catatan calon wartawan

mencari, merekam, mengolah, dan memublikasikan potongan realitas yang dialami denoan, calon wartawan

Saya Diancam Bebas

with one comment

Kebebasan datang begitu tiba-tiba. Sekonyong-konyong…seketika. Berita kebebasan itu membuat saya terhenyak. Memukul saya telak. Banyak orang mendambakan kebebasan. Kebebasan yang melegakan. Tapi bagi saya kebebasan, merupakan ancaman. Saya diancaman bebas. Bebas dari tuntutan ikatan. Apapun ikatan. Ikatan keduniawian. Ternyata saya masih butuh ikatan. Apapun ikatan. Ikatan keduniawian.

Saya masih lemah. Tidak seperti manusia super yang bebas dari Tuhan. Manusia lemah. Manusia super. Salut untuk manusia super karena keberanian. Salut juga untuk manusia lemah karena telah berusaha hidup sampai akhir dan karena kerendahatian.

Ancaman kebebasan datang membawa awan. Awan mendung mengandung janin hujan. Hujan mulai rintik perlahan. Hingga akhirnya tak bisa ditahan. Hujan. Hujan. Hujan. Hujan reda,pulih duka. meretas luka.

Bebas tinggal kata. Tanpa makna. Saya tidak memilih bebas. Saya butuh keterikatan. Tubuh inipun terikat. Terikat dengan sebuah norma alam. Saya bebas nanti. Setelah raga tak bisa melanjutkan usia.

Bebas hanya di angkasa. Di bumi kita berusaha. Di bumi kita terpenjara. Terpenjara norma. Penjara dunia.

Manusia bebas hanya ada di angkasa, ketika manusia tutup usia. Maka saya memilih penjara, saya memilih dunia, saya memilih norma, saya memilih Dia.

November 2008

Written by denoan

April 27, 2009 pada 1:51 pm

Ditulis dalam Wadah Celoteh

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Mister Deno di Bandung,

    Saya juga pernah di ancam bebas. Kala itu siang bolong. Dihadapan saya ada seraut wajah terlihat sangat sulit karena menahan marah, menahan kecewa, menahan semua hal-hal yang jika ditahan akan menimbulkan luka, dendam atau airmata.
    Saya pun sadar bahwa saya lebih suka terpenjara, namun tidak memilih terpenjara dengan siapa. Saya pun memilih dia. Sama seperti anda.
    Dia, cuma dia, bukan siapa saja yang ingin terpenjara dengan saya.
    Saya terpenjara dua dunia. Dunia norma dan dunia perempuan yang masih disetir patriaki. Yang kemungkinan jika saya keluar justru saya akan terbunuh dibanding saya dipenjara. Membuat saya berpikir, jika saya bebas, saya ingin bebas dalam samudra dan lautan biru dan abu…Bebas sebenar-benarnya bebas…

    Mengertikah anda Bung Deno? Apa kabar anda siang ini?

    atsukuchi

    Oktober 21, 2009 at 8:07 am


Tinggalkan Balasan