberapa kursi kayu yang memanjang di ruangan itu. Ada juga gantungan bingkai di dinding yang isinya mengenai tata tertib pengunjung di pengadilan. Selain itu juga terdapat bingkai pengumuman yang isinya skema penanganan kasus. Sepertinya, setiap orang yang terlibat dalam persidangan harus berpenampilan rapi karena di ruangan itu juga terdapat cermin seukuran badan yang di pojok kanan atas terdapat kertas tempel yang bertuliskan “Rapihkanlah penampilan anda”.

Setelah mengamati ruangan itu, saya beranjak untuk masuk ke ruang sidang V yang bernama ruang sidang Nakula. Di sana sedang berlangsung sidang. Namun orang yang ada di runag sidang tersebut, selain seorang hakim ketua, dua orang hakim anggota, dan seorang penuntut umum, sangat sedikit. Saya penasaran dengan kasus yang diperkarakan. Maka saya mencoba bertanya pada pengunjung lain. Ketika saya bertanya kepada ibu berjilbab, dia juga tidak mengetahui perkara apa yang sedang disidangkan. Saya berusaha membangun obrolan dengannya, namun nampaknya ia sedang gelisah dan terburu-buru. Setelah ditanya lebih lanjut ternyata ia kebingungan mencari ruang sidang yang memperkarakan kasus saudaranya. Ia harus hadir dalam sidang itu karena ia adalah saksi dalam kasus itu. Obrolan pun terhenti setelah ia beranjak untuk mencari ruangan lain. Saya pun beranjak ke bagian gedung lainnya.

Di ruang Sadewa, yaitu ruang sidang IV, kosong. Tidak ada kegiatan persidangan di sana. Saya pun beranjak masuk lebih dalam. Terdapat pintu lorong di sebelah kanan pintu masuk ruang Sadewa untuk masuk ke dalam. Setelah mengikuti arah lorong itu, saya menemukan terdapat lapangan bulutangkis dalam ruangan yang berada di tengah-tengah gedung. Di sekitarnya terdapat beberapa ruang sidang yang sedang penuh sesak, diisi oleh orang-orang yang sedang berkepentingan menjalani sidang. Ada yang sebagai saksi, keluarga terdakwa, ada juga yang hanya nimbrung menonton jalannya persidangan. Saya tahu bahwa terdapat juga beberapa yang hanya menonton karena ketika saya tanya tentang kasus yang sedang disidangkan ia menjawab tidak tahu. Setelah ditanya ternyata dia hanya menonton saja. Mungkin ia mengantar kerabatnya yang sedang berkepentingan dalam persidangan tapi bukan di ruangan itu persidangannya.

Pada bagian ujung sebelah kanan area pengadilan itu, terdapat dua ruangan yang diteralis berwarna hijau. Di ruangan mirip kerangkeng itu dipenuhi banyak orang. Laki-laki dan perempuan disatukan. Di luar teralis terdapat kerabat yang sedang berbicara dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Entah karena apa mereka di dalam sana. Tadi saya berniat untuk bertanya-tanya dengan petugas berseragam yang ada di pengadilan. Namun nampaknya mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Jalannya cepat seperti diburu sesuatu. Atau jika ada pegawai yang berdiri diam, tapi ia sedang melakukan pembicaraan serius dengan seseorang. Terlihat dari ekspresi wajahnya. Entah dengan siapa. Di sekitaran lapangan bulu tangkis dalam ruanagn itu juga terdapat ruang tunggu bagi wartawan. Namun sayangnya ruangan itu kosong pada saat itu jadi saya tidak bisa melakukan pembicaraan dengan para wartawan yang mencari berita hukum di pengadilan itu. Ada jug ataman yang mirip dengan lapangan golf mini dengan lubang untuk memasukkan bola golf di tengahnya. Entah untuk apa taman mirip lapangan golf itu.

Wah, ramai sekali pengadilan siang itu. Suasananya panas. Panas dalam arti sesungguhnya juga dalam arti kiasan. Suasananya panas mungkin juga karena emosi yang keluar ketika orang-orang itu melakukan persidangan. Suasananya juga mirip seperti pasar yang identik dengan keramaian dan transaksi jual beli. Terdapat tukang koran yang berjualan keliling, pedagang minuman. Mungkin juga terdapat jual beli hukum yang dilakukan oleh aparat hukum di sana dengan kliennya. Kebenaran diukur dengan sejumlah uang. Mungkin saja.